Konsep Strategi Belajar Mengajar (SBM)
Pengertian SBM
Strategi belajar-mengajar adalah cara-cara yang dipilih untuk menyampaikan materi pelajaran dalam lingkungan pengajaran tertentu, yang meliputi sifat, lingkup dan urutan kegiatan yang dapat memberikan pengalaman belajar kepada siswa (Gerlach dan Ely). Strategi belajar-mengajar tidak hanya terbatas pada prosedur kegiatan, melainkan juga termasuk di dalamnya materi atau paket pengajarannya (Dick dan Carey). Strategi belajar-mengajar terdiri atas semua komponen materi pengajaran dan prosedur yang akan digunakan untuk membantu siswa mencapai tujuan pengajaran tertentu dengan kata lain strategi belajar-mengajar juga merupakan pemilihan jenis latihan tertentu yang cocok dengan tujuan yang akan dicapai (Gropper). Tiap tingkah laku yang harus dipelajari perlu dipraktekkan. Karena setiap materi dan tujuan pengajaran berbeda satu sama lain, maka jenis kegiatan yang harus dipraktekkan oleh siswa memerlukan persyaratan yang berbeda pula.
Menurut Gropper sesuai dengan Ely bahwa perlu adanya kaitan antara strategi belajar mengajar dengan tujuan pengajaran, agar diperoleh langkah-langkah kegiatan belajar-mengajar yang efektif dan efisien. Ia mengatakan bahwa strategi belajar-mengajar ialah suatu rencana untuk pencapaian tujuan. Strategi belajar-mengajar terdiri dari metode dan teknik (prosedur) yang akan menjamin siswa betul-betul akan mencapai tujuan, strategi lebih luas daripada metode atau teknik pengajaran.
Strategi belajar-mengajar adalah cara-cara yang dipilih untuk menyampaikan materi pelajaran dalam lingkungan pengajaran tertentu, yang meliputi sifat, lingkup dan urutan kegiatan yang dapat memberikan pengalaman belajar kepada siswa (Gerlach dan Ely). Strategi belajar-mengajar tidak hanya terbatas pada prosedur kegiatan, melainkan juga termasuk di dalamnya materi atau paket pengajarannya (Dick dan Carey). Strategi belajar-mengajar terdiri atas semua komponen materi pengajaran dan prosedur yang akan digunakan untuk membantu siswa mencapai tujuan pengajaran tertentu dengan kata lain strategi belajar-mengajar juga merupakan pemilihan jenis latihan tertentu yang cocok dengan tujuan yang akan dicapai (Gropper). Tiap tingkah laku yang harus dipelajari perlu dipraktekkan. Karena setiap materi dan tujuan pengajaran berbeda satu sama lain, maka jenis kegiatan yang harus dipraktekkan oleh siswa memerlukan persyaratan yang berbeda pula.
Menurut Gropper sesuai dengan Ely bahwa perlu adanya kaitan antara strategi belajar mengajar dengan tujuan pengajaran, agar diperoleh langkah-langkah kegiatan belajar-mengajar yang efektif dan efisien. Ia mengatakan bahwa strategi belajar-mengajar ialah suatu rencana untuk pencapaian tujuan. Strategi belajar-mengajar terdiri dari metode dan teknik (prosedur) yang akan menjamin siswa betul-betul akan mencapai tujuan, strategi lebih luas daripada metode atau teknik pengajaran.
Klasifikasi SBM
Klasifikasi strategi belajar-mengajar, berdasarkan bentuk dan pendekatan Expository dan Discovery/InquirY.
Dalam pembelajaran guru diharapkan mampu memilih model pembelajaran yang sesuai dengan materi yang diajarkan. Dimana dalam pemilihan Model pembelajaran meliputi pendekatan suatu model pembelajaran yang luas dan menyeluruh. Misalnya pada model pembelajaran berdasarkan masalah, kelompok-kelompok kecil siswa bekerja sama memecahkan suatu masalah yang telah disepakati oleh siswa dan guru. Ketika guru sedang menerapkan model pembelajaran tersebut, seringkali siswa menggunakan bermacam-macam keterampilan, prosedur pemecahan masalah dan berpikir kritis. Model pembelajaran berdasarkan masalah dilandasi oleh teori belajar konstruktivis. Pada model ini pembelajaran dimulai dengan menyajikan permasalahan nyata yang penyelesaiannya membutuhkan kerjasama diantara siswa-siswa. Dalam model pembelajaran ini guru memandu siswa menguraikan rencana pemecahan masalah menjadi tahap-tahap kegiatan; guru memberi contoh mengenai penggunaan keterampilan dan strategi yang dibutuhkan supaya tugas-tugas tersebut dapat diselesaikan. Guru menciptakan suasana kelas yang fleksibel dan berorientasi pada upaya penyelidikan oleh siswa.
Klasifikasi strategi belajar-mengajar, berdasarkan bentuk dan pendekatan Expository dan Discovery/InquirY.
“Exposition”
(ekspositorik) yang berarti guru hanya memberikan informasi yang berupa
teori, generalisasi, hukum atau dalil beserta bukti bukti yang
mendukung. Siswa hanya menerima saja informasi yang diberikan oleh guru.
Pengajaran telah diolah oleh guru sehingga siap disampaikan kepada
siswa, dan siswa diharapkan belajar dari informasi yang diterimanya itu,
disebut ekspositorik. Hampir tidak ada unsur discovery (penemuan).
Dalam suatu pengajaran, pada umumnya guru menggunakan dua kutub strategi
serta metode mengajar yang lebih dari dua macam, bahkan menggunakan
metode campuran.
Suatu
saat guru dapat menggunakan strategi ekspositorik dengan metode
ekspositorik juga. Begitu pula dengan discovery/inquiry. Sehingga suatu
ketika ekspositorik - discovery/inquiry dapat berfungsi sebagai strategi
belajar-mengajar, tetapi suatu ketika juga berfungsi sebagai metode
belajar-mengajar.
Guru
dapat memilih metode ceramah, ia hanya akan menyampaikan pesan
berturut-turut sampai pada pemecahan masalah/eksperimen bila guru ingin
banyak melibatkan siswa secara aktif. Strategi mana yang lebih dominan
digunakan oleh guru tampak pada contoh berikut:
Pada
Taman kanak-kanak, guru menjelaskan kepada anak-anak, aturan untuk
menyeberang jalan dengan menggunakan gambar untuk menunjukkan aturan :
Berdiri pada jalur penyeberangan, menanti lampu lintas sesuai dengan
urutan wama, dan sebagainya.
Dalam
contoh tersebut, guru menggunakan strategi ekspositorik. Ia
merigemukakan aturan umum dan mengharap anak-anak akan
mengikuti/mentaati aturan tersebut.
Dengan
menunjukkan sebuah media film yang berjudul “Pengamanan jalan menuju
sekolah guru ingin membantu siswa untuk merencanakan jalan yang terbaik
dan sekolah ke rumah masing-masing dan menetapkan peraturan untuk
perjalanan yang aman dari dan ke sekolah.
Dengan
film sebagai media tersebut, akan merupakan strategi ekspositori bila
direncanakan untuk menjelaskan kepada siswa tentang apa yang harus
mereka perbuat, mereka diharapkan menerima dan melaksanakan
informasi/penjelasan tersebut. Akan tetapi strategi itu dapat menjadi
discovery atau inquiry bila guru menyuruh anak-anak kecil itu
merencanakan sendiri jalan dari rumah masing masing. Strategi ini akan
menyebabkan anak berpikir untuk dapat menemukan jalan yang dianggap
terbaik bagi dirinya masing-masing. Tugas tersebut memungkinkan siswa
mengajukan pertanyaan pertanyaan sebelum mereka sampai pada
penemuan-penemuan yang dianggapnya terbaik. Mungkin mereka perlu menguji
cobakan penemuannya, kemungkinan mencari jalan lain kalau dianggap
kurang baik.
Dan
contoh sederhana tersebut dapat kita lihat bahwa suatu strategi yang
diterapkan guru, tidak selalu mutlak ekspositorik atau discovery. Guru
dapat mengkombinasikan berbagai metode yang dianggapnya paling efektif
untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
Discovery dan Inquiry :
Discovery
(penemuan) sering dipertukarkan pemakaiannya dengan inquiry
(penyelidikan). Discovery (penemuan) adalah proses mental dimana siswa
mengasimilasikan suatu konsep atau suatu prinsip. Proses mental
misalnya; mengamati, menjelaskan, mengelompokkan, membuat kesimpulan dan
sebagainya. Sedangkan konsep, misalnya; bundar, segi tiga, demokrasi,
energi dan sebagai. Prinsip misalnya “Setiap logam bila dipanaskan
memuai”
Inquiry,
merupakan perluasan dari discovery (discovery yang digunakan lebih
mendalam) Artinya, inquiry mengandung proses mental yang lebih tinggi
tingkatannya. Misalnya; merumuskan problema, merancang eksperi men,
melaksanakan eksperimen, melaksanakan eksperimen, mengumpulkan data,
menganalisis data, membuat kesimpulan, dan sebagainya.
Selanjutnya
Sund mengatakan bahwa penggunaan discovery dalam batas-batas tertentu
adalah baik untuk kelas-kelas rendah, sedangkan inquiry adalah baik
untuk siswa-siswa di kelas yang lebih tinggi. DR. J. Richard Suchman
mencoba mengalihkan kegiatan belajar-mengajar dari situasi yang
didominasi. guru ke situasi yang melibatkan siswa dalam proses mental
melalui tukar pendapat yang berwujud diskusi, seminar dan sebagainya.
Salah satu bentuknya disebut Guided Discovery Lesson, (pelajaran dengan
penemuan terpimpin) yang langkah-langkahnya sebagai berikut:
- Adanya problema yang akan dipecahkan, yang dinyatakan dengan pernyataan atau pertanyaan
- Jelas tingkat/kelasnya (dinyatakan dengan jelas tingkat siswa yang akan diberi pelajaran, misalnya SMP kelas III)
- Konsep atau prinsip yang harus ditemukan siswa melalui keglatan tersebut perlu ditulis dengan jelas.
- Alat/bahan perlu disediakan sesuai dengan kebutuhan siswa dalam melaksanakan kegiatan
- Diskusi sebagai pengarahan sebelum siswa melaksanakan kegiatan.
- Kegiatan metode penemuan oleh siswa berupa penyelidikan/percobaan untuk menemukan konsep-konsep atau prinsip-prinsip yang telah ditetapkan
- Proses berpikir kritis perlu dijelaskan untuk menunjukkan adanya mental operasional siswa, yang diharapkan dalam kegiatan.
- Perlu dikembangkan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat terbuka, yang mengarah pada kegiatan yang dilakukan siswa.
- Ada catatan guru yang meliputi penjelasan tentang hal-hal yang sulit dan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil terutama kalau penyelidikan mengalami kegagalan atau tak berjalan Sebagaimana mestinya.
- Menemukan masalah
- Pengumpulan data untuk memperoleh kejelasan
- Pengumpulan data untuk mengadakan percobaan
- Perumusan keterangan yang diperoleh
- Analisis proses inquiry.
Dalam pembelajaran guru diharapkan mampu memilih model pembelajaran yang sesuai dengan materi yang diajarkan. Dimana dalam pemilihan Model pembelajaran meliputi pendekatan suatu model pembelajaran yang luas dan menyeluruh. Misalnya pada model pembelajaran berdasarkan masalah, kelompok-kelompok kecil siswa bekerja sama memecahkan suatu masalah yang telah disepakati oleh siswa dan guru. Ketika guru sedang menerapkan model pembelajaran tersebut, seringkali siswa menggunakan bermacam-macam keterampilan, prosedur pemecahan masalah dan berpikir kritis. Model pembelajaran berdasarkan masalah dilandasi oleh teori belajar konstruktivis. Pada model ini pembelajaran dimulai dengan menyajikan permasalahan nyata yang penyelesaiannya membutuhkan kerjasama diantara siswa-siswa. Dalam model pembelajaran ini guru memandu siswa menguraikan rencana pemecahan masalah menjadi tahap-tahap kegiatan; guru memberi contoh mengenai penggunaan keterampilan dan strategi yang dibutuhkan supaya tugas-tugas tersebut dapat diselesaikan. Guru menciptakan suasana kelas yang fleksibel dan berorientasi pada upaya penyelidikan oleh siswa.
Model-model
pembelajaran dapat diklasifikasikan berdasarkan tujuan pembelajarannya,
sintaks (pola urutannya) dan sifat lingkungan belajarnya. Sebagai
contoh pengklasifikasian berdasarkan tujuan adalah pembelajaran
langsung, suatu model pembelajaran yang baik untuk membantu siswa
mempelajari keterampilan dasar seperti tabel perkalian atau untuk
topik-topik yang banyak berkaitan dengan penggunaan alat. Akan tetapi
ini tidak sesuai bila digunakan untuk mengajarkan konsep-konsep
matematika tingkat tinggi.
Sintaks
(pola urutan) dari suatu model pembelajaran adalah pola yang
menggambarkan urutan alur tahap-tahap keseluruhan yang pada umumnya
disertai dengan serangkaian kegiatan pembelajaran. Sintaks (pola urutan)
dari suatu model pembelajaran tertentu menunjukkan dengan jelas
kegiatan-kegiatan apa yang harus dilakukan oleh guru atau siswa. Sintaks
(pola urutan) dari bermacam-macam model pembelajaran memiliki
komponen-komponen yang sama. Contoh, setiap model pembelajaran diawali
dengan upaya menarik perhatian siswa dan memotivasi siswa agar terlibat
dalam proses pembelajaran. Setiap model pembelajaran diakhiri dengan
tahap menutup pelajaran, didalamnya meliputi kegiatan merangkum
pokok-pokok pelajaran yang dilakukan oleh siswa dengan bimbingan guru.
Tiap-tiap
model pembelajaran membutuhkan sistem pengelolaan dan lingkungan
belajar yang sedikit berbeda. Misalnya, model pembelajaran kooperatif
memerlukan lingkungan belajar yang fleksibel seperti tersedia meja dan
kursi yang mudah dipindahkan. Pada model pembelajaran diskusi para siswa
duduk dibangku yang disusun secara melingkar atau seperti tapal kuda.
Sedangkan model pembelajaran langsung siswa duduk berhadap-hadapan
dengan guru.
Pada
model pembelajaran kooperatif siswa perlu berkomunikasi satu sama lain,
sedangkan pada model pembelajaran langsung siswa harus tenang dan
memperhatikan guru.
Pemilihan
model dan metode pembelajaran menyangkut strategi dalam pembelajaran.
Strategi pembelajaran adalah perencanaan dan tindakan yang tepat dan
cermat mengenai kegiatan pembelajaran agar kompetensi dasar dan
indikator pembelajarannya dapat tercapai. Pembelajaran adalah upaya
menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan, potensi, minat,
bakat, dan kebutuhan peserta didik yang beragam agar terjadi interaksi
optimal antara guru dengan siswa serta antara siswa dengan siswa. Di
madrasah, tindakan pembelajaran ini dilakukan nara sumber (guru)
terhadap peserta didiknya (siswa). Jadi, pada prinsipnya strategi
pembelajaran sangat terkait dengan pemilihan model dan metode
pembelajaran yang dilakukan guru dalam menyampaikan materi bahan ajar
kepada para siswanya.
Pada
saat ini banyak dikembangkan model-model pembelajaran. Menurut
penemunya, model pembelajaran temuannya tersebut dipandang paling tepat
diantara model pembelajaran yang lain. Untuk menyikapi hal tersebut
diatas, maka perlu kita sepakati hal-hal sebagai berikut :
- Model dan metode apapun yang diterapkan, pemanfaatan alat peraga masih diperlukan dalam menjelaskan beberapa konsep belajar.
- Kita tidak perlu mendewakan salah satu model pembelajaran yang ada. Setiap model pembelajaran pasti memiliki kelemahan dan kekuatan.
- Kita dapat memilih salah satu model pembelajaran yang kita anggap sesuai dengan materi pembelajaran kita; dan jika perlu kita dapat menggabungkan beberapa model pembelajaran.
- Model apa pun yang kita terapkan, jika kita kurang menguasai meteri dan tidak disenangi para siswa, maka hasil pembelajaran menjadi tidak efektif.
- Oleh kerena itu komitmen kita adalah sebagai berikut :
- Kita perlu menguasai materi yang harus kita ajarkan, dapat mengajarkannya, dan terampil dalam menggunakan alat peraga.
- Kita berniat untuk memberikan yang kita punyai kepada para siswa dengan sepenuh hati, hangat, ramah, antusias, dan bertanggung jawab.
- Menjaga agar para siswa “mencintai” kita, menyenangi materi yang kta ajarkan, dengan tetap menjaga kredibilitas dan wibawa kita sebagai guru dapat mengembangkan model pembelajaran sendiri. Anggaplah kita sedang melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas.
- Model pembelajaran yang dapat diterapkan oleh para guru sangat beragam. Model pembelajaran adalah suatu pola atau langkah-langkah pembelajaran tertentu yang diterapkan agar tujuan atau kompetensi dari hasil belajar yang diharapkan akan cepat dapat di capai dengan lebih efektif dan efisien.
Hakikat, Ciri dan Komponen Belajar Mengajar
Hakikat Belajar Mengajar
Dalam kegiatan belajar mengajar, anak didik adalah sebagai subjek dan sebagai objek dari kegiatan pengajaran karena itu, inti proses pengajaran tidak lain adalah kegiatan belajar anak didik dalam mencapai suatu tujuan pengajaran. Tujuan pengajaran tentu saja akan dapat tercapai jika anak didik berusaha secara aktif untuk mencapinya. Keaktifan anak didik di sana tidak hanya dituntut dari segi fisik, tetapi pikiran dan mentalnya kurang aktif, maka kemungkinan besar tujuan pembelajaran tidak tercapai. Ini sama halnya anak didik tidak belajar, karena anak didik tidak merasakan perubahan di dalam dirinya.
Dalam kegiatan belajar mengajar, anak didik adalah sebagai subjek dan sebagai objek dari kegiatan pengajaran karena itu, inti proses pengajaran tidak lain adalah kegiatan belajar anak didik dalam mencapai suatu tujuan pengajaran. Tujuan pengajaran tentu saja akan dapat tercapai jika anak didik berusaha secara aktif untuk mencapinya. Keaktifan anak didik di sana tidak hanya dituntut dari segi fisik, tetapi pikiran dan mentalnya kurang aktif, maka kemungkinan besar tujuan pembelajaran tidak tercapai. Ini sama halnya anak didik tidak belajar, karena anak didik tidak merasakan perubahan di dalam dirinya.
Padahal
belajar pada hakikatnya adalah “Perubahan” yang terjadi di dalam diri
seseorang setelah berakhirnya melakukan aktivitas belajar. Walaupun pada
kenyataannya tidak semua perubahan termasuk kegiatan belajar. Misalnya,
perubahan fisik, mabuk, gila dan sebagainya. Akhirnya, bila hakikat
belajar adalah “perubahan”, maka hakikat belajar mengajar adalah proses
“perubahan” yang dilkakukan oleh guru.
Ciri-ciri Belajar Mengajar
Sebagai suatu proses perngaturan, kegiatan belajar mengajar tidak terlepas dari ciri-ciri tertentu, yang menurut Edi Suardi sebagai berikut:
Sebagai suatu proses perngaturan, kegiatan belajar mengajar tidak terlepas dari ciri-ciri tertentu, yang menurut Edi Suardi sebagai berikut:
- Belajar mengajar memiliki tujuan, yakni untuk membentuk anak didik dalam suatu perkembangan tertentu. Inilah yang dimaksud dengan kegiatan belajar mengajar itu sadar akan tujuan, dengan menempatkan anak didik sebagai pusat perhatian.
- Ada suatu proses (jalannya interaksi) yang direncanakan, di desain untuk mencapai secara optimal, maka dalam melakukan interaksi perlu ada prosedur, atau langkah-langkah sistematik dan relevan.
- Kegiatan belajar mengajar ditandai dengan satu penggarapan materi yang khusus. Dalam hal ini materi harus di desain sedemikian rupa, sehingga cocok untuk mencapai tujuan.
- Ditandai dengan aktivitas anak didik. Sebagai konsekuensi, bahwa anak didik merupakan syarat untuk bagi berlangsungnya kegiatan belajar mengajar.
- Dalam kegiatan belajar mengajar, guru berperan sebagai pembimbing. Dalam perannya sebagai pembimbing, guru harus berusaha menghidupkan dan memberi motivasi, agar terjadi proses interaksi yang kondusif.
- Dalam kegiatan belajar mengajar membutuhkan dispilin. Disiplin dalam kegiatan belajar mengajar ini diartikan sebagai suatu pola tingkah laku yang diatur sedemikian rupa menurut ketentuan yang sudah ditaati oleh pihak guru maupun anak didik dengan sadar.
- Ada batas waktu. Untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu dalam sistem berkelas (kelompok anak didik), batas waktu menjadi salah satu ciri yang tidak bisa ditingkatkan. Setiap tujuan akan diberi waktu tertentu, kapan tujuan itu sudah harus tercapai.
- Evaluasi. Dari seluruh kagiatan diatas, masalah evaluasi bagian penting yang tidak bisa diabaikan, setelah guru melakukan kegiatan belajar mengajar. Evaluasi harus guru lalkukan untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan pengajaran yang telah dilakukan.
Komponen-Komponen Belajar Mengajar
Sebagai suatu sistem tentu saja kegiatan belajar mengajar mengandung sejumlah komponen yang meliputi:
Tujuan. Tujuan
adalah suatu cita-cita yang ingin dicapai dari pelaksanaan suatu
kegiatan. Tidak ada suatu kegiatan yang diprogramkan tanpa tujuan,
karena hal itu adalah suatu hal yang tidak memiliki kepastian dalam
menentukan ke arah amana kagiatan itu akan di bawah. Akhirnya, guru
tidak bisa mengabaikan masalah perumusan tujuan bila ingin memprogramkan
pengajaran.
Bahan Pelajaran. Bahan
pelajaran adalah substansi yang akan disampaikan dalam proses belajar
mengajar. Tanpa bahan pelajaran proses belajar mengajar tidak akan
berjalan. Karena itu, guru yang akan mengajar pasti memiliki dan
menguasai bahan pelajaran yang akan disampaikannya pada anak didik. Ada
dua persoalan dalam penguasaan bahan pelajaran ini, yakni penguasaan
bahan pelajaran pokok dan bahan pelajaran pelengkap. Bahan pelajaran
pokok adalah bahan pelajaran yang menyangkut bidang studi yang dipegang
oleh guru sesuai dengan profesinya (disiplin keilmuannya). Sedangkan
bahan pelajaran pelengkap atau penunjang adalah bahan pelajaran yang
dapat membuka wawasan seorang guru agar dalam mengajar dapat menunjang
penyampaian bahan pelajaran pokok. Bahan penunjang ini biasanya bahan
yang terlepas dari dispilin keilmuan guru, tetapi dapat digunakan
sebagai penunjang dalam penyampaian bahan pelajaran pokok. Pemakaian
bahan pelajaran penunjang ini harus disesuaikan dengan bahan pelajaran
pokok yang dipegang agar dapat memberikan motivasi kepada sebagian besar
atau semua anak didik.
Kegiatan Belajar Mengajar. Kegiatan
belajar mengajar adalah inti kegiatan dalam pendidikan. Segala sesuatu
yang telah diprogramkam akan dilaksanakan dalam proses belajar mengajar.
Dalam kegiatan belajar mengajar akan melibatkan semua komponen
pengajaran, kegiatan belajar akan menentukan sejauh mana tujuan yang
telah ditetapkan dapat dicapai.
Dalam
kegiatan belajar mengajar, guru dan anak didik terlibat dalam sebuah
interaksi dengan bahan pelajaran sebagai mediumnya. Dalam interaksi itu
anak didiklah yang lebih aktif, bukan guru. Guru hanya berperan sebagai
motivator dan fasilitator.
Metode. Metode
adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan. Dalam kegiatan belajar mengajar, mereka diperlukan oleh guru
dan penggunaannya bervariasi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai
setelah pengajaran berakhir. Seorang guru tidak akan dapat melaksanakan
tugasnya bila dia tidak menguasai satu pun metode mengajar yang
dirumuskan dan dikemukakan para ahli psikologi dan pendidikan (Syaiful
Bahri Djamarah, 1991: 72).
Alat. Alat
adalah segala sesuatu yang dapat digunakan dalam rangka mencapai tujuan
pengajaran. Sebagai segala sesuatu yang dapat digunakan dalam mencapai
tujuan pengajaran, alat mempunyai fungsi, yaitu alat sebagai
perlengkapan, alat sebagai pembantu mempermudah usaha mencapai tujuan
dan alat sebagai tujuan (Dr. Ahmad D. Marimba, 1989: 51).
Sumber Pelajaran. Yang
dimaksud dengan sumber-sumber bahan dan belajar adalah sebagai sesuatu
yang dapat dipergunakan sebagai tempat dimana bahan pengajaran terdapat
atau asal untuk belajar seseorang (Drs. Udin Saripuddin Winataputra,
M.A. dan Drs. Rustana Ardiwinata, 1991: 165). Dengan demikian, sumber
belajar itu merupakan bahan/materi untuk menambah ilmu pengetahuan yang
mengandung hal-halbaru bagi si pelajar. Sebab pada hakikatnya belajar
adalah untuk mendapatkan hal-hal baru (perubahan).
Evaluasi. Istilah
evaluasi berasal dari bahasa Inggris, yaitu evaluation. Dalam buku
Essentials of Educational Evaluation karangan Edwin Wand dan Gerald W.
Brown. Dikatakan bahwa Evaluation refer to the act or prosess to
determining the value of something. Jadi, menurut Wind dan Brown,
evaluasi adalah suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai
dari sesuatu. Sesuai dengan pendapat di atas, maka menurut Wayan
Nurkancana dan P.P.N. Sumartana, (1983: 1) evaluasi pendidikan dapat
diartikan sebagai tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai
sebagai sesuatu dalam dunia pendidikan atau segala sesuatu yang ada
hubungannya dengan dunia pendidikan.
Berbeda
dengan pendapat tersebut, Ny. Drs. Roestiyah N.K. (1989: 85) mengatakan
bahwa evaluasi adalah kegiatan mengumpulkan data seluas-luasnya,
sedalam-dalamnya, yang bersangkutan dengan kapabilitas siswa guna
mengetahui sebab akibat dan hasil belajar siswa yang dapat mendorong dan
mengembangkan kemampuan belajar.
Berbagai Pendekatan Dalam Belajar Mengajar
Dalam
kegiatan belajar mengajar yang berlangsung telah terjadi interaksi yang
bertujuan. Guru dan anak didiklah yang menggerakkannya. Interaksi yang
bertujuan itu disebabkan gurulah yang memaknainya dengan menciptakan
lingkungan yang bernilai edukatif demi kepentingan anak didik dalam
belajar. Guru ingin memberikan layanan yang terbaik bagi anak didik,
dengan menyediakan lingkungan yang menyenangkan dan menggairahkan. Guru
berusaha menjadi pembimbing yang baik dengan peranan yang arif dan
bijaksana, sehingga tercipta hubungan dua arah yang harmonis antara guru
dengan anak didik.
Pendekatan Individual
Di kelas ada sekelompok anak didik. Mereka duduk di kursi masing-masing. Mereka berkelompok dari dua sampai lima orang. Di depan mereka ada meja untuk membaca dan menulis atau untuk meletakkan fasilitas belajar. Mereka belajar dengan gaya yang berbeda-beda. Perilaku mereka juga bermacam-macam. Cara mengemukakan pendapat, cara berpakaian, daya serap, tingkat kecerdasan dan sebagainya, selalu ada variasinya. Masing-masing anak didik memang mempunyai karakteristik tersendiri yang berbeda dari satu anak didik dengan anak didik lainnya.
Ketika
kegiatan belajar mengajar itu berproses, guru harus dengan ikhlas dalam
bersikap dan berbuat, serta mau memahami anak didiknya dengan segala
konsekuensinya. Semua kendala yang terjadi dan dapat menjadi penghambat
jalannya proses belajar mengajar, baik yang berpangkal dari perilaku
anak didik maupun yang bersumber dari luar anak didik, harus guru
hilangkan, dan bukan membiarkannya. Dan karena keberhasilan belajar
mengajar lebih banyak ditentukan oleh gurudalam mengelola kelas.
Dalam
mengajar, guru harus pandai menggunakan pendekatan secara arif dan
bijaksana, yang bisa merugikan anak didik. Pandangan guru terhadap anak
didik akan menentukan sikap dan perbuatan. Setiap guru tidak selalu
mempunyai pandangan yang sama dalam menilai anak didik. Hal ini akan
mempengaruhi pendekatan yang guru ambil dalam pengajaran.
Ada
beberapa pendekatan yang dianjurkan dalam pembicaraan ini dengan
harapan dapat membantu guru dalam memecahkan berbagai masalah dalam
kegiatan belajar mengajar. Demi jelasnya ikutilah uraian berikut.Pendekatan Individual
Di kelas ada sekelompok anak didik. Mereka duduk di kursi masing-masing. Mereka berkelompok dari dua sampai lima orang. Di depan mereka ada meja untuk membaca dan menulis atau untuk meletakkan fasilitas belajar. Mereka belajar dengan gaya yang berbeda-beda. Perilaku mereka juga bermacam-macam. Cara mengemukakan pendapat, cara berpakaian, daya serap, tingkat kecerdasan dan sebagainya, selalu ada variasinya. Masing-masing anak didik memang mempunyai karakteristik tersendiri yang berbeda dari satu anak didik dengan anak didik lainnya.
Perbedaan
individual anak didik tersebut memberika wawasan kepada guru bahwa
strategi pengajaran harus memperhatikan perbedaan anak didik pada aspek
individual ini.
Pada
kasus-kasus tertentu yang timbul dalam kegiatan belajar mengajar, dapat
diatasi oleh kegiatan individual. Misalnya, untuk menghentikan anak
didik yang suka biacara. Caranya dengan memisahkan/memindahkan salah
satu dari anak didik tersebut pada tempat yang terpisah dengan jarak
yang cukup jauh. Anak didik yang suka bicara di tempatkan pada kelompok
anak didik yang pendiam.
Pendekatan
individual mempunyai arti yang sangat penting bagi kepentingan
pengajaran. Pengelolaan kelas sangat memerlukan pendakatan individual
ini. Pemilihan metode tidak bisa begitu saja mengabaikan kegunaan
pendekatan individual, sehingga guru dalam melaksanakan tugasnya selalu
saja melakukan pendekatan individual terhadap anak didik di kelas.
Persoalan kesulitan belajar anak lebih mudah dipecahkan dengan
menggunakan pendekatan individual, walaupun suatu saat pendekatan
kelompok diperlukan.
Pendekatan Kelompok
Dalam
kegiatan belajar mengajar terkadang ada juga guru menggunakan
pendekatan lain, yakni pendekatan kelompok. Pendekatan kelompok memang
suatu waktu diperlukan dan dipergunakan untuk membina dan mengembangkan
sikap social anak didik. Hal ini disadari bahwa anak didik adalah
sejenis makhluk homo socius, yakni makhluk yang berkecenderungan untuk
hidup bersama.
Pendekatan Bervariasi
Dengan
pendekatan kelompok dapat ditumbuh kembangkan rasa social yang tinggi
pada diri setiap anak didik. Mereka dibina untuk mengendalikan rasa
egois yang ada dalam diri mereka masing-masing, sehingga terbina sikap
kesetiakawanan sosial timggi di kelas. Tentu saja sikap ini pada hal-hal
yang baik saj. Mereka sadar bahwa hidup ini saling ketergantungan,
seperti ekosistem pada mata rantai kehidupan pada semua mahkluk hidup di
dunia. Tidak ada makhluk hidup yang terus menerus berdiri sendiri tanpa
ketergantungan makhluk lain secara langsung atau tidak langsung,
disadari atau tidak, makhluk lain itu ikut ambil bagian dalam kehidupan
makhluk tertentu.
Anak
didik dibiasakan hidup bersama, bekerja sama dalam kelompok akan
menyadari bahwa dirinya akan ada kekurangan dan kelebihan. Yang
mempunyai kelebihan dengan ikhlas mau mempunyai mereka yang mempunyai
kekurangan. Sebaliknya mereka yang menpunyai kekurangan dengan rela hati
mau belajar dari mereka yang mempunyai kelebihan, tanpa ada rasa
minder. Persaingan yang positif pun terjadi di kelas dalam rangka untuk
mencapai prestasi belajar yang optimal. Inilah yang diharapkan, yakni
anak didik yang aktif, kreatif, dan mandiri.
Beberapa
pengarang mengatakan, keakraban atau kesatuan kelompok ditentukan oleh
tarikan-tarikan interpersonal, atau saling menyukai satu sama lain. Yang
mempunyai kecenderungan menamai keakraban sebagai tarikan kelompok
adalah merupakan satu-satunya factor yang menyebabkan kelompok bersatu.
- Keakraban kelompok ditentukan oleh beberapa factor, yaitu :
- Perasaan diterima atau disukai teman-teman
- Tarikan kelompok
- Teknik pengelompokkan oleh guru
- Partisipasi/ketelibatan dalam kelompok
- Penerimaan tujuan kelompok dan persetujuan dalam cara mencapainya struktur dan sifat-sifat kelompok.
Sedang sifat-sifat kelompok itu adalah:
- Suatu multi personalia dengan tingkat keakraban tertentu
- Suatu system interaksi
- Suatu organisasi atau struktur
- Merupakan suatu motif tertentu atau tujuan bersama
- Merupakan suatu kekuatan atau standar perilaku tertentu
- Pola perilaku dapat di observasi yang di sebut kepribadian.
Ketika
guru dihadapkan kepada permasalahan anak didik yang bernasalah anak
didik yang bervariasi. Setiap masalah dihadapi oleh anak didik tidak
selalu sama, terkadang ada perbedaan.
Dalam
belajar, anak didik mempunyai motivasi yang berbeda. Pada satu sisi
anak didik memiliki motivasi yang rendah tetapi pada saat lain anak
didik mempunyai motivasi yang tinggi. Dalam mengajar, guru yang hanya
menggunakan satu metode biasanya sukar menciptakan suasana kelas yang
kondusif dalam waktu yang relative lama. Bila terjadi perubahan suasana
kelas, sulit menormalkannya kembali. Ini sebagai tanda adanya gangguan
dalam proses belajar mengajar. Karena itu, dalam mengajar kebanyakan
guru menggunakan beberapa metode dan jarang sekali menggunakan satu
metode.
Dalam
kegiatan belajar mengajar, guru bisa saja membagi anak didik ke dalam
beberapa kelompok belajar. Tetapi dalam hal ini, terkadang diperlukan
juga pendapat dan kemauan anak didik. Permasalahan yang dihadapi oleh
setiap anak didik biasanya bervariasi, maka pendekatan yang digunakan
pun akan lebih tepat dengan pendekatan bervariasi pula. Misalnya, anak
didik yang tidak disiplin dan anak didik yang suka berbicara akan
berbeda pemecahannya dan menghendaki pendekatan yang berbeda-beda pula.
Perbedaan dalam teknik pemecahan kasus itulah dalam pembicaraan ini
didekati dengan “pendekatan bervariasi”.
Pendekatan Edukatif
Anak
didik yang melakukan kesalahan yakni membuat keributan di kelas ketika
guru sedang memberikan pelajaran, misalnya tidak tepat diberikan sangsi
hokum dengan cara memukul badannya hingga luka atau cedera, ini hukuman
yang tidak bernilai pendidikan. Guru telah melakukan pendekatan yang
salah. Guru telah menggunakan Teori Power, yakni teori kekuasaan, untuk
menundukkan orang lian. Dalam pendidikan, guru akan kurang arif dan
bijaksana bila menggunakan kekuasaan, karena hal itu bisa merugikan
pertumbuhan dan perkembangan kepribadian anak didik. Pendekatan yang
benar bagi guru adalah dengan melakukan pendekatan edukatif. Setiap
tindakan, sikap dan perbuatan yang guru lakukan harus bernilai
pendidikan, dengan tujuan untuk mendidik anak didik agar menghargai
norma hokum, norma susila, norma, moral, norma social dan norma agama.
Guru
yang hanya mengajar di kelas, belum dapat menjamin terbentuknya
kepribadian anak didik yang berakhlak mulia. Demikian juga halnya dengan
guru yang mengambil jarak dengan anak didik. Kerawanan hubungan guru
dengan anak didik kurang berjalan harmonis. Kerawanan hubungan ini
menjadi kendala bagi guru untuk melakukan pendekatan edukatif kepada
anak didik yang bermasalah.
Guru
yang jarang bergaul dengan anak didik dan tidak mau tahu dengan masalah
yang dirasakan anak didik, membuat anak didik apatis dan tertutup atas
apa yang dirasakannya. Sikap guru yang demikian kurang dibenarkan dalam
pendidikan, karena menyebabkan anak didik menjadi orang yang tertutup.
Pendekatan Pengalaman
Meskipun
pengalaman diperlukan dan selalu dicari selama hidup, namun tidak semua
pengalaman dapat bersifat mendidik, karena ada pengalaman yang tidak
bersifat mendidik. Suatu pengalaman dikatakan tidak mendidik, jika guru
tidak membawa anak kea rah tujuan pendidikan, akan tetapi menyelewengkan
dari tujuan itu, misalnya “mendidik anak menjadi pencopet”. Karena itu,
cirri-ciri pengalaman yang edukatif adalah berpusat pada suatu tujuan
yang berarti bagi anak, kontinu dengan kehidupan anak, interaktif dengan
lingkungan dan menambah integrasi anak. Demikianlah pendapat
Witherington.
Pembiasaan adalah alat pendidikan. Bagi anak yang masih kecil, pembiasaan ini sangat penting. Karena dengan pembiasaan itulah akhirnya suatu aktivitas akan menjadi milik anak kemudian hari. Pembiasaan yang baik akan membentuk sosok manusia yang berkepribadian yang baik pula. Sebaliknya pembiasaan yang buruk akan membentuk sosok manusia yang berkepribadian yang buruk pula. Begitulah biasanya yang terlihat dan yang terjadi pada diri seseorang. Karenanya, di dalam kehidupan bermasyarakat, kedua kepribadian yang bertentangan ini selalu ada dan tidak jarang terjadi konflik di antara mereka.
Betapa
tingginya nilai suatu pengalaman, maka disadari akan pentingnya
pengalaman itu bagi perkembsngsn jiwa anak. Sehingga dijadikanlah
pengalaman itu sebagai suatu pendekatan. Untuk pendidikan agam islam,
pendekatan pengalaman yaitu suatu pendekatan yang memberikan pengalaman
keagamaan kepada siswa dalam rangka penanaman nilai-nilai keagamaan.
Dengan pendekatan ini siswa diberi kesempatan unuk mendapatkan
pengalaman keagamaan, baik secara individu maupun kelompok.
Pendekatan PembiasaanPembiasaan adalah alat pendidikan. Bagi anak yang masih kecil, pembiasaan ini sangat penting. Karena dengan pembiasaan itulah akhirnya suatu aktivitas akan menjadi milik anak kemudian hari. Pembiasaan yang baik akan membentuk sosok manusia yang berkepribadian yang baik pula. Sebaliknya pembiasaan yang buruk akan membentuk sosok manusia yang berkepribadian yang buruk pula. Begitulah biasanya yang terlihat dan yang terjadi pada diri seseorang. Karenanya, di dalam kehidupan bermasyarakat, kedua kepribadian yang bertentangan ini selalu ada dan tidak jarang terjadi konflik di antara mereka.
Anak
kecil memang belum mempunyai kewajiban, tetapi dia sudah mempunyai hak,
seperti hak dipelihara, hak dilindungi, hak diberi makanan yang
bergizi, dna hak mendapatkan pendidikan. Salah satu cara untuk
memberikan haknya di bidang pendidikan adalah dengan cara memberikan
kebiasaan yang baik dalam kehidupan mereka. Berdasarkan pembiasaan
itulah anak terbiasa menurut dan taat kepada peraturan-peraturan yang
berlaku di masyarakat, setelah mendapatkan pendidikan kebiasaan yang
baik di rumah. Pengaruhnya juga terbawa ke sekolah. Menanamkan kebiasaan
yang baik memang tidak mudah, dan kadang-kadang makan waktu yang lama.
Bertolak
dari pendidikan kebiasaan itulah yang menyebabkan kebiasaan dijadikan
sebagai pendekatan pembiasaan. Pendidikan agama islam sangat penting
dalam hal ini, Karena dengan pendidikan pembiasaan itulah diharapkan
siswa senantiasa mengamalkan ajaran agamanya. Maka dari itu pendekatan
pembiasaan dimaksudkan di sini, yaitu dengan memberikan kesempatan
kepada siswa untuk senantiasa mengamalkan ajaran agamanya. Dengan
pendekatan ini siswa dibiasakan mengamalkan ajaran agama, baik secara
individual maupun secara kelompok dalam kehidupan sehari-hari.
Pendekatan Emosional
Emosi
adalah gejala kejiwaan yang ada di dalam diri seseorang. Emosi
berhubungan dengan masalah perasaan. Seseorang yang mempunyai perasaan
pasti dapat merasakan sesuatu, baik perasaan jasmaniah maupun perasaan
rohaniah. Perasaan rohaniah di dalamnya ada perasaan intelektual,
perasaan social dan perasaan harga diri.
Emosi
atau perasaan adalah sesuatu yang peka. Emosi akan memberi tanggapan
bila ada rangsangan dari luar diri seseorang. Emosi mempunyai peranan
yang penting dalam pembentukan kepribadian seseorang. Itulah sebabnya
pendekatan emosional yang berdasarkan emosi atau perasaan dijadikan
sebagai salah satu pendekatan dalam pendidikan dan pengajaran, terutama
untuk pendidikan agama islam.
Pendekatan Rasional
Dengan
kekuatan akalnya manusia dapat membedakan mana perbuatan yang baik dan
mana perbuatan yang buruk, mana kebenaran dan mana kedustaan dari
sesuatu ajaran atau perbuatan. Dengan akal pula dapat membuktikan dan
mmbenarkan adanya Tuhan Yang Maha Kuasa, Maha Pencipta atas segala
sesuatu di dunia ini. Walaupun disadari keterbatasan akal untuk
memikirkan dan memecahkan sesuatu, tetapi diyakini pula bahwa dengan
akal dapat dicapai ketinggian ilmu pengetahuan dan penghasilan teknologi
modern.
Akal
atau rasio memang mempunyai potensi untuk menaklukkan dunia. Tetapi
jangan sampai mempertuhankan akal. Karena hal itu akan menggelincirkan
keimanan terhadap ajaran agama. Sebaiknya, akal dijadikan alat untuk
membuktikan kebenaran ajaran-ajaran agama. Dengan begitu, keyakinan
terhadap agama yang dianut bertambah kokoh. Karena keampuhan akal
(rasio) itulah akhirnya dijadikan pendekatan yang disebut pendekatan
rasional guna kepentingan pendidikan dan pengajaran di sekolah. Untuk
mendukung pemakaian pendekatan ini, maka metode mengajar yang perlu
dipertimbangkan antara lain adalah metode ceramah, Tanya jawab, diskusi,
kerja kelompok, dan pemberian tugas.
Pendekatan Fungsional
Ilmu
pengetahuan yang dipelajari oleh anak di sekolah bukanlah hanya sekadar
pengisi otak, tetapi diharapkan berguna bagi kehidupan anak, baik
sebagai individu maupun sebagai makhluk social. Anak dapat memanfaatkan
ilmunya untuk kehidupan sehari-hari sesuai dengan tingkat
perkembangannya. Bahkan yang lebih penting adalah ilmu pengetahuan dapat
membentuk kepribadian anak. Anak dapat merasakan manfaat dari ilmu yang
didapatnya di sekolah. Anak mendayagunakan nilai guna dari suatu ilmu
untuk kepentingan hidupnya. Dengan begitu, maka nilai ilmu sudah
fungsional di dalam diri anak.
Pendekatan
fungsional yang diterapkan di sekolah diharapkan dapat menjembatani
harapan tersebut. Untuk memperlicin jalan ke arah itu, tentu saja
diperlukan penggunaan metode mengajar. Dalam hal ini ada beberapa metode
mengajar yang perlu dipertimbangkan, antara lain adalah metode latihan,
pemberian tugas, ceramah, Tanya jawab dan demonstrasi.
Pendekatan Keagamaan
Pendidikan
dan pelajaran di sekolah tidak hanya memberikan satu atau dua macam
mata pelajaran, tetapi terdiri dari banyak mata pelajaran. Semua mata
pelajaran itu pada umumnya dapat dibagi menjadi mata pelajaran umum dan
mata pelajaran agama. Berbagai pendekatan dalam pembahasan terdahulu
dapat digunakan untuk kedua jenis mata pelajaran ini. Tentu saja
penggunaannya tidak sembarangan, tetapi harus disesuaikan dengan tujuan
pembelajaran yang dicapai. Dalam prakteknya tidak hanya digunakan satu,
tetapi bisa juga penggabungan dua atau lebih pendekatan.
Beberapa konsep penting yang menyadari pendekatan ini diuraikan sebagai berikut:
Kedudukan Pemilihan & Penentuan Metode dl Pengajaran
Khususnya
untuk mata pelajaran umum, sangat berkepentingan dengan pendekatan
keagamaan. Hal ini dimaksudkan agar nilai budaya ilmu itu tidak sekuler,
tetapi menyatu dengan nilai agama. Dengan penerapan prinsip-prinsip
mengajar seperti prinsip korelasi dan sosialisasi, guru dapat
menyisipkan pesan-pesan keagamaan untuk semua mata pelajaran umum.
Akhirnya,
pendekatan agama dapat membantu guru untuk memperkecil kerdilnya jiwa
agama di dalam diri siswa, yang pada akhirnya nilai-nilai agama tidak
dicemoohkan dan dilecehkan, tetapi diyakini, dipahami, dihayati, dan
diamalkan secara hayat siswa di kandung badan.
Pendekatan KebermaknaanBeberapa konsep penting yang menyadari pendekatan ini diuraikan sebagai berikut:
- Bahasa merupakan alat yang digunakan untuk mengungkapkan makna yang diwujudkan melalui struktur (tata bahasa dan kosa kata). Dengan demikian, struktur berperan sebagai alat pengungkapan makna (gagasan, pikiran, pendapat, dan perasaan).
- Makna ditentukan oleh lingkup kebahasaan maupun lingkup situasi yang merupakan konsep dasar dalam pendekatan kebermaknaan pengajaran bahasa yang natural, didukung oleh pemahaman lintas budaya.
- Makna dapat diwujudkan melalui kalimat yang berbeda baik secara lisan maupun tertulis. Suatu kalimat dapat mempunyai kalimat yang berbeda tergantung pada situasi saat kalimat itu digunakan. Jadi keragaman ujaran diakui keberadaannya dalam bentuk bahasa lisan atau tulisan.
- Belajar bahasa asing adalah belajar berkomunikasi melalui bahasa tersebut, sebagai bahasa sasaran, baik secara lisan maupun tertuis. Belajar berkomunikasi ini perlu didukung oleh pembelajaran unsure-unsur bahasa sasaran.
- Motivasi belajar siswa merupakan factor utama yang menentukan keberhasilan belajarnya. Kadar motivasi ini ditentukan oleh kadar kebermaknaan bahan pelajaran dan kegiatan pembelajaran siswa yang bersangkutan. Dengan kata lain, kebemaknaan bahan pelajaran dan kegiatan pembelajaran memiliki peranan yang amat penting dalam keberhasilan belajar siswa.
- Bahan pelajaran dan kegiatan pembelajaran menjadi lebih bermakna bagi siswa jika berhubungan dengan kebutuhan siswa yang berkaitan dengan pengalaman, minat, tata nilai, dan masa depannya. Karena itu, pengalaman siswa dalam lingkungan, minat, tat nilai, dan masa depannya harus dijadikan pertimbangan dalam pengambilan keputusan pengajaran dan pembelajaran untuk membuat pelajaran lebih bermakna bagi siswa.
- Dalam proses belajar mengajar, siswa merupakan subjek utama, tidak hanya sebagai objek belaka. Karena itu, cirri-ciri dan kebutuhan mereka harus dipertimbangkan dalam segala keputusan yang terkait dengan pengajaran.
- Dalam proses belajar mengajar guru berperan sebagai fasilitaor yang membantu siswa mengembangkan keterampilan berbahasanya.
Kedudukan Metode dalam Belajar Mengajar
Salah satu usaha yang tidak pernah ditinggalkan adalah bagaimana memahami kedudukan metode sebagai salah satu komponen yang ikut ambil bagian bagi keberhasilan belajar mengajar.
Salah satu usaha yang tidak pernah ditinggalkan adalah bagaimana memahami kedudukan metode sebagai salah satu komponen yang ikut ambil bagian bagi keberhasilan belajar mengajar.
Dari hasil analisis yang dilakukan, lahirlah pemahaman tentang kedudukan metode yaitu:
Metode sebagai Alat motivasi Ekstrinsik
Sebagai
salah satu komponen pengajaran, metode menempati peranan yang tidak
kalah petingnya dari komponen lalinnya dalam kegiatan belajar mengajar.
Tidak ada satupun kegiatan belajar mengajar yang tidak menggunakan
metode pengajaran. Ini berarti guru memahami benar kedudukan metode
sebagai alat motivasi ekstrinsik dalam kegiatan belajar mengajar.
Motivasi ekstrinsik menurut Sardiman. A.M (1988;90) adalah motif – motif
yang aktif dan berfungsinya, karena adanya perangsang dari luar. Karena
itu, metode berfungsi sebagai alat perangsang dari luar yang dapat
membangkitkan belajar seseorang.
Metode Sebagai Strategi Pengajaran
Dalam
kegiatan belajar mengajar tidak semua anak didik mampu berkonsentrasi
dalam waktu yang relative lama. Daya serap anak didik terhadap bahan
yang diberikan juga bermacam – macam, ada yang cepat, ada yang sedang,
dan ada yang lambat. Factor intelegensi mempengaruhi daya serap anak
didik terhadap bahan pelajaran yang diberikan oleh guru. Cepat lambatnya
penerimaan anak didik terhadap bahan pelajaran yang diberikan
menghendaki pemberian waktu yang bervariasi, sehingga penguasaan penuh
dapat tercapai.
Metode sebagai alat untuk mencapai tujuan
Tujuan
adalah suatu cita – cita yang akan dicapai dlam kegiatan belajar
mengajar. Tujuan adalah pedoman yang member arah kemana keegiatan
belajar mengajar akan dibawa. Metode adalah pelican jalan pengajaran
menuju tujuan. Ketika tujuan dirumuskan agar anak didik memiliki
keterampilan tertentu, maka metode yang digunakan harus sesuai dengan
tujuan. Antara metode dan tujuan jangan bertolak belakang. Artinya,
metode harus menunjang pencapaian tujuan pengajaran. Bila tidak, maka
akn sia – sialah tujuan tersebut.
Pemilihan dan Penentuan Metode
1. Nilai Strategi Metode
Metode pembelajaran Konstruktivisme
1. Nilai Strategi Metode
Guru sebaiknya memperhatikan dalam pemilihan dan penentuan metode sebelum kegiatan belajar mengajar dilaksanakan di kelas.
2. Efektivitas Penggunaan Metode
Efektivitas
penggunaan metode dapat terjadi bila ada kesesuaian antara metode
dengan semua komponen pengajaran yang telah diprogramkan dalam suatu
pelajaran, sebagai persiapan tertulis.
3. Pentingnya Pemilihaan dan Penentuan Metode
Guru
sebagai salah satu sumber belajar berkewajiban menyediakan lingkungan
belajar yang kreativ bagi kegiatan belajar anak didik di kelas. Salah
satu kegiatan yang harus guru lakukan adalah melakukan pemulihan dan
penetuan metode yang bagaimana yang akan dipilih untuk mencapai tujuan
pengajaran.
4. Faktor – factor yang mempengaruhi Pemilihan Metode
Guru
akan lebih mudah menetapkan metode yang paling serasi untuk situasi dan
kondisi yang khusus dihadapinya, jjika memahami sifst – sifst masing –
masing metode tersebut. Winarno Surahmad (1990; 97) mengatakan, bahwa
pemilihan dan penentuan metode dipengaruhi oleh beberapa factor sebagai
berikut :
- Anak Didik. Anak didik adalah manusia berpotensi yang mengahajatkan pendidikan.
- Tujuan. Tujuan adalah sasaran yang dituju dari setiap kegiatan belajar mengajar.
- Situasi. Situasi adalah suasana kegiatan belajar mengajar yang guur ciptakan tidak selalu sama dari hari kehari.
- Fasilitas. Fasilitas adalah kelengkapan yang menunjang belajar anak didik di sekolah. Lengkap tidaknya fasilitas belajar akna mempengaruhi pemilihan metode mengajar.
- Guru. Guru adalah manusia berpotensi yang mengjarkan pendidikan.
Menurut faham konstruktivis pengetahuan merupakan konstruksi
(bentukan) dari orang yang mengenal sesuatu (skemata). Pengetahuan tidak bisa
ditransfer dari guru kepada orang lain, karena setiap orang mempunyai skema
sendiri tentang apa yang diketahuinya. Pembentukan pengetahuan merupakan proses
kognitif di mana terjadi proses asimilasi dan akomodasi untuk mencapai suatu
keseimbangan sehingga terbentuk suatu skema (jamak: skemata) yang baru. Seseorang yang belajar itu berarti membentuk
pengertian atau ……pengetahuan secara aktif dan terus-menerus (Suparno, 1997).
Metode pembelajaran Behaviourisme
Teori belajar behavioristik menjelaskan belajar itu adalah perubahan perilaku yang dapat diamati, diukur dan dinilai secara konkret. Perubahan terjadi melalui rangsangan (stimulans) yang menimbulkan hubungan perilaku reaktif (respon) berdasarkan hukum-hukum mekanistik. Stimulans tidak lain adalah lingkungan belajar anak, baik yang internal maupun eksternal yang menjadi penyebab belajar. Sedangkan respons adalah akibat atau dampak, berupa reaksi fifik terhadap stimulans. Belajar berarti penguatan ikatan, asosiasi, sifat da kecenderungan perilaku S-R (stimulus-Respon).
Kontruksi berarti bersifat membangun, dalam konteks filsafat
pendidikan, Konstruktivisme adalah suatu upaya membangun tata susunan hidup
yang berbudaya modern
Konstruktivisme merupakan landasan berfikir (filosofi)
pembelajaran konstektual yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit
demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak
sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau
kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkontruksi
pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.
Sedangkan menurut Tran Vui Konstruktivisme adalah suatu
filsafat belajar yang dibangun atas anggapan bahwa dengan memfreksikan
pengalaman-pengalaman sendiri.sedangkan teori Konstruktivisme adalah sebuah
teori yang memberikan kebebasan terhadap manusia yang ingin belajar atau
mencari kebutuhannya dengan kemampuan untuk menemukan keinginan atau kebutuhannya
tersebut denga bantuan fasilitasi orang lain
Dari keterangan diatas dapatlah ditarik kesimpulan bahwa
teori ini memberikan keaktifan terhadap manusia untuk belajar menemukan sendiri
kompetensi, pengetahuan atau teknologi, dan hal lain yang diperlukan guna
mengembangkan dirinya sendiri.
Adapun tujuan dari teori ini dalah sebagai berikut:
Adanya motivasi untuk siswa bahwa belajar adalah tanggung
jawab siswa itu sendiri.
Mengembangkan kemampuan siswa untuk mengejukan pertanyaan
dan mencari sendiri pertanyaannya.
Membantu siswa untuk mengembangkan pengertian dan pemahaman
konsep secara lengkap.
Mengembangkan kemampuan siswa untuk menjadi pemikir yang
mandiri.
Lebih menekankan pada proses belajar bagaimana belajar itu.
Salah satu teori atau pandangan yang sangat terkenal
berkaitan dengan teori belajar konstruktivisme adalah teori perkembangan mental
Piaget. Teori ini biasa juga disebut teori perkembangan intelektual atau teori
perkembangan kognitif. Teori belajar tersebut berkenaan dengan kesiapan anak
untuk belajar, yang dikemas dalam tahap perkembangan intelektual dari lahir
hingga dewasa. Setiap tahap perkembangan intelektual yang dimaksud dilengkapi
dengan ciri-ciri tertentu dalam mengkonstruksi ilmu pengetahuan. Misalnya, pada
tahap sensori motor anak berpikir melalui gerakan atau perbuatan (Ruseffendi,
1988: 132).
Selanjutnya, Piaget yang dikenal sebagai konstruktivis
pertama (Dahar, 1989: 159) menegaskan bahwa pengetahuan tersebut dibangun dalam
pikiran anak melalui asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah penyerapan
informasi baru dalam pikiran. Sedangkan, akomodasi adalah menyusun kembali
struktur pikiran karena adanya informasi baru, sehingga informasi tersebut
mempunyai tempat (Ruseffendi 1988: 133). Pengertian tentang akomodasi yang lain
adalah proses mental yang meliputi pembentukan skema baru yang cocok dengan
ransangan baru atau memodifikasi skema yang sudah ada sehingga cocok dengan
rangsangan itu (Suparno, 1996: 7).
Konstruktivis ini dikritik oleh Vygotsky, yang menyatakan
bahwa siswa dalam mengkonstruksi suatu konsep perlu memperhatikan lingkungan
sosial. Konstruktivisme ini oleh
Vygotsky disebut konstruktivisme sosial (Taylor, 1993; Wilson, Teslow dan
Taylor,1993; Atwel, Bleicher & Cooper, 1998).
Ada dua konsep penting dalam teori Vygotsky (Slavin, 1997),
yaitu Zone of Proximal Development (ZPD) dan scaffolding.
- Zone of Proximal Development (ZPD) merupakan jarak antara tingkat perkembangan sesungguhnya yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah secara mandiri dan tingkat perkembangan potensial yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa atau melalui kerjasama dengan teman sejawat yang lebih mampu.
- Scaffolding merupakan pemberian sejumlah bantuan kepada siswa selama tahap-tahap awal pembelajaran, kemudian mengurangi bantuan dan memberikan kesempatan untuk mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar setelah ia dapat melakukannya (Slavin, 1997). Scaffolding merupakan bantuan yang diberikan kepada siswa untuk belajar dan memecahkan masalah. Bantuan tersebut dapat berupa petunjuk, dorongan, peringatan, menguraikan masalah ke dalam langkah-langkah pemecahan, memberikan contoh, dan tindakan-tindakan lain yang memungkinkan siswa itu belajar mandiri.
Pendekatan
yang mengacu pada konstruktivisme sosial
(filsafat konstruktivis sosial) disebut pendekatan konstruktivis
sosial. Filsafat konstruktivis sosial memandang
kebenaran matematika tidak bersifat absolut dan mengidentifikasi
matematika
sebagai hasil dari pemecahan masalah dan pengajuan masalah (problem
posing)
oleh manusia (Ernest, 1991). Dalam
pembelajaran matematika, Cobb, Yackel dan Wood (1992) menyebutnya
dengan konstruktivisme sosio (socio-constructivism),
siswa berinteraksi dengan guru, dengan siswa lainnya dan berdasarkan
pada
pengalaman informal siswa mengembangkan strategi-strategi untuk
merespon masalah yang diberikan. Karakteristik pendekatan konstruktivis
sosio
ini sangat sesuai dengan karakteristik RME.
HUBUNGAN KONSTRUKTIVISME DENGAN TEORI BELAJAR LAIN
Selama 20 tahun terakhir ini konstruktivisme telah banyak
mempengaruhi pendidikan Sains dan Matematika di banyak negara Amerika, Eropa,
dan Australia. Inti teori ini berkaitan dengan beberapa teori belajar seperti
teori Perubahan Konsep, Teori Belajar Bermakna dan Ausuble, dan Teori Skema.
Teori Belajar Konsep
Dalam banyak penelitian diungkapkan bahwa teori petubahan
konsep ini dipengaruhi atau didasari oleh filsafat kostruktivisme.
Konstruktivisme yang menekankan bahwa pengetahuan dibentuk oleh siswa yang
sedang belajar, dan teori perubahan konsep yang menjelaskan bahwa siswa
mengalami perubahan konsep terus menerus, sangat berperan dalam menjelaskan
mengapa seorang siswa bisa salah mengerti dalam menangkap suatu konsep yang ia
pelajari. Kostruktivisme membantu untuk mengerti bagaimana siswa membentuk
pengetahuan yang tidak tepat.
Dengan demikian, seorang pendidik dibantu untuk mengarahkan
sisiwa dalam pembentukan pengetahuan mereka yang lebih tepat. Teori perubahan
konsep sangat membantu karena mendorong pendidik agar menciptakan suasana dan
keadaan yang memungkinkan perubahan konsep yang kuat pada murid sehingga
pemahaman mereka lebih sesuai dengan ilmuan. Konstrutivisme dan Teori Perubahan
Konsep memberikan pengertian bahwa setiap orang dapat membentuk pengertian yang
berbeda tersebut bukanlah akhir pengembangan karena setiap kali mereka masih
dapat mengubah pengertiannya sehingga lebih sesuai dengan pengertian ilmuan.
“Salah pengrtian” dalam memahami sesuatu, menurut Teori Konstruktivisme dan
teori Perubahan Konsep, bukanlah akhir dari segala-galanyamelainkan justru
menjadi awal untuk pengembangan yang lebih baik.
Teori Bermakna Ausubel
Menurut Ausubel, seseorang belajar denga mengasosiasikan
fenomena baru ke dalam sekema yang telah ia punya. Dalam proses itu seseorang
dapat memperkembangkan sekema yang ada atau dapat mengubahnya. Dalam proses
belajar ini siswa mengonstruksi apa yang ia pelajari sendiri.
Teori Belajar bermakna Ausuble ini sangat dekat dengan
Konstruktivesme. Keduanya menekankan pentingnya pelajar mengasosiasikan
pengalaman, fenomena, dan fakta-fakta baru kedalam sistem pengertian yang telah
dipunyai. Keduanya menekankan pentingnya asimilasi pengalaman baru kedalam
konsep atau pengertian yang sudah dipunyai siswa. Keduanya mengandaikan bahwa
dalam proses belajar itu siswa aktif.
Teori Skema
Menurut teori ini, pengetahuan disimpan dalam suatu paket
informasi, atau sekema yang terdiri dari konstruksi mental gagasan kita. Teori
ini lebih menunjukkan bahwa pengetahuan kita itu tersusun dalam suatu skema
yang terletak dalam ingatan kita. Dalam belajar, kita dapat menambah skema yang
ada sihingga dapa t menjadi lebih luas dan berkembang.
Konstrtivisme, Behaviorisme, dan Maturasionisme
Konstruktivisme berbeda dengan Behavorisme dan
Maturasionisme. Bila Behaviorisme menekankan keterampilan sebagai suatu tujuan
pengajaran, konstruktivime lebih menekankan pengembangan konsep dan pengertian
yang mendalam. Bila Maturasionisme lebih menekankan pengetahuan yang berkembang
sesuai dengan langkah–langkah perkembangan kedewasaan. Konstruktivisme lebih
menekankan pengetahuan sebagai konstruksi aktif sibelajar. Dalam pengertian
Maturasionisme, bila seseorang mengikuti perkembangan pengetahuan yang ada,
dengan sendirinya ia akan menemukan pengetahuan yang lengkap. Menurut
Konstruktivisme, bla seseorang tidak mengkonstruktiviskan pengetahuan secara
aktif, meskipun ia berumur tua akan tetap tidakakan berkembang pengetahuannya.
Dalam teori ini kreatifitas dan keaktifan siswa akan
membantu mereka untuk berdiri sendiri dalam kehidupan kognitif mereka. Mereka
akan terbantu menjadi orang yang kritis menganalisis sesuatu hal karena mereka
berfikir dan bukan meniru saja.
Kadang–kadang orang menganggap bahwa konstruktivisme sama
dengan Teori Pencarian Sendiri (Inguiry Approach) dalam belajar. Sebenarnya
kalau kita lihat secara teliti, kedua teori ini tidak sama. Dalam banyak hal
mereka punya kesamaan,seperti penekanan keaktifan siswa untuk memenuhi suatu
hal. Dapat terjadi bahwa metode pencarian sendiri memang merupakan metode
konstruktivisme tetapi tidak semua semua konstruktivis dengan metode pencarian
sendiri. Dalam konstruktivisme terlibih yang personal sosial, justru
dikembangkan belajar bersama dalam kelompok. Hal ini yang tidak ada dalam
metode mencari sendiri. Bahkan, dalam praktek metode pencarian sendiri tidak
memungkinkan siswa mengkonstruk pengetahuan sendiri, karena langkah-langkah
pencarian dan bagaimana pencarian dilaporkan dan dirumuskan sudah dituliskan
sebelumnya.
CIRI-CIRI PEMBELAJARAN SECARA KONSTUKTIVISME
Adapun ciri – ciri pembelajaran secara kontruktivisme adalah:
- Memberi peluang kepada murid membina pengetahuan baru melalui penglibatan dalam dunia sebenar
- Menggalakkan soalan/idea yang dimul akan oleh murid dan menggunakannya sebagai panduan merancang pengajaran.
- Menyokong pembelajaran secara koperatif Mengambilkira sikap dan pembawaan murid
- Mengambilkira dapatan kajian bagaimana murid belajar sesuatu ide
- Menggalakkan & menerima daya usaha & autonomi murid
- Menggalakkan murid bertanya dan berdialog dengan murid & guru
- Menganggap pembelajaran sebagai suatu proses yang sama penting dengan hasil pembelajaran.
- Menggalakkan proses inkuiri murid mel alui kajian dan eksperimen.
PRINSIP-PRINSIP KONSTRUKTIVISME
- Secara garis besar, prinsip-prinsip Konstruktivisme yang diterapkan dalam belajar mengajar adalah:
- Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri
- Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru kemurid, kecuali hanya dengan keaktifan murid sendiri untuk menalar
- Murid aktif megkontruksi secara terus menerus, sehingga selalu terjadi perubahan konsep ilmiah
- Guru sekedar membantu menyediakan saran dan situasi agar proses kontruksi berjalan lancar.
- Menghadapi masalah yang relevan dengan siswa
- Struktur pembalajaran seputar konsep utama pentingnya sebuah pertanyaan
- Mmencari dan menilai pendapat siswa
- Menyesuaikan kurikulum untuk menanggapi anggapan siswa.
Dari semua itu hanya ada satu prinsip yang paling penting
adalah guru tidak boleh hanya semata-mata memberikan pengetahuan kepada siswa .
siswa harus membangun pengetahuan didalam benaknya sendiri. Seorang guru dapat
membantu proses ini dengan cara-cara mengajar yang membuat informasi menjadi
sangat bermakna dan sangat relevan bagi siswa, dengan memberikan kesempatan
kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide-ide dan dengan
mengajak siswa agar menyadari dan menggunakan strategi-strategi mereka sendiri
untuk belajar. Guru dapat memberikan tangga kepada siswa yang mana tangga itu
nantinya dimaksudkan dapat membantu mereka mencapai tingkat penemuan.
HAKIKAT ANAK MENURUT TEORI BELAJAR KONSTRUKTIVISME
Piaget mengemukakan bahwa pengetahuan tidak diperoleh secara
pasif oleh seseorang, melainkan melalui tindakan. Bahkan, perkembangan kognitif
anak bergantung pada seberapa jauh mereka aktif memanipulasi dan berinteraksi
dengan lingkungannya. Sedangkan, perkembangan kognitif itu sendiri merupakan
proses berkesinambungan tentang keadaan ketidak-seimbangan dan keadaan
keseimbangan (Poedjiadi, 1999: 61).
Dari pandangan Piaget tentang tahap perkembangan kognitif
anak dapat dipahami bahwa pada tahap tertentu cara maupun kemampuan anak
mengkonstruksi ilmu berbeda-beda berdasarkan kematangan intelektual anak.
Berkaitan dengan anak dan lingkungan belajarnya menurut
pandangan konstruktivisme, Driver dan Bell (dalam Susan, Marilyn dan Tony,
1995: 222) mengajukan karakteristik sebagai berikut: (1) siswa tidak dipandang
sebagai sesuatu yang pasif melainkan memiliki tujuan, (2) belajar
mempertimbangkan seoptimal mungkin proses keterlibatan siswa, (3) pengetahuan
bukan sesuatu yang datang dari luar melainkan dikonstruksi secara personal, (4)
pembelajaran bukanlah transmisi pengetahuan, melainkan melibatkan pengaturan
situasi kelas, (5) kurikulum bukanlah sekedar dipelajari, melainkan seperangkat
pembelajaran, materi, dan sumber.
Pandangan tentang anak dari kalangan konstruktivistik yang
lebih mutakhir yang dikembangkan dari teori belajar kognitif Piaget menyatakan
bahwa ilmu pengetahuan dibangun dalam pikiran seorang anak dengan kegiatan
asimilasi dan akomodasi sesuai dengan skemata yang dimilikinya. Belajar
merupakan proses aktif untuk mengembangkan skemata sehingga pengetahuan terkait
bagaikan jaring laba-laba dan bukan sekedar tersusun secara hirarkis (Hudoyo,
1998: 5).
Dari pengertian di atas, dapat dipahami bahwa belajar adalah
suatu aktivitas yang berlangsung secara interaktif antara faktor intern pada
diri pebelajar dengan faktor ekstern atau lingkungan, sehingga melahirkan
perubahan tingkah laku.
Berikut adalah tiga dalil pokok Piaget dalam kaitannya
dengan tahap perkembangan intelektual atau tahap perkembangan kognitif atau
biasa jugaa disebut tahap perkembagan mental. Ruseffendi (1988: 133)
mengemukakan; (1) perkembangan intelektual terjadi melalui tahap-tahap beruntun
yang selalu terjadi dengan urutan yang sama. Maksudnya, setiap manusia akan
mengalami urutan-urutan tersebut dan dengan urutan yang sama, (2) tahap-tahap
tersebut didefinisikan sebagai suatu cluster dari operasi mental (pengurutan,
pengekalan, pengelompokan, pembuatan hipotesis dan penarikan kesimpulan) yang
menunjukkan adanya tingkah laku intelektual dan (3) gerak melalui tahap-tahap
tersebut dilengkapi oleh keseimbangan (equilibration), proses pengembangan yang
menguraikan tentang interaksi antara pengalaman (asimilasi) dan struktur
kognitif yang timbul (akomodasi).
Berbeda dengan kontruktivisme kognitif ala Piaget,
konstruktivisme sosial yang dikembangkan oleh Vigotsky adalah bahwa belajar
bagi anak dilakukan dalam interaksi dengan lingkungan sosial maupun fisik.
Penemuan atau discovery dalam belajar lebih mudah diperoleh dalam konteks
sosial budaya seseorang (Poedjiadi, 1999: 62). Dalam penjelasan lain Tanjung
(1998: 7) mengatakan bahwa inti konstruktivis Vigotsky adalah interaksi antara
aspek internal dan ekternal yang penekanannya pada lingkungan sosial dalam
belajar.
Adapun implikasi dari teori belajar konstruktivisme dalam
pendidikan anak (Poedjiadi, 1999: 63) adalah sebagai berikut: (a) tujuan
pendidikan menurut teori belajar konstruktivisme adalah menghasilkan individu
atau anak yang memiliki kemampuan berfikir untuk menyelesaikan setiap persoalan
yang dihadapi, (b) kurikulum dirancang sedemikian rupa sehingga terjadi situasi
yang memungkinkan pengetahuan dan keterampilan dapat dikonstruksi oleh peserta
didik. Selain itu, latihan memcahkan masalah seringkali dilakukan melalui
belajar kelompok dengan menganalisis masalah dalam kehidupan sehari-hari dan
(c) peserta didik diharapkan selalu aktif dan dapat menemukan cara belajar yang
sesuai bagi dirinya. Guru hanyalah berfungsi sebagai mediator, fasilitor, dan
teman yang membuat situasi yang kondusif untuk terjadinya konstruksi
pengetahuan pada diri peserta didik.
KELEBIHAN DAN KELEMAHAN TEORI KONSTRUTIVISME
Kelebihan
- Berfikir : Dalam proses membina pengetahuan baru, murid berfikir untuk menyelesaikan masalah, menjana idea dan membuat keputusan.
- Faham : Oleh kerana murid terlibat secara langsung dalam mebina pengetahuan baru, mereka akan lebih faham dan boleh mengapliksikannya dalam semua situasi.
- Ingat : Oleh kerana murid terlibat secara langsung dengan aktif, mereka akan ingat lebih lama semua konsep. Yakin Murid melalui pendekatan ini membina sendiri kefahaman mereka. Justeru mereka lebih yakin menghadapi dan menyelesaikan masalah dalam situasi baru.
- Kemahiran sosial :Kemahiran sosial diperolehi apabila berinteraksi dengan rakan dan guru dalam membina pengetahuan baru.
- Seronok : Oleh kerana mereka terlibat secara terus, mereka faham, ingat, yakin dan berinteraksi dengan sihat, maka mereka akan berasa seronok belajar dalam membina pengetahuan baru.
Kelemahan
Dalam bahasan kekurangan atau kelemahan ini mungkin bisa
kita lihat dalam proses belajarnya dimana peran guru sebagai pendidik itu
sepertinya kurang begitu mendukung.
PROSES BELAJAR MENURUT KONSTRUKVISTIK
- Pada bagian ini akan dibahas proses belajar dari pandangan kontruktifistik dan dari aspek-aspek si belajar, peranan guru, sarana belajar, dan evaluasi belajar.
- Proses belajar kontruktivistik secara konseptual proses belajar jika dipandang dari pendekatan kognitif, bukan sebagai perolehan informasi yang berlangsung satu arah dari luar kedalam diri siswa kepada pengalamannya melalui proses asimilasi dan akomodasi yang bermuara pada pemuktahiran struktur kognitifnya. Kegiatan belajar lebih dipandang dari segi rosesnya dari pada segi perolehan pengetahuan dari pada fakta-fakta yang terlepas-lepas.
- Peranan siswa. Menurut pandangan ini belajar merupakan suatu proses pembentukan pengetahuan. Pembentukan ini harus dilakukan oleh si belajar. Ia harus aktif melakukan kegiatan, aktif berfikir, menyusun konsep, dan memberi makna tentang hal-hal yang sedang dipelajari. Guru memang dapat dan harus mengambil prakarsa untuk menata lingkungan yang memberi peluang optimal bagi terjadinya belajar. Namun yang akhirnya paling menentukan adalah terwujudnya gejala belajar adalah niat belajar siswa itu sendiri.
- Peranan guru. Dalam pendekatan ini guru atau pendidik berperan membantu agar proses pengkontruksian pengetahuan oleh siswa berjalan lancar. Guru tidak mentransferkan pengetahuan yang telah dimilikinya, melainkan membantu siswa untuk membentuk pengetahuannya sebdiri.
- Sarana belajar. Pendekatan ini menekankan bahwa peranan utama dalam kegiatan belajar adalah aktifitas siswa dalam mengkontruksi pengetahuannya sendiri. Segala sesuatu seperti bahan, media, peralatan, lingkungan, dan fasilitas lainnya disediakan untuk membantu pembentukan tersebut.
- Evaluasi. Pandangan ini mengemukakan bahwa lingkungan belajar sangat mendukung munculnya berbagai pandangan dan interpretasi terhadap realitas, kontruksi pengetahuan, serta aktifitas-aktifitas lain yang didasarkan pada pengalaman.
Teori belajar behavioristik menjelaskan belajar itu adalah perubahan perilaku yang dapat diamati, diukur dan dinilai secara konkret. Perubahan terjadi melalui rangsangan (stimulans) yang menimbulkan hubungan perilaku reaktif (respon) berdasarkan hukum-hukum mekanistik. Stimulans tidak lain adalah lingkungan belajar anak, baik yang internal maupun eksternal yang menjadi penyebab belajar. Sedangkan respons adalah akibat atau dampak, berupa reaksi fifik terhadap stimulans. Belajar berarti penguatan ikatan, asosiasi, sifat da kecenderungan perilaku S-R (stimulus-Respon).
Teori Behavioristik:
- Mementingkan faktor lingkungan
- Menekankan pada faktor bagian
- Menekankan pada tingkah laku yang nampak dengan mempergunakan metode obyektif.
- Sifatnya mekanis
- Mementingkan masa lalu
Edward Edward Lee Thorndike (1874-1949): Teori Koneksionisme
Thorndike berprofesi sebagai seorang pendidik dan psikolog
yang berkebangsaan Amerika. Lulus S1 dari Universitas Wesleyen tahun 1895, S2
dari Harvard tahun 1896 dan meraih gelar doktor di Columbia tahun 1898.
Buku-buku yang ditulisnya antara lain Educational Psychology (1903), Mental and
social Measurements (1904), Animal Intelligence (1911), Ateacher’s Word Book
(1921),Your City (1939), dan Human Nature and The Social Order (1940).
Menurut Thorndike, belajar merupakan peristiwa terbentuknya
asosiasi-asosiasi antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan
respon (R ). Stimulus adalah suatu perubahan dari lingkungan eksternal yang
menjadi tanda untuk mengaktifkan organisme untuk beraksi atau berbuat sedangkan
respon dari adalah sembarang tingkah laku yang dimunculkan karena adanya
perangsang. Dari eksperimen kucing lapar yang dimasukkan dalam sangkar (puzzle
box) diketahui bahwa supaya tercapai hubungan antara stimulus dan respons,
perlu adanya kemampuan untuk memilih respons yang tepat serta melalui usaha
–usaha atau percobaan-percobaan (trials) dan kegagalan-kegagalan (error)
terlebih dahulu. Bentuk paling dasar dari belajar adalah “trial and error
learning atau selecting and connecting learning” dan berlangsung menurut
hukum-hukum tertentu. Oleh karena itu teori belajar yang dikemukakan oleh
Thorndike ini sering disebut dengan teori belajar koneksionisme atau teori
asosiasi. Adanya pandangan-pandangan Thorndike yang memberi sumbangan yang
cukup besar di dunia pendidikan tersebut maka ia dinobatkan sebagai salah satu
tokoh pelopor dalam psikologi pendidikan.
Percobaan Thorndike yang terkenal dengan binatang coba
kucing yang telah dilaparkan dan diletakkan di dalam sangkar yang tertutup dan
pintunya dapat dibuka secara otomatis apabila kenop yang terletak di dalam
sangkar tersebut tersentuh. Percobaan tersebut menghasilkan teori “trial and
error” atau “selecting and conecting”, yaitu bahwa belajar itu terjadi dengan
cara mencoba-coba dan membuat salah. Dalam melaksanakan coba-coba ini, kucing
tersebut cenderung untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang tidak mempunyai
hasil. Setiap response menimbulkan stimulus yang baru, selanjutnya stimulus
baru ini akan menimbulkan response lagi, demikian selanjutnya, sehingga dapat
digambarkan sebagai berikut:
S R S1 R1
dst
Dalam percobaan tersebut apabila di luar sangkar diletakkan
makanan, maka kucing berusaha untuk mencapainya dengan cara meloncat-loncat
kian kemari. Dengan tidak tersengaja kucing telah menyentuh kenop, maka
terbukalah pintu sangkar tersebut, dan kucing segera lari ke tempat makan.
Percobaan ini diulangi untuk beberapa kali, dan setelah kurang lebih 10 sampai
dengan 12 kali, kucing baru dapat dengan sengaja enyentuh kenop tersebut
apabila di luar diletakkan makanan.
Dari percobaan ini Thorndike menemukan hukum-hukum belajar
sebagai berikut :
Hukum Kesiapan (law of readiness), yaitu semakin siap suatu
organisme memperoleh suatu perubahan tingkah laku, maka pelaksanaan tingkah
laku tersebut akan menimbulkan kepuasan individu sehingga asosiasi cenderung
diperkuat.
Prinsip pertama teori koneksionisme adalah belajar suatu
kegiatan membentuk asosiasi(connection) antara kesan panca indera dengan
kecenderungan bertindak. Misalnya, jika anak merasa senang atau tertarik pada
kegiatan jahit-menjahit, maka ia akan cenderung mengerjakannya. Apabila hal ini
dilaksanakan, ia merasa puas dan belajar menjahit akan menghasilkan prestasi
memuaskanPrinsip pertama teori koneksionisme adalah belajar suatu kegiatan
membentuk asosiasi(connection) antara kesan panca indera dengan kecenderungan
bertindak. Misalnya, jika anak merasa senang atau tertarik pada kegiatan
jahit-menjahit, maka ia akan cenderung mengerjakannya. Apabila hal ini
dilaksanakan, ia merasa puas dan belajar menjahit akan menghasilkan prestasi
memuaskan.
Masalah pertama hukum law of readiness adalah jika
kecenderungan bertindak dan orang melakukannya, maka ia akan merasa puas.
Akibatnya, ia tak akan melakukan tindakan lain.
Masalah kedua, jika ada kecenderungan bertindak, tetapi ia
tidak melakukannya, maka timbullah rasa ketidakpuasan. Akibatnya, ia akan
melakukan tindakan lain untuk mengurangi atau meniadakan ketidakpuasannya.
Masalah ketiganya adalah bila tidak ada kecenderungan
bertindak padahal ia melakukannya, maka timbullah ketidakpuasan. Akibatnya, ia
akan melakukan tindakan lain untuk mengurangi atau meniadakan ketidakpuasannya.
Hukum Latihan (law of exercise), yaitu semakin sering
tingkah laku diulang/ dilatih (digunakan) , maka asosiasi tersebut akan semakin
kuat.
Prinsip law of exercise adalah koneksi antara kondisi (yang
merupakan perangsang) dengan tindakan akan menjadi lebih kuat karena
latihan-latihan, tetapi akan melemah bila koneksi antara keduanya tidak
dilanjutkan atau dihentikan. Prinsip menunjukkan bahwa prinsip utama dalam
belajar adalah ulangan. Makin sering diulangi, materi pelajaran akan semakin
dikuasai.
Hukum akibat (law of effect), yaitu hubungan stimulus respon
cenderung diperkuat bila akibatnya menyenangkan dan cenderung diperlemah jika akibatnya tidak memuaskan. Hukum ini
menunjuk pada makin kuat atau makin lemahnya koneksi sebagai hasil perbuatan.
Suatu perbuatan yang disertai akibat menyenangkan cenderung dipertahankan dan
lain kali akan diulangi. Sebaliknya, suatu perbuatan yang diikuti akibat tidak
menyenangkan cenderung dihentikan dan tidak akan diulangi.
Koneksi antara kesan panca indera dengan kecenderungan
bertindak dapat menguat atau melemah, tergantung pada “buah” hasil perbuatan
yang pernah dilakukan. Misalnya, bila anak mengerjakan PR, ia mendapatkan muka
manis gurunya. Namun, jika sebaliknya, ia akan dihukum. Kecenderungan
mengerjakan PR akan membentuk sikapnya.
Thorndike berkeyakinan bahwa prinsip proses belajar binatang
pada dasarnya sama dengan yang berlaku pada manusia, walaupun hubungan antara
situasi dan perbuatan pada binatang tanpa dipeantarai pengartian. Binatang
melakukan respons-respons langsung dari apa yang diamati dan terjadi secara
mekanis(Suryobroto, 1984).
Selanjutnya Thorndike menambahkan hukum tambahan sebagai
berikut:
Hukum Reaksi Bervariasi (multiple response).
Hukum ini mengatakan bahwa pada individu diawali oleh
prooses trial dan error yang menunjukkan adanya bermacam-macam respon sebelum
memperoleh respon yang tepat dalam memecahkan masalah yang dihadapi.
Hukum Sikap ( Set/ Attitude).
Hukum ini menjelaskan bahwa perilakku belajar seseorang
tidak hanya ditentukan oleh hubungan stimulus dengan respon saja, tetapi juga
ditentukan keadaan yang ada dalam diri individu baik kognitif, emosi , sosial,
maupun psikomotornya.
Hukum Aktifitas Berat Sebelah ( Prepotency of Element).
Hukum ini mengatakan bahwa individu dalam proses belajar
memberikan respon pada stimulus tertentu saja sesuai dengan persepsinya
terhadap keseluruhan situasi ( respon selektif).
Hukum Respon by Analogy
Hukum ini mengatakan bahwa individu dalam melakukan respon
pada situasi yang belum pernah dialami karena individu sesungguhnya dapat
menghubungkan situasi yang belum pernah dialami dengan situasi lama yang pernah
dialami sehingga terjadi transfer atau perpindahan unsur-unsur yang telah
dikenal ke situasi baru. Makin banyak unsur yang sama maka transfer akan makin
mudah.
Hukum perpindahan Asosiasi ( Associative Shifting)
Hukum ini mengatakan bahwa proses peralihan dari situasi
yang dikenal ke situasi yang belum dikenal dilakukan secara bertahap dengan
cara menambahkan sedikit demi sedikit unsur baru dan membuang sedikit demi
sedikit unsur lama.
Selain menambahkan hukum-hukum baru, dalam perjalanan
penyamapaian teorinya thorndike mengemukakan revisi Hukum Belajar antara lain :
Hukum latihan ditinggalkan karena ditemukan pengulangan saja
tidak cukup untuk memperkuat hubungan stimulus respon, sebaliknya tanpa
pengulanganpun hubungan stimulus respon belum tentu diperlemah.
Hukum akibat direvisi. Dikatakan oleh Thorndike bahwa yang
berakibat positif untuk perubahan tingkah laku adalah hadiah, sedangkan hukuman
tidak berakibat apa-apa.
Syarat utama terjadinya hubungan stimulus respon bukan
kedekatan, tetapi adanya saling sesuai antara stimulus dan respon.
Akibat suatu perbuatan dapat menular baik pada bidang lain
maupun pada individu lain.
Teori koneksionisme menyebutkan pula konsep transfer of
training, yaiyu kecakapan yang telah diperoleh dalam belajar dapat digunakan
untuk memecahkan masalah yang lain. Perkembangan teorinya berdasarkan pada
percobaan terhadap kucing dengan problem box-nya.
Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936)
Ivan Petrovich Pavlov lahir 14 September 1849 di Ryazan
Rusia yaitu desa tempat ayahnya Peter Dmitrievich Pavlov menjadi seorang
pendeta. Ia dididik di sekolah gereja dan melanjutkan ke Seminari Teologi.
Pavlov lulus sebagai sarjan kedokteran dengan bidang dasar fisiologi. Pada
tahun 1884 ia menjadi direktur departemen fisiologi pada institute of
Experimental Medicine dan memulai penelitian mengenai fisiologi pencernaan.
Ivan Pavlov meraih penghargaan nobel pada bidang Physiology or Medicine tahun
1904. Karyanya mengenai pengkondisian sangat mempengaruhi psikology
behavioristik di Amerika. Karya tulisnya adalah Work of Digestive Glands(1902)
dan Conditioned Reflexes(1927).
Classic conditioning ( pengkondisian atau persyaratan
klasik) adalah proses yang ditemukan Pavlov melalui percobaanny terhadap
anjing, dimana perangsang asli dan netral dipasangkan dengan stimulus bersyarat
secara berulang-ulang sehingga memunculkan reaksi yang diinginkan.
Eksperimen-eksperimen yang dilakukan Pavlov dan ahli lain
tampaknya sangat terpengaruh pandangan behaviorisme, dimana gejala-gejala
kejiwaan seseorang dilihat dari perilakunya. Hal ini sesuai dengan pendapat
Bakker bahwa yang paling sentral dalam hidup manusia bukan hanya pikiran,
peranan maupun bicara, melainkan tingkah lakunya. Pikiran mengenai tugas atau
rencana baru akan mendapatkan arti yang benar jika ia berbuat sesuatu (Bakker,
1985).
Bertitik tolak dari asumsinya bahwa dengan menggunakan
rangsangan-rangsangan tertentu, perilaku manusia dapat berubah sesuai dengan
apa yang didinkan. Kemudian Pavlov mengadakan eksperimen dengan menggunakan
binatang (anjing) karena ia menganggap binatang memiliki kesamaan dengan
manusia. Namun demikian, dengan segala kelebihannya, secara hakiki manusia
berbeda dengan binatang.
Ia mengadakan percobaan dengan cara mengadakan operasi leher
pada seekor anjing. Sehingga kelihatan kelenjar air liurnya dari luar. Apabila
diperlihatkan sesuatu makanan, maka akan keluarlah air liur anjing tersebut.
Kin sebelum makanan diperlihatkan, maka yang diperlihatkan adalah sinar merah
terlebih dahulu, baru makanan. Dengan sendirinya air liurpun akan keluar pula.
Apabila perbuatan yang demikian dilakukan berulang-ulang, maka pada suatu
ketika dengan hanya memperlihatkan sinar merah saja tanpa makanan maka air
liurpun akan keluar pula.
Makanan adalah rangsangan wajar, sedang merah adalah
rangsangan buatan. Ternyata kalau perbuatan yang demikian dilakukan
berulang-ulang, rangsangan buatan ini akan menimbulkan syarat(kondisi) untuk
timbulnys air liur pada anjing tersebut. Peristiwa ini disebut: Reflek
Bersyarat atau Conditioned Respons.
Pavlov berpendapat, bahwa kelenjar-kelenjar yang lain pun
dapat dilatih. Bectrev murid Pavlov menggunakan prinsip-prinsip tersebut
dilakukan pada manusia, yang ternyata diketemukan banyak reflek bersyarat yang
timbul tidak disadari manusia.
Dari eksperimen Pavlov setelah pengkondisian atau pembiasaan
dpat diketahui bahwa daging yang menjadi stimulus alami dapat digantikan oleh
bunyi lonceng sebagai stimulus yang dikondisikan. Ketika lonceng dibunyikan
ternyata air liur anjing keluar sebagai respon yang dikondisikan.
Apakah situasi ini bisa diterapkan pada manusia? Ternyata
dalam kehidupan sehar-jhari ada situasi yang sama seperti pada anjing. Sebagai
contoh, suara lagu dari penjual es krim Walls yang berkeliling dari rumah ke
rumah. Awalnya mungkin suara itu asing, tetapi setelah si pejual es krim sering
lewat, maka nada lagu tersebut bisa menerbitkan air liur apalagi pada siang
hari yang panas. Bayangkan, bila tidak ada lagu trsebut betapa lelahnya si
penjual berteriak-teriak menjajakan dagangannya. Contoh lai adalah bunyi bel di
kelas untuk penanda waktu atau tombol antrian di bank. Tanpa disadari, terjadi
proses menandai sesuatu yaitu membedakan bunyi-bunyian dari pedagang makanan(rujak,
es, nasi goreng, siomay) yang sering lewat di rumah, bel masuk kelas-istirahat
atau usai sekolah dan antri di bank tanpa harus berdiri lama.
Dari contoh tersebut dapat diketahui bahwa dengan menerapkan
strategi Pavlov ternyata individu dapat dikendalikan melalui cara mengganti
stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon
yang diinginkan, sementara individu tidak menyadari bahwa ia dikendalikan oleh
stimulus yang berasal dari luar dirinya.
Burrhus Frederic Skinner (1904-1990)
Seperti halnya kelompok penganut psikologi modern, Skinner
mengadakan pendekatan behavioristik untuk menerangkan tingkah laku. Pada tahun
1938, Skinner menerbitkan bukunya yang berjudul The Behavior of Organism. Dalam
perkembangan psikologi belajar, ia mengemukakan teori operant conditioning.
Buku itu menjadi inspirasi diadakannya konferensi tahunan yang dimulai tahun
1946 dalam masalah “The Experimental an Analysis of Behavior”. Hasil konferensi dimuat dalam jurnal berjudul
Journal of the Experimental Behaviors yang disponsori oleh Asosiasi Psikologi
di Amerika (Sahakian,1970)
B.F. Skinner berkebangsaan Amerika dikenal sebagai tokoh
behavioris dengan pendekatan model instruksi langsung dan meyakini bahwa
perilaku dikontrol melalui proses operant conditioning. Di mana seorang dapat
mengontrol tingkah laku organisme melalui pemberian reinforcement yang
bijaksana dalam lingkungan relatif besar. Dalam beberapa hal, pelaksanaannya
jauh lebih fleksibel daripada conditioning klasik.
Gaya mengajar guru dilakukan dengan beberapa pengantar dari
guru secara searah dan dikontrol guru melalui pengulangan dan latihan.
Menajemen Kelas menurut Skinner adalah berupa usaha untuk
memodifikasi perilaku antara lain dengan proses penguatan yaitu memberi penghargaan
pada perilaku yang diinginkan dan tidak memberi imbalan apapun pada perilaku
yanag tidak tepat. Operant Conditioning adalah suatu proses perilaku operant (
penguatan positif atau negatif) yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut
dapat berulang kembali atau menghilang sesuai dengan keinginan.
Skinner membuat eksperimen sebagai berikut :
Dalam laboratorium Skinner memasukkan tikus yang telah
dilaparkan dalam kotak yang disebut “skinner box”, yang sudah dilengkapi dengan
berbagai peralatan yaitu tombol, alat pemberi makanan, penampung makanan, lampu
yangdapat diatur nyalanya, dan lantai yanga dapat dialir listrik. Karena
dorongan lapar tikus beruasah keluar untuk mencari makanan. Selam tikus
bergerak kesana kemari untuk keluar dari box, tidak sengaja ia menekan tombol,
makanan keluar. Secara terjadwal diberikan makanan secara bertahap sesuai
peningkatan perilaku yang ditunjukkan si tikus, proses ini disebut shapping.
Berdasarkan berbagai percobaannya pada tikus dan burung
merpati Skinner mengatakan bahwa unsur terpenting dalam belajar adalah
penguatan. Maksudnya adalah pengetahuan yang terbentuk melalui ikatan stimulus
respon akan semakin kuat bila diberi penguatan. Skinner membagi penguatan ini
menjadi dua yaitu penguatan positif dan penguatan negatif. Bentuk bentuk
penguatan positif berupa hadiah, perilaku, atau penghargaan. Bentuk bentuk
penguatan negatif antara lain menunda atau tidak memberi penghargaan,
memberikan tugas tambahan atau menunjukkan perilaku tidak senang.
Beberapa prinsip Skinner antara lain :
Hasil belajar harus segera diberitahukan kepada siswa, jika
salah dibetulkan, jika bebar diberi penguat.
Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar.
Materi pelajaran, digunakan sistem modul.
Dalam proses pembelajaran, tidak digunkan hukuman. Untuk itu
lingkungan perlu diubah, untukmenghindari adanya hukuman.
dalam proses pembelajaran, lebih dipentingkan aktifitas
sendiri.
Tingkah laku yang diinginkan pendidik, diberi hadiah, dan
sebaiknya hadiah diberikan dengan digunakannya jadwal variabel Rasio rein
forcer.
Dalam pembelajaran digunakan shaping.
Robert Gagne ( 1916-2002)
Gagne adalah seorang psikolog pendidikan berkebangsaan
amerika yang terkenal dengan penemuannya berupa condition of learning. Gagne
pelopor dalam instruksi pembelajaran yang dipraktekkannya dalam training pilot
AU Amerika. Ia kemudian mengembangkan konsep terpakai dari teori
instruksionalnya untuk mendisain pelatihan berbasis komputer dan belajar
berbasis multi media. Teori Gagne banyak dipakai untuk mendisain software
instruksional.
Gagne disebut sebagai Modern Neobehaviouris mendorong guru
untuk merencanakan instruksioanal pembelajaran agar suasana dan gaya belajar
dapat dimodifikasi. Ketrampilan paling rendah menjadi dasar bagi pembentukan
kemampuan yang lebih tinggi dalam hierarki ketrampilan intelektual. Guru harus
mengetahui kemampuan dasar yang harus disiapkan. Belajar dimulai dari hal yang
paling sederhana dilanjutnkanpada yanglebih kompleks ( belajar SR, rangkaian
SR, asosiasi verbal, diskriminasi, dan belajar konsep) sampai pada tipe belajar
yang lebih tinggi(belajar aturan danpemecahan
masalah). Prakteknya gaya belajar tersebut tetap mengacu pada asosiasi
stimulus respon.
Albert Bandura (1925-masih hidup)
Bandura lahir pada tanggal 4 Desember 1925 di Mondare alberta berkebangsaan Kanada. Ia seorang
psikolog yang terkenal dengan teori belajar sosial atau kognitif sosial serta
efikasi diri. Eksperimennya yang sangat terkenal adalah eksperimen Bobo Doll
yang menunjukkan anak meniru secara persis perilaku agresif dari orang dewasa
disekitarnya.
Faktor-faktor yang berproses dalam belajar observasi adalah:
Perhatian, mencakup peristiwa peniruan dan karakteristik
pengamat.
Penyimpanan atau proses mengingat, mencakup kode pengkodean
simbolik.
Reprodukdi motorik, mencakup kemampuan fisik, kemampuan
meniru, keakuratan umpan balik.
Motivasi, mencakup dorongan dari luar dan penghargaan
terhadap diri sendiri.
Selain itu juga harus diperhatikan bahwa faktor model atau
teladan mempunyai prinsip prinsip sebgai berikut:
Tingkat tertinggi belajar dari pengamatan diperoleh dengan
cara mengorganisasikan sejak awal dan mengulangi perilaku secara simbolik
kemudian melakukannya.
Individu lebih menyukai perilaku yang ditiru jika sesuai
dengan nilai yang dimilikinya.
Individu akan menyukai perilaku yang ditiru jika model atau
panutan tersebut disukai dan dihargai dan perilakunya mempunyai nilai yang
bermanfaat.
Karena melibatkan atensi, ingatan dan motifasi, teori
Bandura dilihat dalam kerangka Teori Behaviour Kognitif. Teori belajar sosial
membantu memahami terjadinya perilaku agresi dan penyimpangan psikologi dan bagaimana
memodifikasi perilaku.
Teori Bandura menjadi dasar dari perilaku pemodelan yang
digunakan dalam berbagai pendidikan secara massal.
Aplikasi Teori Behavioristik terhadap Pembelajaran Siswa
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menerapkan teori
behavioristik adalah ciri-ciri kuat yang mendasarinya yaitu:
- Mementingkan pengaruh lingkungan
- Mementingkan bagian-bagian
- Mementingkan peranan reaksi
- Mengutamakan mekanisme terbentuknya hasil belajar melalui prosedur stimulus respon
- Mementingkan peranan kemampuan yang sudah terbentuk sebelumnya
- Mementingkan pembentukan kebiasaan melalui latihan dan pengulangan
- Hasil belajar yang dicapai adalah munculnya perilaku yang diinginkan.
Sebagai konsekuensi teori ini, para guru yang menggunakan
paradigma behaviorisme akan menyusun bahan pelajaran dalam bentuk yang sudah
siap, sehingga tujuan pembelajaran yang harus dikuasai siswa disampaikan secara
utuh oleh guru. Guru tidak banyak memberi ceramah, tetapi instruksi singkat yng
diikuti contoh-contoh baik dilakukan sendiri maupun melalui simulasi. Bahan
pelajaran disusun secara hierarki dari yang sederhana samapi pada yang
kompleks.
Tujuan pembelajaran dibagi dalam bagian kecil yang ditandai
dengan pencapaian suatu ketrampilan tertentu. Pembelajaran berorientasi pada
hasil yang dapat diukur dan diamati. Kesalahan harus segera diperbaiki.
Pengulangan dan latihan digunakan supaya perilaku yang diinginkan dapat menjadi
kebiasaan. Hasil yang diharapkan dari penerapan teori behavioristik ini adalah
tebentuknya suatu perilaku yang diinginkan. Perilaku yang diinginkan mendapat
penguatan positif dan perilaku yang kurang sesuai mendapat penghargaan negatif.
Evaluasi atau penilaian didasari atas perilaku yang tampak.
Kritik terhadap behavioristik adalah pembelajaran siswa yang
berpusat pada guru, bersifaat mekanistik, dan hanya berorientasi pada hasil
yang dapat diamati dan diukur. Kritik ini sangat tidak berdasar karena
penggunaan teori behavioristik mempunyai persyartan tertentu sesuai dengan ciri
yang dimunculkannya. Tidak setiap mata pelajaran bisa memakai metode ini,
sehingga kejelian dan kepekaan guru pada situasi dan kondisi belajar sangat
penting untuk menerapkan kondisi behavioristik.
Metode behavioristik ini sangat cocok untuk perolehan
kemampaun yang membuthkan praktek dan pembiasaan yang mengandung unsur-unsur
seperti :
Kecepatan, spontanitas, kelenturan, reflek, daya tahan dan
sebagainya, contohnya: percakapan bahasa asing, mengetik, menari, menggunakan
komputer, berenang, olahraga dan sebagainya. Teori ini juga cocok diterapkan
untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominansi peran orang dewasa,
suka mengulangi dan harus dibiasakan, suka meniru dan senang dengan
bentuk-bentuk penghargaan langsung seperti diberi permen atau pujian.
Penerapan teori behaviroristik yang salah dalam suatu
situasi pembelajaran juga mengakibatkan terjadinya proses pembelajaran yang
sangat tidak menyenangkan bagi siswa yaitu guru sebagai central, bersikap otoriter,
komunikasi berlangsung satu arah, guru melatih dan menentukan apa yang harus
dipelajari murid. Murid dipandang pasif , perlu motivasi dari luar, dan sangat
dipengaruhi oleh penguatan yang diberikan guru. Murid hanya mendengarkan denga
tertib penjelasan guru dan menghafalkan apa yang didengar dan dipandang sebagai
cara belajar yang efektif. Penggunaan hukuman yang sangat dihindari oelh para
tokoh behavioristik justru dianggap metode yang paling efektif untuk
menertibkan siswa.
Gaya Belajar dan Multiple Intelligences
PADA dasarnya, hal terpenting dalam proses pembelajaran, salah satunya adalah bagaimana seorang guru mampu menyampaikan informasi dengan baik –selanjutnya disebut sebagai gaya mengajar. Begitu juga, bagi siswa harus dapat menerima informasi yang disampaikan oleh gurunya secara baik pula –yang selanjutnya saya sebut sebagai gaya belajar. Chatib (2009:100-101) menjelaskan pada dasarnya gaya mengajar adalah strategi transfer informasi yang diberikan oleh guru kepada siswanya. Sedangkan gaya belajar adalah bagaimana sebuah informasi dapat diterima dengan baik oleh siswa.
PADA dasarnya, hal terpenting dalam proses pembelajaran, salah satunya adalah bagaimana seorang guru mampu menyampaikan informasi dengan baik –selanjutnya disebut sebagai gaya mengajar. Begitu juga, bagi siswa harus dapat menerima informasi yang disampaikan oleh gurunya secara baik pula –yang selanjutnya saya sebut sebagai gaya belajar. Chatib (2009:100-101) menjelaskan pada dasarnya gaya mengajar adalah strategi transfer informasi yang diberikan oleh guru kepada siswanya. Sedangkan gaya belajar adalah bagaimana sebuah informasi dapat diterima dengan baik oleh siswa.
Conner (2008:1) menyatakan bahwa gaya belajar siswa mengacu
pada cara siswa memilih untuk menerima atau memproses informasi baru. Setiap
siswa memiliki gaya belajar yang berbeda. Beberapa siswa mungkin menemukan
bahwa mereka memiliki pilihan gaya belajar atau cara menyelesaikan masalah
dengan gaya belajar yang lain. Siswa lain mungkin menemukan bahwa mereka menggunakan
gaya yang berbeda dalam situasi yang berbeda.
Sebagai guru, perlu untuk mengetahui gaya belajar siswa.
Guru harus mampu membantu mereka untuk memaksimalkan dan menggunakan gaya
belajar mereka, dan mengembangkan kemampuan yang kurang dominan. Dengan
demikian, guru perlu menyampaikan informasi dengan menggunakan gaya mengajar
yang berbeda. Dengan adanya variasi dalam menyampaikan informasi kepada siswa
secara keseluruhan memungkinkan siswa untuk belajar lebih baik dan lebih cepat,
terutama jika metode mengajar yang dipilih digunakan lebih cocok gaya belajar
yang disukai mereka. Selain itu, siswa bisa belajar dengan cara lain, tidak
hanya dalam gaya yang disukai mereka. (Silvana, 2010)
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dr. Howard
Gardner, ternyata gaya belajar siswa tercermin dari kecenderungan kecerdasan
yang dimiliki oleh siswa tersebut. Oleh karena itu, seharusnya setiap guru
memiliki data tentang gaya belajar siswanya masing-masing. Kemudian, setiap
guru harus menyesuaikan gayanya dalam mengajar dengan gaya belajar siswanya
yang diketahui dari Multiple Intelligences Research (MIR).
Sebuah gaya belajar siswa dinilai atau diriset sebelum
proses pembelajaran dimulai, dan hasilnya digunakan untuk mengarahkan siswa
melalui serangkaian kegiatan pembelajaran yang dirancang untuk memenuhi
kebutuhan belajarnya (Keller, 2010).
Apabila seseorang diriset dengan MIR, maka akan terbaca kecenderungan
kecerdasan dan gaya belajarnya, mulai dari skala tertinggi sampai terendah.
Hasil MIR ini merupakan data yang sangat penting untuk diketahui oleh guru dan
siswanya. Setiap guru akan masuk ke dunia siswa sehingga siswa merasa nyaman
dan tidak berhadapan dengan risiko kegagalan dalam proses belajar. Hal ini
menurut Bobbi DePorter dinamakan sebagai asas utama quantum learning, yaitu
masuk ke dunia siswa.
Berpijak pada konsep keragaman gaya belajar dan perbedaan
tingkat kecenderungan multiple intelligence siswa mengenai adanya perbedaan
individual, kiranya penting untuk diperhatikan bagi para guru untuk memahami keragamaan
gaya belajar siswa ini. Dengan demikian, diharapkan setiap individu siswa dapat
belajar secara menyenangkan, karena model pembelajarannya didesain berlandaskan
pada gaya belajar dan kecerdasan yang ada pada masing-masing siswa.
Sumber Belajar dan Alat Pelajaran
Pengertian Sumber Belajar
Sumber belajar adalah segala sesuatu yang dapat dimanfaatkan oleh siswa untuk mempelajari bahan dan pengalaman belajar sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Dalam pengajaran tradisional guru sering hanya menetapkan buku teks sebagai sumber belajar, itupun biasanya terbatas hanya dari salah satu buku tertentu saja. Dalam proses pembelajaran yang dianggap modern maka sumber belajar tidak hanya buku saja, tetapi guru sebaiknya memanfaatkan sumber lain selain buku wajib, misalnya, film, majalah, laboratorium, perpustakaan dan lain sebagainya.
Sumber belajar adalah segala sesuatu yang dapat dimanfaatkan oleh siswa untuk mempelajari bahan dan pengalaman belajar sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Dalam pengajaran tradisional guru sering hanya menetapkan buku teks sebagai sumber belajar, itupun biasanya terbatas hanya dari salah satu buku tertentu saja. Dalam proses pembelajaran yang dianggap modern maka sumber belajar tidak hanya buku saja, tetapi guru sebaiknya memanfaatkan sumber lain selain buku wajib, misalnya, film, majalah, laboratorium, perpustakaan dan lain sebagainya.
Evaluasi merupakan proses memberikan pertimbangan mengenai
nilai dan arti sesuatu yang dipetimbangkan. Evaluasi dalam pembelajaran bukan
hanya sekedar untukmengukur keberhasilan siswa dalam pencapaian hasil belajar
atua prestasi belajar, tetapi juga untuk mengumpulkan informasi tentang proses pembelajaran
yang dilakukan setiap siswa. Oleh sebab itu, dalam perencanaan pelaksanaan
pembelajaran (RPP), setiap guru tidak hanya menentukan tes sebagai alat
evaluasi akan tetapi juga menggunakan nontes dalam bentuk tugas misalnya
wawancara.
Apa sumber belajar itu?
Sumber
belajar (learning resources) adalah semua sumber baik berupa data,
orang dan wujud tertentu yang dapat digunakan oleh peserta didik dalam
belajar, baik secara terpisah maupun secara terkombinasi sehingga
mempermudah peserta didik dalam mencapai tujuan belajar atau mencapai
kompetensi tertentu.
Sumber
belajar (learning resources) adalah semua sumber baik berupa data,
orang dan wujud tertentu yang dapat digunakan oleh peserta didik dalam
belajar, baik secara terpisah maupun secara terkombinasi sehingga
mempermudah peserta didik dalam mencapai tujuan belajar atau mencapai
kompetensi tertentu.
Apa fungsi sumber belajar?
Sumber belajar memiliki fungsi :
- Meningkatkan produktivitas pembelajaran dengan jalan: (a) mempercepat laju belajar dan membantu guru untuk menggunakan waktu secara lebih baik dan (b) mengurangi beban guru dalam menyajikan informasi, sehingga dapat lebih banyak membina dan mengembangkan gairah.
- Memberikan kemungkinan pembelajaran yang sifatnya lebih individual, dengan cara: (a) mengurangi kontrol guru yang kaku dan tradisional; dan (b) memberikan kesempatan bagi siswa untuk berkembang sesuai dengan kemampuannnya.
- Memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap pembelajaran dengan cara: (a) perancangan program pembelajaran yang lebih sistematis; dan (b) pengembangan bahan pengajaran yang dilandasi oleh penelitian.
- Lebih memantapkan pembelajaran, dengan jalan: (a) meningkatkan kemampuan sumber belajar; (b) penyajian informasi dan bahan secara lebih kongkrit.
- Memungkinkan belajar secara seketika, yaitu: (a) mengurangi kesenjangan antara pembelajaran yang bersifat verbal dan abstrak dengan realitas yang sifatnya kongkrit; (b) memberikan pengetahuan yang sifatnya langsung.
- Memungkinkan penyajian pembelajaran yang lebih luas, dengan menyajikan informasi yang mampu menembus batas geografis.
Fungsi-fungsi
di atas sekaligus menggambarkan tentang alasan dan arti penting sumber
belajar untuk kepentingan proses dan pencapaian hasil pembelajaran siswa
Ada berapa jenis sumber belajar?
Secara garis besarnya, terdapat dua jenis sumber belajar yaitu:
- Sumber belajar yang dirancang (learning resources by design), yakni sumber belajar yang secara khusus dirancang atau dikembangkan sebagai komponen sistem instruksional untuk memberikan fasilitas belajar yang terarah dan bersifat formal.
- Sumber belajar yang dimanfaatkan(learning resources by utilization), yaitu sumber belajar yang tidak didesain khusus untuk keperluan pembelajaran dan keberadaannya dapat ditemukan, diterapkan dan dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran
Dari
kedua macam sumber belajar, sumber-sumber belajar dapat berbentuk: (1)
pesan: informasi, bahan ajar; cerita rakyat, dongeng, hikayat, dan
sebagainya (2) orang: guru, instruktur, siswa, ahli, nara sumber, tokoh
masyarakat, pimpinan lembaga, tokoh karier dan sebagainya; (3) bahan:
buku, transparansi, film, slides, gambar, grafik yang dirancang untuk
pembelajaran, relief, candi, arca, komik, dan sebagainya; (4) alat/
perlengkapan: perangkat keras, komputer, radio, televisi, VCD/DVD,
kamera, papan tulis, generator, mesin, mobil, motor, alat listrik, obeng
dan sebagainya; (5) pendekatan/ metode/ teknik: disikusi, seminar,
pemecahan masalah, simulasi, permainan, sarasehan, percakapan biasa,
diskusi, debat, talk shaw dan sejenisnya; dan (6) lingkungan: ruang
kelas, studio, perpustakaan, aula, teman, kebun, pasar, toko, museum,
kantor dan sebagainya.
Apa kriteria memilih sumber belajar?
Dalam
memilih sumber belajar harus memperhatikan kriteria sebagai berikut:
(1) ekonomis: tidak harus terpatok pada harga yang mahal; (2) praktis:
tidak memerlukan pengelolaan yang rumit, sulit dan langka; (3) mudah:
dekat dan tersedia di sekitar lingkungan kita; (4) fleksibel: dapat
dimanfaatkan untuk berbagai tujuan instruksional dan; (5) sesuai dengan
tujuan: mendukung proses dan pencapaian tujuan belajar, dapat
membangkitkan motivasi dan minat belajar siswa.
Bagaimana memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar?
Lingkungan
merupakan salah satu sumber belajar yang amat penting dan memiliki
nilai-nilai yang sangat berharga dalam rangka proses pembelajaran siswa.
Lingkungan dapat memperkaya bahan dan kegiatan belajar.
Lingkungan
yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar terdiri dari : (1)
lingkungan sosial dan (2) lingkungan fisik (alam). Lingkungan sosial
dapat digunakan untuk memperdalam ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan
sedangkan lingkungan alam dapat digunakan untuk mempelajari tentang
gejala-gejala alam dan dapat menumbuhkan kesadaran peserta didik akan
cinta alam dan partispasi dalam memlihara dan melestarikan alam.
Pemanfaatan
lingkungan dapat ditempuh dengan cara melakukan kegiatan dengan membawa
peserta didik ke lingkungan, seperti survey, karyawisata, berkemah,
praktek lapangan dan sebagainya. Bahkan belakangan ini berkembang
kegiatan pembelajaran dengan apa yang disebut out-bond, yang pada
dasarnya merupakan proses pembelajaran dengan menggunakan alam terbuka.
Di
samping itu pemanfaatan lingkungan dapat dilakukan dengan cara membawa
lingkungan ke dalam kelas, seperti : menghadirkan nara sumber untuk
menyampaikan materi di dalam kelas. Agar penggunaan lingkungan sebagai
sumber belajar berjalan efektif, maka perlu dilakukan perencanaan,
pelaksanaan dan evaluasi serta tindak lanjutnya.
Bagaimana prosedur merancang sumber belajar?
Secara skematik, prosedur merancang sumber belajar dapat mengikuti alur sebagai berikut:

Bagaimana mengoptimalkan sumber belajar?
Banyak
orang beranggapan bahwa untuk menyediakan sumber belajar menuntut
adanya biaya yang tinggi dan sulit untuk mendapatkannya, yang
kadang-kadang ujung-ujungnya akan membebani orang tua siswa untuk
mengeluarkan dana pendidikan yang lebih besar lagi. Padahal dengan
berbekal kreativitas, guru dapat membuat dan menyediakan sumber belajar
yang sederhana dan murah. Misalkan, bagaimana guru dan siswa dapat
memanfaatkan bahan bekas. Bahan bekas, yang banyak berserakan di sekolah
dan rumah, seperti kertas, mainan, kotak pembungkus, bekas kemasan
sering luput dari perhatian kita. Dengan sentuhan kreativitas,
bahan-bahan bekas yang biasanya dibuang secara percuma dapat
dimodifikasi dan didaur-ulang menjadi sumber belajar yang sangat
berharga. Demikian pula, dalam memanfaatkan lingkungan sebagai sumber
belajar tidak perlu harus pergi jauh dengan biaya yang mahal, lingkungan
yang berdekatan dengan sekolah dan rumah pun dapat dioptimalkan menjadi
sumber belajar yang sangat bernilai bagi kepentingan belajar siswa.
Tidak sedikit sekolah-sekolah di kita yang memiliki halaman atau
pekarangan yang cukup luas, namun keberadaannya seringkali ditelantarkan
dan tidak terurus. Jika saja lahan-lahan tersebut dioptimalkan tidak
mustahil akan menjadi sumber belajar yang sangat berharga.
Belakangan ini di sekolah-sekolah tertentu mulai dikembangkan bentuk pembelajaran dengan menggunakan internet, sehingga siswa “dipaksa” untuk menyewa internet –yang memang ukuran Indonesia pada umumnya-, masih dianggap relatif mahal. Kenapa tidak disediakan dan dikelola saja oleh masing-masing sekolah? Mungkin dengan cara difasilitasi oleh sekolah hasilnya akan jauh lebih efektif dan efisien, dibandingkan harus melalui rental ke WarNet. Bukankah sekarang ini sudah tersedia paket-paket hemat untuk berinternet yang disediakan para provider?
Belakangan ini di sekolah-sekolah tertentu mulai dikembangkan bentuk pembelajaran dengan menggunakan internet, sehingga siswa “dipaksa” untuk menyewa internet –yang memang ukuran Indonesia pada umumnya-, masih dianggap relatif mahal. Kenapa tidak disediakan dan dikelola saja oleh masing-masing sekolah? Mungkin dengan cara difasilitasi oleh sekolah hasilnya akan jauh lebih efektif dan efisien, dibandingkan harus melalui rental ke WarNet. Bukankah sekarang ini sudah tersedia paket-paket hemat untuk berinternet yang disediakan para provider?
Pengorganisasian Bahan
Pengorganisasian bahan belajar sedemikian rupa, memudahkan warga belajar dalam mempelajarinya. Pengorganisasian bahan belajar dapat mempengaruhi tingkat keberhasilan pembelajaran. Setiap bahan belajar yang ingin disampaikan, harus dilihat dari ketertarikan warga belajar terhadap materi yang disampaikan, kesesuaian materi dengan kebutuhan warga belajar, dan kesamaan tingkat dan lingkup pengalaman antara tutor dan warga belajar
Pengorganisasian bahan belajar sedemikian rupa, memudahkan warga belajar dalam mempelajarinya. Pengorganisasian bahan belajar dapat mempengaruhi tingkat keberhasilan pembelajaran. Setiap bahan belajar yang ingin disampaikan, harus dilihat dari ketertarikan warga belajar terhadap materi yang disampaikan, kesesuaian materi dengan kebutuhan warga belajar, dan kesamaan tingkat dan lingkup pengalaman antara tutor dan warga belajar
Bahan
belajar yang berisi pengetahuan, keterampilan dan atau nilai-nilai akan
disampaikan oleh tutor kepada warga belajar. Bahan belajar itu pula
yang akan dipelajari oleh warga dalam mencapai tujuan belajar. Materi
harus dipilih atas pertimbangan sejauh mana peranannya dalam menciptakan
situasi untuk penyesuaian perilaku warga belajar di dalam mencapai
tujuan belajar yang ditetapkan. Materi itu pun akan mempengaruhi
pertimbangan tutor dalam memilih dan menetapkan teknik pembelajaran.
Seorang
tutor hendaknya mengetahui faktor-faktor yang patut dipertimbangkan
dalam memilih bahan belajar untuk diajarkan. Ketertarikan warga belajar
dalam memilih dan mempelajari bahan belajar adalah merupakan manifestasi
dari perilaku belajar warga belajar. Faktor-faktor yang patut
dipertimbangkan dalam memilih bahan belajar adalah tingkat kemampuan
peserta, keterkaitannya dengan pengalaman yang telah dimiliki oleh
peserta, tingkat daya tarik bahan belajar, dan tingkat kebaharuan dan
aktualisasi bahan.
Keberhasilan Belajar Mengajar
Pengertian
Belajar Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk
memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan,
sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya dengan
lingkungan ( Moh. Surya, 1992, 23). Morgan, seperti dikutip Tim
Pengertian, Tolak Ukur, dan Tingkatan Keberhasilan Belajar Mengajar Moh Uzer Usman dan Lilis Setyawati dalam buku Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar (1993: 7-8) mengemukakan sebagai berikut. Untuk menyatakan bahwa suatu proses belajar mengajar dapat dikatakan berhasil, setiap guru memiliki pandangan masing-masing sejalan dengan filosofinya.
Namun untuk menyamakan persepsi sebaiknya kita berpedoman pada kurikulum yang berlaku saat ini yang telah disempurnakan antara lain bahwa suatu proses belajar mengajar tentang suatu bahan pengajaran dinyatakan berhasil apabila TIK tersebut dapat tercapai. Untuk mengetahui tercapai tidaknya TIK, guru perlu mengadakan tes formatif setiap selesai menyajikan satu satuan bahasan kepada siswa.Indikator yang dijadikan sebagai tolak ukur dalam menyatakan bahwa suatu proses belajar mengajar dapat dikatakan berhasil.
Penulis
Psikologi Pendidikan (1993: 60) ringkasnya mengatakan bahwa belajar
adalah setiap perubahan yang relative menetap dalam tingkah laku yang
terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman.Siswa mengalami
suatu proses belajar.
Dalam
proses belajar tesebut, siswa menggunakan kemampuan mentalnya untuk
mempelajari bahan belajar. Kemampuan-kemampuan kognitif, afektif dan
psikomotorik yang dibelajarkan dengan bahan belajar menjadi semakin
rinci dan menguat. Adanya informasi tentang sasaran belajar, adanya
penguatan-penguatan, adanya evaluasi dan keberhasilan belajar,
menyebaban siswa semakin sadar, akan kemampuan dirinya (Dimyati dan
Mudjiono, 2002: 22).
Dari
ketiga pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu
tindakan sadar yang dilakukan individu untuk memperoleh perubahan dalam
diri mereka atas stimulasi lingkungan dan proses mental mereka sehingga
bertambah pengetahuannya.
Pengertian
MengajarJerome S. Brunner dalam bukunya Toward a theory of instruction
mengemukakan bahwa mengajar adalah menyajikan ide, problem atau
pengetahuan dalam bentuk yang sederhana sehingga dapat dipahami oleh
setiap siswa (Uzer Usman dan Lilis Setyawati, 1993: 5). Ngalim Purwanto
dalam bukunya Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis (1998: 150)
mengemukakan yang dimaksud dengan mengajar ialah memberikan pengetahuan
atau melatih kecakapan-kecakapan atau keterampilan-keterampilan kepada
anak-anak.
Jadi,
mengajar bukan sekedar proses penyampaian ilmu pengetahuan, melainkan
mengandung makna yang lebih luas dan kompleks, yaitu terjadinya
komunikasi dan interaksi manusiawi dengan berbagai aspeknya.
Pengertian KeberhasilanPengertian, Tolak Ukur, dan Tingkatan Keberhasilan Belajar Mengajar Moh Uzer Usman dan Lilis Setyawati dalam buku Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar (1993: 7-8) mengemukakan sebagai berikut. Untuk menyatakan bahwa suatu proses belajar mengajar dapat dikatakan berhasil, setiap guru memiliki pandangan masing-masing sejalan dengan filosofinya.
Namun untuk menyamakan persepsi sebaiknya kita berpedoman pada kurikulum yang berlaku saat ini yang telah disempurnakan antara lain bahwa suatu proses belajar mengajar tentang suatu bahan pengajaran dinyatakan berhasil apabila TIK tersebut dapat tercapai. Untuk mengetahui tercapai tidaknya TIK, guru perlu mengadakan tes formatif setiap selesai menyajikan satu satuan bahasan kepada siswa.Indikator yang dijadikan sebagai tolak ukur dalam menyatakan bahwa suatu proses belajar mengajar dapat dikatakan berhasil.
Indikator Keberhasilan
Indikator yang dijadikan sebagai tolak ukur dalam menyatakan bahwa suatu proses belajar mengajar dapat dikatakan berhasil, adalah:
Indikator yang dijadikan sebagai tolak ukur dalam menyatakan bahwa suatu proses belajar mengajar dapat dikatakan berhasil, adalah:
- Daya serap terhadap bahan pelajaran yang diajarkan mencapai prestasi tinggi, baik secara individu maupun kelompok,
- Perilaku yang digariskan dalam tujuan pengajaran/ TIK telah dicapai siswa baik individu maupun klasikal
Penilaian keberhasilan
Tes prestasi belajar dapat digunakan untuk mengukur dan mengevaluasi tingkat keberhasilan dan dapat digolongkan kedalam jenis penilaian sebagai berikut :
Tes prestasi belajar dapat digunakan untuk mengukur dan mengevaluasi tingkat keberhasilan dan dapat digolongkan kedalam jenis penilaian sebagai berikut :
Tes Formatif
Penilaian
ini digunakan untuk menguur satu atau beberapa pokok bahasan tertentu
dan bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang daya serap anak didik
terhadap pokok bahasan tersebut.
Hasil tes ini dimanfaatkan untuk memperbaiki proses balajar mengajar bahan tertentu dalam waktu tertentu
Tes Subsumatif
Tes
ini meliputi sejumlah bahan pengajaran tertentu yang telah diajarkan
dalam waktu tertentu, bertujuan untuk memperoleh gambaran daya serap
anak didik untuk meningkatkan tingkat prestasi belajar anak didik.
Hasil tes ini digunakan untuk memperbaiki proses belajar mengajar dan diperhitungkan dalam menentukan nilai rapor
Tes Sumatif
Tes
ini dilakukan untuk mengukur daya serap anak didik terhadap bahan
pokok-pokok bahasan yang telah diajarkan selama satu semester atau dua
tahun pelajaran,
Tes ini bertujuan untuk menetapkan tingkat atau taraf keberhasilan belajar anak didik dalam suatu periode belajar tertentu.
Hasil tes ini daigunakan untuk kenaikan kelas, menyusun rangking atau sebagai ukuran mutu sekolah
Tingkat Keberhasilan
Untuk
mengetahui sampai dimana tingkat keberhasilan belajar siswa terhadap
proses belajar yang telah dilakukannya dan sekaligus juga untuk
mengetahui keberhasilan mengajar guru, kita dapat menggunakan tingkat
acuan sebagai berikut:
- Istimewa / maksimal: apabila seluruh bahan pelajaran yang diajarkan itu dapat dikuasai siswa,
- Baik sekali/ optimal: apabila sebagian besar (85% s/d 94%) bahan pelajaran yang diajarkan dapat dikuasai siswa,
- Baik / minimal: apabila bahan pelajaran yang diajarkan hanya 75% s/d 84% dikuasai siswa
- Kurang : apabila bahan pelajaran yang diajarkan kurang dari 75% dikuasai siswa.
Program Perbaikan
Tingkat keberhasilan proses mengajar dapat ddigunakan dalam berbagai usaha antara lain dengan kelangsungan proses belajar mengajar itu sendiri.
Pengukuran tentang tingkatan keberhasilan proses mengajar sangat penting karena itu pengukuran harus betul-betul :
Tingkat keberhasilan proses mengajar dapat ddigunakan dalam berbagai usaha antara lain dengan kelangsungan proses belajar mengajar itu sendiri.
Ada dua point yang dapat dilihat dari hasil tingkat keberhasilan proses belajar mengajar :
- Apabila 75 % anak didik yang mengikuti proses belajar mengajar mencapai tingkat keberhasilan minimal, optimal atau maksimal, maka dapat dilanjutkan ke proses belajar untuk pokok bahasan yang baru
- Apabila 75 % anak didik kurang (dibawah taraf minimal ) dalam mencapai tingkat keberhasilan , maka proses belajar mengajar berikutnya adalah perbaikan
• Syahih ( Valid )
• Andal ( reliable) dan
• Lugas ( Objective)
Hal ini dapat tercapai apabila alat ukurnya disusun berdasarkan kaidah, aturan, hukum atau ketentuan penyusunan tes
Pengajaran perbaikan mengandung kegiatan-kegiatan sebagai berikut :
• Mengulang pokok bahasan seluruhnya
• Mengulang bagian dari pokok bahasan yang hendak dikuasai
• Memecahkan masalah atau menyelesaikan soal-soal bersama
• Memberi tugas-tugas khusus
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan
Faktor – faktor yang mempengaruhi keberhasilan tersebut adalah :
Tujuan
Tujuan
Tujuan adalah pedoman sekaligus sebagai sasaran yang akan dicapai dalam kegiatan belajar mengajar.
Perumusan tujuan menentukan kepastian dari perjalanan proses belajar mengajar
Guru
diwajibkan untuk merumuskan tujuan pembelajarannya agar dapat tercapai
sasaran dalam setiap kegiatan belajar mengajar.. dan dirumuskan dalah
TIK ( Tujuan Instruksional Khusus) sedangkan TIU (Tujuan Instruksional
Umum ) yang sudah tersedia didalam GBPP.
TIK harus dirumuskan secara operasional dengan memenuhi syarat-syarat tertentu yaitu :
• Secara Spesifik menyatakan perilaku yang akan dicapai
• Membatasi dalam keadaan mana perubahan perilaku diharapkan dapat terjadi (kondisi perilaku)
•
Menyatakan kriteria perubahan perilaku secara spesifik, artinya
menggambarkan standar minimal perilaku yang dapat diterima sebagai hasil
yang dicapai.
TIK
adalah wakil dari TIU, maka perbuatan TIK harus berpedoman padaTIU.
Indikator suatu TIU banyak namun handaknya dipilih yang betul-betul
penting sehingga dapat mewakili TIU. Dapat diilustrasikan sebagai
berikut:
Berdasarkan pada indikator terpilih tersebut diatas dapat dirumuskan sejumlah TIK dari TIU yang bersangkutan.
Contoh rumusan TIK berdasarkan ciri-ciri dan indikator terpilih adalah
Tujuan menguasai Aspek Kebahasaan , Siswa mampu membuat kalimat Simple Present minimal 10 kata kerja dengan tepat dan benar
Bila TPK tersebut dianalisa dapat diketahui unsur – unsur berikut :
• Audience : Siswa
• Behaviour : Dapat membuat kalimat Simple Present
• Condition : Dengan menggunakan 10 kata kerja
• Degree : Dengan tepat dan benar
Guru
Guru
adalah tenaga pendidik yang memberikan sejumlah ilmu pengetahuan kepada
anak didik di sekolah dan orang yang berpengalaman dalm bidang
profesinya. Guru dapat menjadikan anak didik menjadi orang yang cerdas.
Ada beberapa aspek yang menentukan keberhasilan guru dalam proses belajar yaitu :
• Kepribadian
Hal ini akan mempengaruhi pola kepemimpinan yang guru perlihatkan ketika melaksanakan tugas didalam kelas
• Pandangan terhadap anak didik
Proses
belajar dari guru yang memandang anak didik sebagai mahluk individual
dengan yang memiliki pandangan anak didik sebagai mahluk sosial akan
berbeda. Karena prosesnya berbeda, hasil proses belajarnya pun akan
berbeda.
• Latar belakang dan Pengalaman guru
Guru
pemula dengan latar belakang pendidikan kegurua lebih mudah
menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah, karena ia sudah dibekali
dengan seperangkat teori sebagai pendukung pengabdiannya.
Tingkat kesulitan yang ditemukan guru semakin berkurang pada aspek tertentu seiring dengan bertambahnya pengalamannya
Guru
yang bukan berlatar belakang pendidikan keguruan dan ditambah tidak
berpengalaman mengajar , akan banyak menemukan masalah dikelas. Oleh
sebab itu, untuk menjembatinya dibuat program Akta 4 dan Akta 5.
Anak Didik
Adalah
orang yang dengan sengaja datang ke sekolah. Orang tuanya
memepercayakan guru untuk mendididik mereka agar menjadi orang yang
berilmu pengetahuan di kemudian hari.
Aspek dari anak didik yang mempengaruhi keberhasilan belajar mengajar adalah :
• Psikologis anak didik
• Biologis anak didik
• Intelektual anak didik
• Kesenangan terhadap pelajaran
Hal
diatas yang menyebabkan perbedaan karakteristik anak didik , misalnya
pendiam, aktif, keras kepala, kreatif , manja dam sebagainya.
Anak
yang dengan ciri-ciri mereka masing-masing berkumpul di dalam kelas dan
yang mengumpulkan tentu saja guru atau pengelola sekolah. Banyak
sedikitnya jumlah anak didik dikelas akan mempengaruhi pengelolaan
kelas.
Angka-angka
dirapor menunjukkan bukti nyata dari keberhasilan belajar mengajar. Hal
ini sebagai bukti bahwa tingkat penguasaan anak terhadap bahan
pelajaran yang diberikan oleh guru, karena itu dikenallah tingkat
keberhasilan maksimal (istimewa), Optimal ( baik sekali ), minimal
(baik) dan kurang untuk setiap bahan yang dikuasai anak didik.
Kegiatan Pengajaran
Pola
umum kegiatan pengajaran adalah terjadinya interaksi antara guru dengan
anak didik dengan bahan pelajaran sebagai perantaranya. Guru yang
mengajar, anak didik yang belajar.. Gaya mengajar guru mempengaruhi gaya
belajar anak didik.
Gaya mengajar menurut Muhammad Ali ( 1992; 59), dapat dibedakan 4 macam yaitu
• Gaya mengajar klasik,
• Gaya mengajar teknologis,
• Gaya mengajar personalisasi dan
• Gaya mengajar interaksional
Ada 3 aspek yang dapat dilihat dari kegiatan pengajaran untuk keberhasilan belajar mengajar yaitu:
• Gaya mengajar guru
o Gaya mengajar klasik,
o Gaya mengajar teknologis,
o Gaya mengajar personalisasi dan
o Gaya mengajar interaksional
• Pendekatan guru
o Pendekatan individual
Guru berusaha memahami anak didik dengan segala persamaan dan perbedaannya
o Pendekatan kelompok
Berusah memahami anak didik sebagai mahluk sosial
Perpaduan kedua pendekatan ini akan menghasilkan hasil belajar mengajar yang lebih baik
• Strategi penggunaan metode
Penggunaan
strategi belajar dapat digunakan lebih dari 1 meetde pengajaran
misalnya penggunaan metode Ceramah dengan metode Tanya jawab untuk mata
pelajaan IPS. Jarang guru menggunakan 1 metode dalam melaksanakan
pengajaran , hal ini disebabkan rumusan tujuan yang dibuat guru tidak
hanya satu, tetapi bisa lebih dari dua rumusan.
Dari penjelasan diatas, diketahui kegiatan pengajaran yang dilakukan oleh guru mempengaruhi keberhasilan belajar mengajar.
Gaya mengajar menurut Muhammad Ali ( 1992; 59), dapat dibedakan 4 macam yaitu
• Gaya mengajar klasik,
• Gaya mengajar teknologis,
• Gaya mengajar personalisasi dan
• Gaya mengajar interaksional
Bahan dan Alat Evaluasi
Bahan
evaluasi adalah suatu bahan yang terdapat didalam kurikulum yang sudah
dipelajari oleh anak didik guna kepentingan ulangan. Bahan pelajaran
biasanya sudah dikemas dalam bentuk buku paket.
Ada
waktu yang harus ditempuh dalam menyelesaikan buku paket tersebut
misalnya 1 semester , dan kemudian guru akan membuat item-item soal
evaluasi dengan perencanaan yang sistemastis dan dengan penggunaan alat
evaluasi.
Alat evaluasi yang umum digunakan adalah :
• Benar – Salah ( True – False)
• Pilihan Ganda ( Multiple Choice)
• Menjodohkan ( Matching)
• Melengkapi ( Completion ) dan
• Essay
Masing
– masing alat evaluasi itu mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan,
oleh sebab itu guru sudah menggabungkan lebih dari satu alat evaluasi.
Benar
Salah dan Pilihan Ganda adalah bagian dari tes objectif artinya
objektif dalam hal pengoreksian tapi belum tentu objektif dalam jawaban
yang dilakukan anak didik, Karena sifat alat ini mengharuskan anak didik
memilih jawaban yang sudah disediakan dan tidak ada alternatif lain
diluar alternatif itu, maka bila anak didik tidak bisa menjawab dia
cenderung melakukan tindakan spekulasi, pengambilan sikap untung –
untungan daripada tidak diisi
Pembuatan
item soal dengan memakai alat tes objektif dapat menampung hampir semua
bahan pelajaran yang sudah dipelajari oleh anak didik dalam satu
semester. Kelmahannya terletak pada pengusaan anak didik terhadap bahan
pelajaran bersifat semuatau samar-samar.
Alat
tes dalam bentuk essay dapat mengurangi sikap dan tindakan spekulasi
pada anak didik sebab alat tes ini hanya dapat dikjawab bila anak didik
betul-betul menguasai bahan pelajaran dengan baik.
Untuk
tes objektif mempunyai rumus penilaian masing-masing, Jadi kesanalah
rujukan standar penilaian itu, bukan membuat rumus penilaian yang
cenderung mendatangkan sikap dan tindakan spekulatif pada anak didik
Berbagai
permasalahan yang telah diuraikan tersebut mempengaruhi keberhasilan
belajar mengajar. Bila alat tes itu tidak valid dan tidak reliable ,
maka tidak dapat dipercaya untuk mengetahui tingkat keberhasilan belajar
mengajar.
Suasana Evaluasi
Faktor
suasana evaluasi merupakan faktor yang mempengaruhi keberhasilan
belajar mengajar. Hal yang perlu dalam suasana evaluasi adalah
• Pelaksanaan evaluasi biasanya dilaksanakan di dalam kelas
• Semua murid dibagi menurut tingkatan masing-masing
• Besar sedikitnya anak didik dalam kelas
• Berlaku jujur , baik guru maupun anak didik selama evaluasi tersebut.
Penggunaan Media Sumber Belajar
Belajar
adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada diri setiap orang
sepanjang hidupnya. Proses belajar terjadi karena adanya interaksi antra
seseorang dengan lingkungannya. Oleh sebab itu belajar dapat terjadi
dimana saja dan kapan saja, hasil dari belajar adalah perubahan sikap
pada diri orang tersebut.
Perkembahang ilmu pengetahuan dan teknolohi semakin mendorong upaya-upaya pembaharuan dalam pemanfaatan hasil-hasil teknologi dalam prose belajar mengajar. Para guru dituntut agar mampu mengunakan alat-alat yang dapat disediakan oleh sekolah, dan juga dituntut untuk dapat mengembangkan ketrerampilan membuat media pembelajaran yang akan digunakannya apabila media tersebut belum tersedia.
Pengertian Media
Kata Mdia berasal dari bahasa latin dan bentuk jamak darui kata ”medium:, yang berari ” perantara” atau ”pengantar” .
Dalam proses
belajar kehadiran media mempunyai arti yang cukup penting, karena
apabila ada ketidakjelasan bahan yang disampaikan dapat dibantu dengan
menghadirkan media sebagai perantara.
Perkembahang ilmu pengetahuan dan teknolohi semakin mendorong upaya-upaya pembaharuan dalam pemanfaatan hasil-hasil teknologi dalam prose belajar mengajar. Para guru dituntut agar mampu mengunakan alat-alat yang dapat disediakan oleh sekolah, dan juga dituntut untuk dapat mengembangkan ketrerampilan membuat media pembelajaran yang akan digunakannya apabila media tersebut belum tersedia.
Pengertian Media
Kata Mdia berasal dari bahasa latin dan bentuk jamak darui kata ”medium:, yang berari ” perantara” atau ”pengantar” .
Ada beberapa para ahli diantaranya :
- Gerlach & Ely 1971) mengatakan bahwa media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan , keterampilan dan sikap.
- AECT (Association of Education and Communication Technology ) 1977, media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi.
- Fleming , (1987 : 234) mediator adalah penyebab atau alat yang turut campur tangan dalam dua pihak dan mendamaikannya. Dalam hal ini mediator media menunjukkan fungsi atau perannya yaitu mengatur hubungan yang efektif antara dua pihak utama dalam proses belajar – siswa dan isi pelajaran
- Heinich dan kawan-kawan (1982) medium sebagai perantara yang mengantarkan informasi antara sumber dan penerima
- Hamidjojo dalam Latuheru (1993) memberi batasan media sebagai semua bentuk perantara yang digunakan oleh manusia untuk menyampaikan atau menyebar ide gagasan atau pendapat sehingga ide, gagasan atau pendapat yang dikemukakan itu sampai kepada penerima yang dituju.
- Hamalik ( 1986), hubungan komunikasi akan berjalan lancar dengan hasil maksimal apabila menggunakan alat bantu yang disebut media komunikasi
Perantara media tidak akan terlihat bila penggunaannya tidak sejalan dengan isi dari tujuan pengajaran yang telah dirumuskan.
Media adalah alat bantu apa saja yang dapat dijadikan sebagai penyalur pesan guna mencapai tujuan pengajaran
Media sebagai Alat bantu
Gerlach & Ely (1971) mengemukakan tiga ciri media yang merupakan sebab media digunakan :
- Suatu yang sudah nyata bahwa media sebagai alat bantu dalam proses belajar mengajar, hal ini disebabkan oleh keinginan guru untuk membantu dalam menyampaikan bahan pelajaran. Media pembelajaran di sekolah digunakan dengan tujuan antara lain sebagai berikut :
- Memberikan kemudahan kepada peserta didik untuk lebih memahami konsep, prinsip, dan ketrampilan tertentu dengan menggunakan media yang paling tepat menurut sifat bahan ajar.
- Memberikan pengalaman belajar yang berbeda dan bervariasi sehingga lebih merangsang minat dan motivasi peserta didik untuk belajar.
- Menumbuhkan sikap dan ketrampilan tertentu dalam teknologi karena peserta didik tertarik untuk menggunakan atau mengoperasikan media tertentu.
- Menciptakan situasi belajar yang tidak dapat dilupakan peserta didik.
- Memperjelas informasi atau pesan pembelajaran.
- Meningkatkan kualitas belajar mengajar.
Ciri Fiksatif ( Fixative Property)
Menggambarkan kemampuan media, merekam, menyimpan, melestarikan dan merekonstruksi suatu peristiwa atau objek
Ciri Manipulatif ( Manipulative Property)
Kejadian
yang memakan waktu berhari-hari dapat disajikan kepada siswa dalam
waktu dua atau tiga menit dengan teknik pengambilan gambar time-lapse
recording karena bisa diedit dan yang diambil hanya bagian-bagian
penting saja
Ciri Distributif ( Distributive Property)
Memungkinkan
suatu objek atau kejadian ditransportasikan memalui ruang dan secara
bersamaan kejadian tersebut disajikan kepada sejumlah besar siswa dengan
stimulus pengalaman yang relatif sama mengenai kejadian itu.
Media sebagai Sumber Belajar
Sumber
belajar sesungguhnya banyak sekali terdapat dimana-mana, di sekolah, di
halaman, di pusat kota, di pedesaan dan sebagainya. Udin Saripudin dan
Winataputra ( 1995, 65) mengelompokkan sumber-sumber belajar menjadi
lima kategori yaitu :
Media pendidikan
sebagai salah satu sumber ikut membantu guru memperkaya wawasan anak
didik serta diakui sebagai alat bantu auditif, visual dan audiovisual.
Penggunaan ketiga jenis sumber belajar ini tidak sembarangan , tetapi
harus disesuaikan dengan perumusan tujuan instruksional dan kompetensi
guru itu sendiri.
- Manusia,
- Buku / perpustakaan
- Media massa,
- Alam lingkungan dan
- Media pendidikan
Kadang
anjuran menggunakan media sukar dilaksanakan karena dana yang terbatas
untuk membelinya, untuk itu seorang guru harus kreatif dengan membuat
media pendidikan yang sederhana selama menunjang tercapainya tujuan
pengajaran.
Guru
yang pandai menggunakan media adalah guru yang bisa memanipulasi media
sebagai sumber belajar dan sebagai penyalur informasi dari bahan yang
disampaikan kepada anak didik sebagai proses belajar mengajar.
Macam-macam Media
Meda yang telah dikenal tidak hanya terdiri dari dua jenis tetapi disa dilihat dari jenisnya yaitu :
Dilihat dari Jenisnya, Media dibagi kedalam:
a. Media Auditif
Adalah media yang hanya mengandalkan kemampuan suara saja. Contoh : Radio, Cassette recorder, piringan hitam
Media ini tidak cocok untuk oran tuli atau yang bermasalah dengan pendengaran
b. Media Visual
Adalah media yang hanya mengandalkan indra penglihatan . Media visual ini ada yang menampilkan gambar diam seperti slide foto. Strip (film rangkai), gambar , lukisam, film bisu dan film kartun
c. Media Audiovisual
Adalah media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar. Jenis media ini lebih baik dibandingkan kedua jenis media yang pertama dan kedua, dan Media ini dibagi kedalam ”
i. Audiovisual Diam
Yaitu media yang menampilkan suara dan gambar diam seperti bingkai suara (sound slide), Film rangkai suara dan cetak suara.
ii. Audiovisual Gerak
Yaitu medi yang dapat menampilkan unsur suara dan gambar yangbergerak seperi film suara dan video cassette.
Pembagian lain dari media ini adalah
• Audiovisual Murni
Yaitu baik unsur suara maupun unsur gambar berasal dari satu sumber seperti film video-cassette
• Audiovisual Tidak Murni
Yaitu unsur suara dan unsur gambarnya berasal dari tape recorder
Dilihat dari daya Liputnya , Media dibagi dalam:
a. Media dengan Daya Liput Luas dan Serentak
Penggunaan media ini tidak terbatas oleh tempat dan ruang serta dapat menjangkau jumlah anak didik yang banyak dalam waktu sama. Contoh : Radio dan Televisi
b. Media dengan Daya Liput yang Terbatas oleh Ruang dan Tempat
Dalam penggunaannya membutuhkan ruang dan tempat yang khusus seperti film, sound slide, film rangkai yang harus menngunakan tempat yang tertutup dan gelap.
c. Media untuk Pengajaran Individual
Penggunaannya hanya untuk seorang diri misalnya modul berprogram dan pengajaran melalui komputer.
Dilihat dari Bahan Pembuatannya
a. Media Sederhana
Bahan dasarnya mudah diperoleh dan harganya murah, cara pembuatanya mudah dan penggunaanya tidak sulit.
b. Media Kompleks
Adalah media yang bahan dan alat pembuatanya sulit diperoleh serta mahal harganya , sulit membuatnya dan penggunaannya memerlukan ketrampilan yang memadai.
Oleh sebab itu , apabila mengunakan media guru harus mmepertimbangkan jenis dan karakteristik yang tepat untuk menunjang pencapaian tujuan pengajaran.
Dilihat dari Jenisnya, Media dibagi kedalam:
a. Media Auditif
Adalah media yang hanya mengandalkan kemampuan suara saja. Contoh : Radio, Cassette recorder, piringan hitam
Media ini tidak cocok untuk oran tuli atau yang bermasalah dengan pendengaran
b. Media Visual
Adalah media yang hanya mengandalkan indra penglihatan . Media visual ini ada yang menampilkan gambar diam seperti slide foto. Strip (film rangkai), gambar , lukisam, film bisu dan film kartun
c. Media Audiovisual
Adalah media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar. Jenis media ini lebih baik dibandingkan kedua jenis media yang pertama dan kedua, dan Media ini dibagi kedalam ”
i. Audiovisual Diam
Yaitu media yang menampilkan suara dan gambar diam seperti bingkai suara (sound slide), Film rangkai suara dan cetak suara.
ii. Audiovisual Gerak
Yaitu medi yang dapat menampilkan unsur suara dan gambar yangbergerak seperi film suara dan video cassette.
Pembagian lain dari media ini adalah
• Audiovisual Murni
Yaitu baik unsur suara maupun unsur gambar berasal dari satu sumber seperti film video-cassette
• Audiovisual Tidak Murni
Yaitu unsur suara dan unsur gambarnya berasal dari tape recorder
Dilihat dari daya Liputnya , Media dibagi dalam:
a. Media dengan Daya Liput Luas dan Serentak
Penggunaan media ini tidak terbatas oleh tempat dan ruang serta dapat menjangkau jumlah anak didik yang banyak dalam waktu sama. Contoh : Radio dan Televisi
b. Media dengan Daya Liput yang Terbatas oleh Ruang dan Tempat
Dalam penggunaannya membutuhkan ruang dan tempat yang khusus seperti film, sound slide, film rangkai yang harus menngunakan tempat yang tertutup dan gelap.
c. Media untuk Pengajaran Individual
Penggunaannya hanya untuk seorang diri misalnya modul berprogram dan pengajaran melalui komputer.
Dilihat dari Bahan Pembuatannya
a. Media Sederhana
Bahan dasarnya mudah diperoleh dan harganya murah, cara pembuatanya mudah dan penggunaanya tidak sulit.
b. Media Kompleks
Adalah media yang bahan dan alat pembuatanya sulit diperoleh serta mahal harganya , sulit membuatnya dan penggunaannya memerlukan ketrampilan yang memadai.
Oleh sebab itu , apabila mengunakan media guru harus mmepertimbangkan jenis dan karakteristik yang tepat untuk menunjang pencapaian tujuan pengajaran.
Prinsip-prinsip pemilihan dan Penggunaan Media
Drs Sudirman N ( 1991) mengemukakan beberapa prinsip pemilihan media pengajaran yang dibagi dalam tiga kategori yaitu :
Drs Sudirman N ( 1991) mengemukakan beberapa prinsip pemilihan media pengajaran yang dibagi dalam tiga kategori yaitu :
1) Tujuan Pemilihan
Memilih
media yang akan digunakan harus berdasarkan maksud dan tujuan pemilihan
yang jelas misalnya sasaran seperti anak TK, SD SMP,SMU, Tuna rungu
Tuna netra, masyarakat pedesaan, perkotaan. Tujuan pemilihan ini
berkaitan dengan kemampuan berbagai media.
2) Karakteristik Media Pengajaran
Memahami
karakteristik berbagai media pengajaran merupakan kemampuan pada guru
untuk menggunakan berbagai jenis media pengajaran secara variasi,
sedangkan apabila kurang memahami karateristik media tersebut, guru akan
mengahadapi kesulitan dan cenderang bersikap spekulatif.
3) Alternatif Pilihan
Memilih artinya proses membuat keputusan dari berbagai alternatif pilihan.
Dari
segi teori belajar prinsip-prinsip psikologis yang perlu mendapat
pertimbangan dalam pemilihan dan penggunaan media adalah :
1. Motivasi siswa
2. Perbedaan Individual siswa
3. Tujuan Pembelajaran
4. Organisasi isi
5. Persiapan sebelum belajar
6. Emosi siswa
7. Partisipasi
8. Umpan Balik
9. Penguatan (Reinforcement)
10. Latihan dan Pengulangan
11. Penerapan
Prinsip
prinsip menurut Dr nana Sudjana (1991 :104) yang harus diperhatikan
agar penggunaan media tersebut dapat mencapai hasil yang baik adalah :
1. Menentukan jenis media dengan tepat.
Artinya sebaiknya guru memilih terlebih dahulu media yang sesuai dengan tujuan dan bahan pelajaran yang akan diajarkan
2. Menetapkan atau memperhitungkan subjek dengan tepat.
Artinya memperhitungkan penggunaan media tersebut telah sesuai dengan tingkat kematangan / kemampuan anak didik
3. Menyajikan media dengan tepat
Artinya
teknik dan metode penggunaan media dalam pengajaran harus disesuaikan
dengan tujuan, bahan metode,waktu dan sarana yang ada.
4. Menempatkan atau memperlihatkan media pada waktu, tempat dan situasi yang tepat.
Artinya Waktu ,tempat serta kondisi lingkungan saat media mengajar digunakan.
Teknik-teknik Mendapatkan Umpan Balik
Memancing Appersepsi Anak Didik
Sebelum saya membahas masalah bagaimana cara memancing apersepsi anak didik, saya akan membahas masalah peranan guru, Peranan guru artinya keseluruhan tingkah laku yang harus dilakukan guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai guru (Surya, 1997: 108). Guru mempunyai peranan yang amat luas, baik di sekolah, di dalam keluarga, dan di dalam masyarakat.
Sebelum saya membahas masalah bagaimana cara memancing apersepsi anak didik, saya akan membahas masalah peranan guru, Peranan guru artinya keseluruhan tingkah laku yang harus dilakukan guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai guru (Surya, 1997: 108). Guru mempunyai peranan yang amat luas, baik di sekolah, di dalam keluarga, dan di dalam masyarakat.
Disekolah
guru berperan sebagai perancang atau perencana, pengelola pengajaran
dan pengelola hasil pembelajaran siswa. Peranan guru di sekolah
ditentukan oleh kedudukannya sebagai orang dewasa, sebagai pengajar dan
pendidik , yakni sebagai guru. Berdasarkan kedudukannya sebagai guru, ia
harus menunjukkan perilaku yang layak (bisa dijadikan teladan oleh
siswanya). Tuntutan masyarakat khususunya siswa dari guru dalam aspek
etis, intelektual dan sosial lebih tinggi daripada yang dituntut dari
orang dewasa lainnya. (Tohirin, 2005: 152).
Sejauh
mana bahan yang telah diterangkan dapat mereka mengerti. Sering kali
cara demikian tidak mungkin terlaksana, karena memerlukan waktu cukup
banyak. Namun kadang kala cara tersebut dapat sangat bermanfaat, karena
itu salah satu cara memancing apersepasi anak didik.Umpan balik tidak
sama dengan penilaian. Umpan balik hanya dimaksudkan untuk mencari
informasi sampai dimana murid mengerti bahan yang telah dibahas. Selain
itu murid atau mahasisiwa juga diberi kesempatan untuk memeriksa diri
sampai di mana mereka mengerti bahan tersebut. Sehingga mereka dapat
melengkapi pengertian-pengertian yang belum lengkap.
Itulah
tadi bentuk-bentuk umpan balik yang dimaksudkan untuk melihat. Sejauh
mana suatu penjelasan dapat tersampaikan secara baik. Dan dari sini
kiranya saya telah mengetahui bahwa ada berbagai macam bentuk umpan
balik. Pilihan tentu saja paling tergantung pada pengajar yang
bersangkutan sendiri. Hal yang paling penting adalah sejauh mana uraian
yang diberikan dapat diterima secara jelas oleh murid. Pada umumnya
pengajar kurang memikirkan perlunya mengadakan umpan balik seperti itu.
Setelah seluruh kursus atau seluruh rangkaian pelajaran selesai
diberikan. Terlihat pada waktu ujian bahwa murid belum mengerti secara
baik bahan yang diajarkan. Dan itu berarti suatu keterlambatan.
Sebaliknya, bilamana pengajar menyadari pentingnya umpan balik. Maka
pengajaran yang ia berikan akan menjadi lebih efektif.
PESERTA DIDIK
Peserta
didik adalah Sang Anak yang merupakan milik Sang Pencipta dan milik
dirinya sendiri, keberhasilannya akan sangat tergantung dari pemanfaatan
potensi yang dia miliki. Karenanya keaktifan peserta didik dalam
menjalani proses belajar mengajar merupakan salah satu kunci
keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan.
Peserta
didik akan aktif dalam kegiatan belajarnya bila ada motivasi, baik itu
motivasi ekstrinsik maupun instrinsik. Beberapa hal yang dapat
merangsang tumbuhnya motivasi belajar aktif pada diri peserta didik,
antara lain :
Penampilan guru yang hangat dan menumbuhkan partisipasi positif
Sikap
guru tampil hangat, bersemangat, penuh percaya diri dan antusias, serta
dimulai dan pola pandang bahwa peserta didik adalah manusia-manusia
cerdas berpotensi, merupakan faktor penting yang akan meningkatkan
partisipasi aktif peserta didik. Segala bentuk penampilan guru akan
membias mewarnai sikap para peserta didiknya. Bila tampilan guru sudah
tidak bersemangat maka jangan harap akan tumbuh sikap aktif pada diri
peserta didik. Karena itu hendaknya seorang guru dapat selalu
menunjukkan keseriusannya terhadap pelaksanaan proses, serta dapat
meyakinkan bahwa materi pelajaran serta kegiatan yang dilakukan
merupakan hal yang sangat penting bagi peserta didik, sehingga akan
tumbuh minat yang kuat pada diri para peserta didik yang bersangkutan.
Peserta didik mengetahui maksud dan tujuan pembelajaran
Bila
peserta didik telah mengetahui tujuan dari pembelajaran yang sedang
mereka ikuti, maka mereka akan terdorong untuk melaksanakan kegiatan
tersebut secara aktif. Oleh karena itu pada setiap awal kegiatan guru
berkewajiban memberi penjelasan kepada peserta didik tentang apa dan
untuk apa materi pelajaran itu harus mereka pelajari serta apa
keuntungan yang akan mereka peroleh. Selain itu hendaknya guru tidak
lupa untuk mengadakan kesepakatan bersama dengan para peserta didiknya
mengenai tata tertib belajar yang berlaku agar kegiatan pembelajaran
dapat berlangsung lebih efektif.
Begitu
pula halnya dengan faktor situasi dan kondisi lingkungan yang juga
penting untuk diperhatikan, jangan sampai faktor itu memperlunak
semangat dan keaktifan peserta didik dalam mengikuti kegiatan
belajar.Adanya prinsip pengakuan penuh atas pribadi setiap peserta didik
Agar kesadaran akan potensi, eksistensi, dan percaya diri pada diri
peserta didik dapat terus tumbuh, maka guru berkewajiban menjaga situasi
interaksi agar dapat berlangsung dengan berlandaskan prinsip pengakuan
atas pribadi setiap individu. Sehingga kemampuan individu, pendapat atau
gagasan, maupun keberadaannya perlu diperhatikan dan dihargai. Dan yang
penting lagi guru hendaknya rajin memberikan apresiasi atau pujian bagi
para peserta didik, antara lain dengan mengumumkan hasil prestasi,
mengajak peserta didik yang lain memberikan selamat atau tepuk tangan,
memajang hasil karyanya di kelas atau bentuk penghargaan lainnya.Adanya
konsistensi dalam penerapan aturan atau perlakuan oleh guru di dalam
proses belajar mengajar.
D. Jenis kegiatan Pembelajaran menarik atau menyenangkan dan menantang
Agar
peserta didik dapat tetap aktif dalam mengikuti kegiatan atau
melaksanakan tugas pemebelajaran perlu dipilih jenis kegiatan atau tugas
yang sifatnya menarik atau menyenangkan bagi peserta didik di samping
juga bersifat menantang. Pelaksanaan kegiatan hendaknya bervariasi,
tidak selalu harus di dalam kelas, diberikan tugas yang dikerjakan di
luar kelas seperti di perpustakaan, dan lain-lain. Penerapan model
œbelajar sambil bekerja (learning by doing) sangat dianjurkan, di
jenjang sekolah dasar antara lain dilakukan belajar sambil bernyanyi
atau belajar sambil bermain. Untuk lebih mengaktifkan peserta didik
secara merata dapat diterapkan pemberian tugas pembelajaran secara
individu atau kelompok belajar (group learning) yang didukung adanya
fasilitas/sumber belajar yang cukup. Sekiranya tersedia dianjurkan
penggunaan media pembelajaran sehingga pelaksanaan pembelajaran dapat
lebih efektif. Penilaian hasil belajar dilakukan serius, obyektif,
teliti dan terbuka.
Penilaian
hasil belajar yang tidak serius akan sangat mengecewakan peserta didik,
dan hal itu akan memperlemah semangat belajar. Karena itu, agar
kegiatan penilaian ini dapat membangun semangat belajar para peserta
didik maka hendaknya dilakukan serius, sesuai dengan ketentuannya,
jangan sampai terjadi manipulasi, sehingga hasilnya dapat obyektif.
Hasil penilaiannya diumumkan secara terbuka atau yang lebih baik
dibuatkan daftar kemajuan hasil belajar yang ditempel di kelas. Dari
daftar kemajuan belajar tersebut setiap peserta didik dapat melihat
prestasi mereka masing-masing tahap per tahap.Jika siswa belum biasa
bekerja efektif dalam kelompok, maka guru boleh menetapkan tugas
masing-masing anggota kelompok dengan mempertim-bangkan beberapa hal
seperti;kelompok itu kecil (dua sampai tiga siswa) dan guru menetapkan
anggota kelompok tugas itu dapat dilaksanakan dalam waktu yang singkat
saja tugas itu sederhana perintah-perintah jelas dan diberikan
selangkah-demi-selangkah
guru
perlu menyediakan sumber belajar guru menerangkan dengan jelas peran
setiap siswa di dalam kelompok penilaian bersifat informal dan guru
perlu membahas dan mendiskusikan tugas itu dengan siswa Hal penting dari
tugas ini adalah belajar bekerjasama. peran siswa dalam kelompok dapat
beragam dan beberapa keputusan tentang peran ini dapat dibuat oleh
siswa-siswa
Memanfaatkan Teknik Alat Bantu yang Akseptable
Ada beberapa macam alat Bantu yang dapat diterima oleh siswa, agar mereka mudah memahami pelajaran diantaranya adalah:
1. AUDIO VERBAL
Cara
ini menyajikan contoh situasi nyata atau contoh situasi buatan dalam
sajian tayangan hidup (film). Tentu saja, cara ini lebih mudah menjadi
pengalaman belajar kalau sajian tayangan mengandung unsur cerita yang
berkaitan dengan pengalaman dan imajinasi siswa. Pencapaian kompetensi
tentang sikap/attitude seperti pada mata pengajaran Kewarganegaraan dan
Pendidikan Agama, akan sangat membantu kalau dikemas dalam suatu cerita
tayangan hidup yang menyentuh dimensi emosi dan perasaan. Alat audio
visual dapat membantu anak-anak belajar dengan menyajikan dalam bentuk
yang kongkrit. Film, film strip, model-model, dan lain memepermudah
pengertian tentang konsep dan proses tertentu. Pengalaman belajar berupa
eksperimen dalam laboratorium bermanfaat sekali untuk memahami ide atau
pengartian yang sulit. (Brooks, J.G. & Brooks, M.G. 1993: 9)
2. VISUALILASI VERBAL
Tak
semua murid sanggup belajar dengan cara verbal yang abstrak. Alat
audio-visual diperlukan untuk membantu mereka. Akan tetapi tak semua
bahan harus disampaikan secara kongkrit. Kebanyakan pelajar dapat dan
harus disampaikan secara verbal akan tetapi untuk bagian-bagian tertentu
alat audio-visual atau alat intruksional pada umumnya sangat berguna
untuk mempermudah dan memepercepat pemahaman bagi murid-murid
tertentu.apa yang dikemukakan diatas merupakan usaha uantuk mempertinggi
mutu mengajar agar murid-murid dapat memahami apa yang diajarkan tanpa
komunikasi yang baik antara guru dan murid proses mengajar-belajar tidak
akan berjalan dengan efektif. Sekalipun terdapat komunikasi yang baik
masih dapat diharapkan bahwa selalu terdapat kekurang pahaman.
Guru
terbiasa menggunakan cara audio-verbal dalam bentuk ceramah. Pada
keadaan ini, siswa senantiasa diam-pasif sambil mendengarkan penjelasan
guru. Kekurangan atau kelemahan cara ini adalah ada sebagian siswa tidak
mudah untuk menyamakan informasi yang diceramahkan guru dengan
pengetahuan awal siswa. Kalau keadaan ini berkelanjutan, peristiwa
belajar cenderung tidak berlangsung. Untuk mengatasinya, guru harus
mengurangi cara ini, atau kalau terpaksa perlu berceramah cukup antara
20 – 25 menit saja dan diselingi dengan kegiatan yang mendorong Lihat
– Raba – Bau – Rasa. Materi yang diceramahkan pun perlu
kontekstual dengan pengalaman sebagian besar siswa. ( Harlen, W. 1987:
12)
Buku
pelajaran, tak semua sama baiknya, hendaknya ada beberapa buku yang
harus dimiliki dalam satu pelajaran karena dalam buku yang satu mungkin
lebih jelas dan mudah dipahami dalam buku yang lain. Buku kerja, di
samping buku pelajaran ada buku kerja untuk membantu murid mengenang dan
mengelolah buah pikiran pokok dari buku pelajaran.
Media cetak, seperti buku, modul dan lain-lain. (Nazulia, 1982: 45)
Dalam
mengelola kegiatan pembelajaran, guru perlu merencanakan tugas dan alat
belajar yang menantang, pemberian umpan balik, dan penyediaan program
penilaian yang memungkinkan semua siswa mampu ˜unjuk kemampuan/
mendemonstrasikan kinerja (performance). sebagai hasil belajar. Inti
dari penyediaan tugas menantang ini adalah penyediaan seperangkat
pertanyaan yang mendorong siswa bernalar atau melakukan kegiatan ilmiah.
Karena itu, dalam pengelolaan kegiatan pembelajaran ini guru perlu
memiliki kemampuan merancang pertanyaan produktif dan mampu menyajikan
pertanyaan sehingga memungkinkan semua siswa terlibat baik secara mental
maupun secara fisik.Dengan demikian, sedikitnya ada tiga hal strategis
yang perlu dikuasai guru dalam pengelolaan kegiatan pembelajaran yaitu,
penyediaan pertanyaan yang mendorong berpikir dan berproduksi,
penyediaan umpan balik yang bermakna, dan penyediaan penilaian yang
memberi peluang semua siswa mampu melakukan unjuk-perbuatan.
Penyediaan Pertanyaan yang Mendorong Siswa Berpikir dan Berproduksi
Alat
mengajar yang paling murah tetapi ampuh adalah bertanya. Pertanyaan
dapat membuat siswa berpikir. Apa tujuan Saudara sebagai guru bertanya
kepada siswa?
Tujuan bertanya Mengharap jawaban benar?
Seberapa besar kemungkinan siswa menjawab jika mereka tidak yakin jawabannya benar?
Merangsang siswa berpikir dan berbuat? Akibatnya siswa sering tak berani menjawab pertanyaan guru sekalipun jawabannya mudah
jika
salah satu tujuan mengajar adalah mengembangkan potensi siswa untuk
berpikir, maka tujuan bertanya hendaknya lebih pada ‘merangsang siswa
berpikir’. Merangsang berpikir dalam arti ˜merangsang siswa
menggunakan gagasan sendiri dalam menjawabnya bukan mengulangi gagasan
yang sudah dikemukakan guru. Kategori pertanyaan yang termasuk jenis
pertanyaan ini antara lain pertanyaan produktif, terbuka, dan
imajinatif. Pertanyaan ini dapat digunakan untuk tujuan merangsang siswa
berpikir.
Kategori Arti Contoh Terbuka Pertanyaan yang memiliki lebih dari satu jawaban benar Mengapa Ibukota Indonesia Jakarta ?
Apa yang akan terjadi jika di kota besar tidak ada pemulung sampah?
Produktif
Pertanyaan yang hanya dapat dijawab melalui pengamatan, percobaan, atau
penyelidikan. Apa perbedaan gerak bekicot di lantai licin dengan di
lantai kasar?
Berapa banyak biji buah pepaya ini?
Imajinatif
/ Interpretatif Pertanyaan yang jawaban nya diluar benda / gambar /
kejadian yang diamati (Diperlihatkan gambar gadis termenung di pinggir
laut)
Apa yang dipikirkan gadis itu?
Mengapa ia berdiri di situ?
Menggunakan Metode yang Bervariasi
Dengan
cara mengajar yang biasa guru tidak akan mencapai penguasaan tuntas
oleh murid. Usaha guru itu harus di Bantu dengan mengunakan bantuan
seperti â€Å“feedback†atau umpan balik yang terperinci kepada guru
maupun murid, sumber dan metode-metode pengajaran tamabahan di mana saja
diperlukan usaha tambahan itu dimaksud untuk memperbaiki mutu
pengajaran dan meningkatkan kemampuan anak memahami apa yang diajarkan
dan dengan demikian mengurangi jumlah waktu untuk menguasai bahan
pelajaran sepenuhnya.
Feedback
atau umpan balik diberikan melalui test-test formatif. Mula-mula bahan
pelajaran di bagi dalam satuan-satuan pelajaran. Suatu satuan pelajaran
misalnya meliputi bahan pelajaran satu baba atau buku yang dapat
dikuasai dalam waktu satu atau dua minggu. Test formatif itu bersifat
diagnostik dan serentak menunjukan kemajuan atau keberhasilan anak.
Banyak sekali metode-metode yang dapat digunakan dalam menimbulkan feedback antara lain:
- Belajar kelompok, belajar atau saling membantu dalam pelajaran. Merid sering lebih paham akan apa yang disampaikan oleh temannya, dari pada guru, biasa cara belajar yang digunakan oleh murid lebih mudah ditangkap oleh murid lain. Maka memanfaatkan batuan murid dapat meningkatkan pemahaman dan penguasaan bahan pelajaran.
- Bantuan tutor, yaitu orang yang dapat membantu murid secara individual. Sebaiknya orang itu jangan gurunya sendiri sehingga ia dapt memberi bantuan dengan cara yang lain dari pada guru itu. Hendaknya di usahakan agar murid selekas mungkin dapat membebaskan diri dari bantuan tutor. Jadi tutor harus mendidik anak agar dapat belajar sendiri.
- Pelajaran beprogram, ini juga merupakan bantuan agar murid menguasai bahan pelajaran melalui langkah-langkah pendek, tanpa bantuan guru pelajar akan mengalami kesulitan dalam memahami pelajaran. (Syaipul Bahri Djamarah, 2002: 25)
Secara
singkat dan umum, metode serimg dipahami sebagai cara atau jalan yang
ditempuh seseorang dalam melakuan suatu kegiatan. Berkaitan dengan
psikologi belajar, termasuk psikologi pembelajaran Pendidikan Agama
Islam, metode-metode tertentu untuk memgumpulkan berbagai data dan
informasi penting yang bersifat psikologis dan berkaitan dengan kegiatan
proses pembelajaran. Di dalam proses pembelajaran, termasuk proses
pembelajaran pendidikan agama Islam, sangat banyak data psikologis. Data
itu bisa dikumpulkn dengan berbagai cara
Riset-riset psikologi berkenaan dengan pembelajaran Pendidikan Agama Islam, dapat memanfaatkan berbagai metode tertentu seperti:
- Pada prinsipnya, metode eksperimen merupakan serangkaian percobaan yang dilakukan eksperimenter di dalam laboratorium atau ruang tertentu lainnya. Teknik pelaksanaan metode eksperimen dengan menyesuaikan data yang akan diangkat, seperti data pendengaran siswa, penglihatan siswa dan gerak mata siswa ketika sedang membaca. Selain itu eksperimen dapat pula digunakan untuk mengukur kecepatan bereaksi seorang peserta didik terhadap stimulus tertentu dalam proses belajar.
- Penggunaan metode kuesioner dalam riset-riset pendidikan termasuk pendidikan islam dan psikologi pembelajran Pendidikan Agama Islam, relative lebih menonjol apabila dibandingkan penggunaan metode-metode lainnya.
- Metode Studi KasusRiset Psikologi Pembelajaran Pendidkan Agama Islam selain menggunakan metode studi kasus. Studi kasus (Icase study) dalam kakian psikologi merupakan sebuah metode penelitian yang digunakan untuk memperoleh gambaran yang terperinci mengenai aspek-aspek psikologi seoarang siswa atau sekelompok siswa tertentu.
- Metode Klinis Metode klinis (clinical method) hanya digunakan oleh para ahli psikologi klinis atau psikiater. Dalam metode ini, terdapat prosedur diagnosis dan penggolongan penyakit kelainan jiwa serta cara-cara memberi perlakuan pemulihan (psychological treatment) terhadap kelainan jiwa tersebut.
- Metode Observasi NaturalistikMetode obsevasi naturalistik merupakan jenis obsevasi yang dilakukan secara alamiah. Dalam hal ini, peneliti berada di luar objek yang diteliti atau ia tidak menampakkan diri sebagai orang yang melakukan penelitian. Awalnya, metode naturalistik lebih banyak digunakan oleh para ahli ilmu hewan untuk mempelajari perilaku hewan tertentu. Dalam perkembangan selanjutnya, metode observasi naturalistic digunakan oleh para psikolog perkembangan, psikolog kongnitif, an psikolog pendidikan.
Seorang
peneliti atau guru yang menjai asistennya dapat mengaplikasikan metode
ini lewat kegiatan belajar mengajar atau belajar mengajar dalam
kelas-kelas regular, yakni kelas tata dan biasa, bukan kelas yang
diadakan secara khusus. Selama proses belajar mengajar berlansung, jenis
perilaku siswa diteliti, (misalnya kecepatan membaca), dicatat dalam
lembaran format observasi yang khusus dirancang sesuai dengan data dan
informasi yang akan dihimpun. (Hamalik, 1992:15)
Beberapa contoh keragaman pengalaman belajar yang mungkin dipilih guru untuk beberapa mata pelajaran meliputi antara lain;
Menggubah syair lagu dan bernyanyi
Melakukan Permainan
Bermain peran
Diskusi (bertanya, menjawab, berkomentar, mendengar penjelasan, menyanggah)
Mereka
dapat diberi suatu kumpulan peralatan yang tepat dan suatu pertanyaan
untuk diselidiki. Kelas dapat mendiskusikan jenis data yang perlu
dikumpulkan. Kemudian, mereka merancang prosedur eksperimennya sendiri,
mengumpulkan data dan selanjutnya menyusun suatu kesimpulan.
Mereka
dapat diberi pertanyaan penelitian eksperimen terbuka (tidak terbatas),
yakni diberi hanya rincian topik yang sedang dibicarakan dan mungkin
beberapa gagasan tentang beberapa aspek topik yang akan mereka selidiki.
dalam kegiatan seperti itu, mereka perlu merumuskan hipotesis,
merancang metode eksperimen, memilih peralatan yang tepat, mengumpulkan
data, mengatur data dan menyusun suatu kesimpulan. (Soemanto Wasty,
2003: 43)
Pengembangan Variasi Mengajar
Pada dasarnya semua orang tidak menghendaki adanya kebosanan
dalam hidupnya. Sesuatu yang membosankan adalah sesuatu yang tidak
menyenangkan. Merasakan makanan yang terus-menerus akan menimbulakan kebosanan.
Orang akan lebih suka bila hidup itu diisi dengan penuh variasi dalam arti kata
positif. Makan makanan yang bervariasi Mendengarkan lagu-lagu baru lebih
menyenangkan daripada lagu-lagu yang tiap hari didengar. Rekreasi pada dasarnya
juga mengurangi kebosanan pandangan ditempat asalnya. Mengatur alat rumah
tangga sering berganti, akan membuat orang lebih senang dirumah daripada pergi.
Demikian juga dalam proses belajar mengajar . Bila guru dalam proses belajar
mengajar tidak menggunakan variasi, maka akan membosankan siswa, perhatian
siswa berkurang, mengantuk, dan akibatnya tujuan belajar tidak tercapai. Dalam
hal ini guru memerlukan adanya variasi dalam mengajar siswa.
Pengertian Variasi Gaya Mengajar
Keterampilan mengadakan variasi dalam proses belajar
mengajar akan meliputi tiga aspek, yaitu variasi dalam gaya mengajar, variasi
dalam menggunakan media dan bahan pengajaran, dan variasi dalam interaksi
antara guru dan siswa.
Apabila ketiga komponen tersebut dikombinasikan dalam
penggunaannya atau secara integrasi, maka akan meningkatkan perhatian siswa,
membangkitkan keinginan dan kemampuan belajar. Keterampilan dalam mengadakan
variasi ini lebih luas penggunaannya daripada keterampilan lainnya, karena
merupakan keterampilan campuran atau diinegrasikan dengan keterampilan yang
lain. Misalnya, cariasi dalam memberikan penguatan, variasi dalam memberi
pertanyaan, dan variasi dalam tingkat kognitif.
Dalam proses belajar mengajar ada variasi bila guru dapat
menunjukkan adanya perubahan dalam gaya mengajar, media yang digunakan
berganti-ganti, dan ada perubahan dalam pola interaksi antara guru-siswa,
siswa-guru dan siswa-siswa. Variasi lebih bersifat proses daripada produk.
Pengertian Variasi Gaya Mengajar
Pengertian Variasi Gaya Mengajar
Ada beberapa pendapat berkenaan dengan Variasi gaya
mengajar. Meliputi:
- Menurut Uzer Usman variasi adalah suatu kegiatan guru dalam kontek proses interaksi belajar mengajar yang ditujukan untuk mengatasi kebosanan murid, sehingga dalam situasi belajar mengajar. Murid senantiasa menunjukkan ketekunan, antusiasme serta penuh partisipasi.
- Menurut Abu Ahmadi gaya mengajar adalah tingkah laku, sikap dan perbuatan guru dalam melaksanakan proses pengajaran.
- Menurut Abdul Qadir Munsyi, gaya mengajar adalah gaya yang dilakukan guru pada saat mengajar di muka kelas.
- Menurut Syahminan Zaini, gaya mengajar adalah gaya atau tindak-tanduk guru sebagai pernyataan kepribadiannya dalam menyampaikan bahan pelajarannya kepada siswa.
Dari definisi di atas, bisa ditarik kesimpulan bahwa variasi
gaya mengajar adalah pengubahan tingkah laku, sikap dan perbuatan guru dalam
kontek belajar mengajar yang bertujuan untuk mengatasi kebosanan siswa,
sehingga siswa memiliki minat belajar yang tinggi terhadap pelajarannya. Dan
ini bisa dibuktikan melalui ketekunan, antusiasme, keaktifan mereka dalam
belajar dan mengikuti pelajarannya di kelas.
Anak tidak bisa dipaksakan untuk terus menerus memusatkan
perhatiannya dalam mengikuti pelajarannya, apalagi jika guru saat mengajar
tanpa menggunakan variasi alias monoton yang membuat siswa kurang perhatian,
mengantuk, dan bosan. Untuk mengatasi kebosanan siswa tersebut perlu adanya variasi,
dalam keterampilan mengadakan variasi dalam proses belajar mengajar ada tiga
aspek, yaitu :
1) Variasi gaya mengajar
2) Variasi dalam menggunakan media
3) Variasi dalam interaksi antara guru dengan siswa.
Tujuan Variasi Mengajar
Penggunaan variasi terutama ditujukan terhadap perhatian
siswa, motivasi dan belajar siswa. Tujuan mengadakan variasi dimadsud adalah :
Dalam proses belajar mengajar, kegiatan siswa menjadi pusat perhatian guru. Untuk itu agar kegiatan pengajaran dapat merangsang siswa untuk aktif dan kreatif belajar tentu saja diperlukan lingkungan belajar yang kondusif. Salah satu upaya kearah itu adalah dengan cara memperhatikan beberapa prinsip penggunaan variasi dalam mengajar. Prinsip-prinsip tersebut adalah :
Meningkatkan dan Memelihara Perhatian Siswa Terhadap
Relevansi Proses Belajar Mengajar
Dalam proses belajar mengajar perhatian dari siswa terhadap
materi pelajaran yang diberikan sangat dituntut. Sedikitpun tidak diharapkan
adanya siswa yang tidak atau kurang memperhatikan penjelasan guru, karena hal
itu akan menyebabkan siswa tidak mengerti akan bahan yang diberikan guru.
Dalam jumlah siswa yang besar biasanya ditemukan kesukaran
untuk mempertahankan agar perhatian siswa tetap pada materi pelajaran yang
diberikan. Berbagai factor memang mempengaruhi. Misalnya factor penjelasan guru
yang kurang mengenai sasaran, situasi diluar kelas yang dirasakan siswa lebih
menarik daripada materi pelajaran yang diberikan guru, siswa yang kurang
menyenangi materi yang diberikan guru.
Fokus permasalahan pentingnya perhatian ini dalam proses
belajar mengajar, karena dengan perhatian yang diberikan siswa terhadap materi
pelajaran yang guru jelaskan, akan mendukung tercapainya tujuan pembelajaran
yang akan dicapai.
Tecapainya tujuan pembelajaran tersebut bila setiap siswa
mencapai penguasaan terhadap materi yang diberikan dalam suatu pertemuan kelas.
Indikator penguasaan siswa terhadap materi pelajaran adalah terjadinya
perubahan di dalam diri siswa. Jadi, perhatian adalah masalah yang tidak bias
dikesampingkan dalam konteks pencapaian tujuan pembelajaran.
Karena itu, guru memperhatikan variasi mengajarnya, apakah
sudah dapat meningkatkan dan memelihara perhatian siswa terhadap materi yang
dijelaskan atau belum.
Memberikan Kesempatan Kemungkinan Berfungsinyanya
Motivasi
Motivasi memegang peranan penting dalam belajar. Seorang
siswa tidak akan dapat belajar dengan baik dan tekun jika tidak ada motivasi di
dalam dirinya. Bahkan tanpa motivasi, seorang siswa tidak akan melakukan
kegiatan belajar. Maka dari itu, guru selalu memperhatikan masalah motivasi ini
dan berusaha agar tetap tergejolak di dalam diri setiap siswa selama pelajaran
berlangsung.
Dalam proses belajr mengajr di kelas, tidak setiap siswa
mempunyai motivasi yang sama terhadap sesuatu bahan. Untuk bahan tertentu boleh
jadi seorang siswa menyenanginya, tetapi bahan yang lain boleh jadi siswa
tersebut tidak menyenanginya. Ini merupakan masalh bagi guru dalam setiap kali
mengadakan pertemuan. Guru selalu dihadapkan pada masalah motivasi. Guru selalu
ingin memberikan motivasi terhadap siswanya yang kurang memperhatikan materi
pelajaran yang diberikan.
Bagi siswa yang sering memperhatikan materi pelajran yang
diberikan, bukanlah masalah bagi guiru. Karena di dalam diri siswa tersebut
sudah ada motivasi, yaitu motivasi intrinsik. Siswa yang demikian biasanya
dengan kesadarannya sendiri memperhatikan penjelasan guru. Rasa ingin tahunya
lebih banyak terhadap materi pelajaran yang diberikan. Berbagai gangguan yang
ada disekitarnya kurang dapt mempengaruhinya agar memecahkan perhatiannya.
Lain halnya bagi siswa yang tidak ada motivasi di dalam
dirinya, maka motivasi ekstrinsik yang merupakan dorongan dari luar dirinya
mutlak diperlukan. Disini peranan guru lebih dituntut untuk memerankan fungsi
motivasi, yaitu motivasi sebagai alat yang mendorong manusia untuk berbuat,
motivasi sebagai alat yang menentukan arah perbuatan, dan motivasi sebagai alat
untuk menyeleksi perbuatan.
Membentuk Sikap Positif terhadap Guru dan Sekolah
Adalah suatu kenyataan yang tidak bisa dipungkiri bahwa di
kelas ada siswa tertentu yang kurang senang terhadap seorang guru. Sikap
negative ini tidak hanya terjadi pada siswa, tetapi juga pada siswi.
Konsekuensinya bidang studi yang dipegang oleh guru tersebut juga menjadi tidak
disenangi. Acuh tak acuh sering ditunjukkan lewat sikap dan perbuatan ketika
guru tersebut sedang memberikan materi pelajaran di kelas.
Metode mengajar yang dipergunakan itu-itu saja. Misalnya
hanya menggunakan metode ceramah untuk setiap kali melaksanakan tugas mengajar
di kelas. Tidak pernah terlihat menggunakan metode yang lain. Misalnya metode
diskusi, resitasi, Tanya jawab, problem solving atau cerita.
Guru yang bijaksana adalah guru yang pandai menempatkan diri
dan pandai mengambil hati siswa. Dengan sikap ini siswa merasa diperhatikan oleh
guru. Siswa selalu ingin dekat dengan guru. Ketiadaan guru barang sehari di
sekolah tidak jarang dipertanyakan. Siswa merasa rindu untuk selalu dekat di
sisi guru. Guru seperti itu biasanya karena gaya mengajarnya dan pendekatannya
yang sesuai dengan psikologis siswa. Variasi mengajarnya mempunyai relevansi
dengan gaya belajar siswa. Di sela-sela penjelasan selalu diselingi humor
dengan pendekatan yang edukatif, jauh dari sikap permusuhan.
Prinsip PenggunaanDalam proses belajar mengajar, kegiatan siswa menjadi pusat perhatian guru. Untuk itu agar kegiatan pengajaran dapat merangsang siswa untuk aktif dan kreatif belajar tentu saja diperlukan lingkungan belajar yang kondusif. Salah satu upaya kearah itu adalah dengan cara memperhatikan beberapa prinsip penggunaan variasi dalam mengajar. Prinsip-prinsip tersebut adalah :
- Variasi hendaknya digunakan dengan suatu maksud tertentu yang relevan dengan tujuan yang hendak dicapai. Dalam menggunakan keterampilan variasi sebaiknya semua jenis variasi digunakan. Disamping itu juga harus ada variasi penggunaan komponen untuk tiap jenis variasi, terutama penggunaan variasi gaya mengajar, dalam bervariasi harus disesuaikan dengan materi pelajaran yang akan disampaikan agar menarik siswa untuk memperhatikan atau mendengarkan penjelasan guru.
- Variasi harus digunakan secara lancar dan berkesinambungan, sehingga tidak akan merusak perhatian siswa dan tidak menganggu proses belajar mengajar.
- Direncanakan secara baik dan eksplisit dicantumkan dalam rencana pelajaran. Jadi penggunaan variasi ini harus benar-benar berstruktur dan direncanakan. Karena variasi ini memerlukan keluwesan, spontan sesuai dengan umpan balik yang diterima dari siswa. Umpan balik ini ada dua yaitu Umpan balik tingkah laku yang menyangkut perhatian dan keterlibatan siswa dan Umpan balik informasi tentang pengetahuan dan pelajaran.
Komponen-komponen Variasi Mengajar
Dalam mengajar hendaknya menggunakan berbagai macam variasi gaya. Dengan variasi gaya tersebut, akan menjadikan siswa merasa tertarik terhadap penampilan mengajar guru. Variasi gaya mengajar guru ini meliputi komponen-komponen sebagai berikut :
Dalam mengajar hendaknya menggunakan berbagai macam variasi gaya. Dengan variasi gaya tersebut, akan menjadikan siswa merasa tertarik terhadap penampilan mengajar guru. Variasi gaya mengajar guru ini meliputi komponen-komponen sebagai berikut :
Variasi Suara
Variasi suara dalah perubahan suara dari keras menjadi
lemah, dan tinggi menjadi rendah, dari cepat menjadi lambat.
Suara guru pada saat menjelaskan materi pelajaran hendaknya
bervariasi, baik dalam intonasi, volume, nada dan kecepatan. Jika suara guru
senantiasa keras terus atau terlalu keras, justru akan sulit diterima, karena
siswa menganggap gurunya seorang yang kejam, bila sudah begitu siswa diliputi
oleh rasa cemas, ketakutan selama belajar. Masalah seperti ini yang harus
dihindari bahkan ditiadakan. Tapi kalau suara guru terlalu lemah (biasanya guru
wanita) akan terdengar tidak jelas oleh siswa dan tidak bisa menjangkau seluruh
siswa di kelas, apalagi yang duduknya dideretan belakang. Bila sudah begitu
siswa akan meremehkan gurunya, perhatian siswa terhadap materi yang diberikan
itupun kurang. Untuk itu guru menggunakan variasi suara yang disesuaikan
ndengan situasi dan kondisi. Jadi suara guru senantiasa berganti-ganti, kadang
meninggi, kadang cepat, kadang lambat, kadang rendah (pelan).
Variasi suara bisa mempengaruhi informasi yang sangat biasa
sekalipun, gunakanlah bisikan atau tekanan suara untuk hal-hal penting, gunakan
kalimat pendek yang cepat untuk menimbulkan semangat.
Pemusatan Perhatian
Perhatian menurut Ghozali adalah keaktifan jiwa yang
dipertinggi, jiwa itupun semata-mata tertuju kepada suatu obyek (benda/hal)
atau sekumpulan obyek.
Untuk dapat menjamin hasil belajar yang baik, maka siswa
harus mempunyai perhatian terhadap bahan yang diajarinya, jika materi yang
disampaikan oleh guru iru tidak menjadi perhatian siswa, maka bisa menimbulkan
kebosanan, sehingga tidak lagi suka belajar. Untuk memfokuskan perhatian siswa
pada suatu aspek yang penting atau aspek kunci, guru dapat menggunakan atau
memberikan peringatan dengan bentuk kata-kata. Misalnya : “Perhatikan
baik-baik”, “Jangan lupa ini dicatat dengan sungguh-sungguh” dan sebagainya.
Memang menarik perhatian siswa itu sangatlah tidak mudah
apalagi dalam jumlah siswa yang banyak, agar perhatian itu tetap ada perlu
adanya prinsip-prinsip yakni :
a. Perhatian seseorang tertuju atau diarahkan pada hal-hal
yang baru, jenis rangsangan baru yang dapat menarik perhatian termasuk warna
dan bentuk. Dalam pelajaran, seorang guru dapat menarik perhatian tentang
kata-kata penting pada suatu bacaan dengan memberi warna merah atau digaris
bawahi.
b. Perhatian seseorang tertuju atau terarah pada hal-hal
yang dianggap rumit. Bagi guru yang harus diingat adalah suatu pelajaran tidak
boleh tampak terlalu rumit dan guru tidak boleh mempersulit pelajaran yang
sederhana dikarenakan semata-mata untuk menarik perhatian siswa.
c. Orang mengarahkan perhatiannya pada hal-hal yang
dikehendakinya, yaitu hal-hal yang sesuai dengan minat dan bakatnya. Untuk
menimbulkan minat tersebut ada dua cara yakni dari diri sendiri dan dari luar
dirinya. Dari luar bisa saja lingkungan, orang tua dan guru. Disini gurulah
yang berhak menimbulkan atau membangkitkan minat belajar siswa baik dirumah
maupun dikelas.
Dari ketiga prinsip ini guru harus mengetahui banyak tentang
siswanya agar bisa mengarahkan perhatian siswa terhadap materi pelajaran,
sehingga siswa memiliki minat belajar yang tinggi guru dalam memusatkan
perhatian siswa bisa dengan memberikan kata-kata seperti : “coba perhatikan ini
baik-baik”, karena materinya agak sulit dan sebagainya.
Kesenyapan atau kebisuan guru (Teaching Silence)
Kesenyapan adalah suatu keadaan diam secara tiba-tiba demi
pihak guru ditengah-tengah menerangkan sesuatu.
Adanya kesenyapan tersebut merupakan alat yang baik untuk
menarik perhatian siswa. Dengan keadaan senyap atau diamnya guru secara
tiba-tiba bisa menimbulkan perhatian siswa, sebab siswa begitu tahu apa yang
terjadi dan demikian pula setelah guru memberikan pertanyaan kepada siswa alangkah
bagusnya apabila diberi waktu untuk berfikir dengan memberi kesenyapan supaya
siswa bisa mengingat kembali informasi-informasi yang mungkin ia hafal,
sehingga bisa menjawab pertanyaan guru dengan baik dan tepat.
Pemberian waktu bagi siswa digunakan untuk mengorganisasi
jawabannya agar menjadi lengkap. Tapi jika seorang guru tidak memberikan
kesenyapan atau waktu kepada siswa untuk berfikir dalam menjawab pertanyaannya
siswa akan menjawab dengan asal alias asal bicara, sehingga jawabannya kurang
tepat dengan pertanyaan. Untuk itu seyogyanya guru memberikan kesenyapan
terhadap siswa untuk memikirkan jawaban dari pertanyaan yang diajukannya supaya
jawabannya sempurna dan tepat.
Kontak pandang
Ketika proses belajar mengajar berlangsung, jangan sampai guru
menunduk terus atau melihat langit-langit dan tidak berani mengadakan kontak
mata dengan para siswanya dan jangan sampai pula guru hanya mengadakan kontak
pandang dengan satu siswa secara terus menerus tanpa memperhatikan siswa yang
lain. sebaliknya bila guru berbicara atau menerangkan hendaknya mengarahkan
pandangannya keseluruh kelas atau siswa, sebab menatap atau memandang mata
setiap anak disik atau siswa bisa membentuk hubungan yang positif dan
menghindari hilangnya kepribadian. Bertemunya pandang diantara mereka yang
berinteraksi, sesungguhnya merupakan suatu etika atau sopan santun pergaulan
karena menunjukkan saling perhatian diantara mereka.
Hal-hal yang harus dihindari guru selama presentasinya
didepan kelas :
a. Melihat keluar ruang
b. Melihat kearah langit-langit
c. Melihat kearah lantai
d. Melihat hanya pada siswa tertentu atas kelompok siswa
saja
e. Melihat dan menghadap kepapan tulis saat menjelaskan
kecuali sambil menunjukkan sesuatu.
Hal-hal diatas bertujuan supaya bisa mengendalikan situasi
kelas dengan baik.
Jadi dalam kontak pandang hendaknya guru berusaha seintim
mungkin agar siswa merasa diperhatikan dan dihargai, kontak mata yang sering
dilakukan, akan membangun dan membina jalinan tingkat tinggi, yaitu mengetahui
psikologi anak atau siswa dan mengetahui seberapa banyak pemahaman siswa
terhadap materi yang telah disampaikan. Untuk itu, pandanglah siswa-siswa anda
secara merata tapi jangan berlebihan, gunanya pandangan mata, seorang guru
adalah untuk menarik perhatian dan minat belajar siswa.
Perpindahan Posisi Guru
Perpindahan posisi guru dalam ruang kelas dapat membantu
dalam menarik perhatian anak didik, dapat pula meningkatkan kepribadian guru
dan hendaklah selalu diingat oleh guru, bahwa perpindahan posisi itu jangan
dilakukan secara berlebihan. Bila dilakukan berlebihan guru akan kelihatan
terburu-buru, lakukan saja secara wajar agar siswa bias memperhatikan.
Perpindahan posisi dapat dilakukan dari muka ke bagian
belakang, dari sisi kiri ke sisi kanan, atau diantara anak didik dari belakang
kesamping anak didik. Dapat juga dilakukan dengan posisi berdiri kemudian
berubah menjadi posisi duduk dan diam di tempat lalu berjalan-jalan
mengelilingi siswa dan sebagainya. Yang penting dalam perubahan posisi itu
harus ada tujuannya, dan tidak sekedar mondar-mandir dan seorang guru janganlah
melakukan kegiatan mengajar dengan satu posisi, misalnya saja saat menerangkan
guru hanya berdiri didepan kelas saja atau duduk dikursi saja, tanpa ada
pergantian atau variasi ini bisa menimbulkan kebosanan siswa.
Guru melakukan pergantian posisi, sebaiknya jangan kaku atau
kikuk, lakukan saja secara bebas dan wajar bisa menarik perhatian siswa, jika
guru kaku dalam bergerak ini bisa menjemukan siswa. Dan bila variasi dilakukan
secara berlebihan itu juga bisa mengganggu perhatian siswa atau konsentrasi
siswa terhadap pelajaran.
Maka dari itu gunakanlah variasi posisi ini secara wajar dan
sesuaikan dengan tujuan, tidak sekedar mondar-mandir.
Model-Model Belajar
Dalam melaksanakan variasi gaya mengajar, guru hendaknya
memperhatikan dan memahami gaya atau model-model belajar siswanya, supaya siswa
termotivasi, bersemangat dan berminat dalam belajar. Adapun model-model belajar
ada tiga macam, yaitu :
a. Visual
Bagi pelajar visual, belajar yang efektif adalah dengan
menggunakan "gambaran keseluruhan" (melakukan tinjauan umum), yakni
dengan membaca bahan pelajaran secara sekilas. Cirri-ciri pelajar visual :
1) Teratur, memperhatikan segala sesuatu
2) Mengingat dengan gambar, grafik dan warna untuk
meningkatkan memorinya
Dari ciri-ciri diatas, guru dituntut untuk lebih kreatif
dalam menyajikan bahan pelajaran, guru harus bisa menggunakan gambar, warna,
untuk menumbuhkan minat belajar siswa dan meningkatkan memori siswa terhadap
bahan tersebut. Gaya mengajar guru yang mudah mempengaruhi siswa ini adalah
kontak pandang, perpindahan posisi dan eksperimen wajah.
b. Auditorial
Bagi pelajar auditorial, belajar yang efektif adalah dengan
mendengar. Untuk itu guru disaat menerangkan dituntut untuk menggunakan
variasi, pemusatan, perhatian dan kesenyapan memudahkan dan meningkatkan
perhatian siswa dalam belajar.
Ciri-ciri siswa auditorial adalah :
1) Perhatiannya mudah terpecah
2) Berbicara dengan pola berirama
3) Belajar dengan cara mendengar
4) Berdialog secara internal dan eksternal
c. Kinestetik
Bagi pelajar kinestetik, belejar yang efektif adalah dengan
melibatkan diri langsung dengan aktifitasnya, jadi merekacenderung pada
eksperimen (gerak).
Ciri-ciri siswa kinestetik adalah :
1) Belajar dengan melakukan, menunjuk tulisan saat membaca
2) Mengingat sambil melihat langsung
Disini guru dianjurkan melibatkan siswa saat proses belajar
mengajar berlangsung, menggunakan metode eksperimen, bahasa tubuh guru
hendaknya bervariasi, supaya menarik perhatian siswa dan mempermudah pemahaman
siswa terhadap materi tersebut.
Mengenal Interaksi Edukatif
Realitas manusia sebagai makhluk sosial, ia memiliki sifat
sosial yang besar .Maka dibutuhkan suatu proses interaksi. Proses interaksi ini
dapat terjadi dalam “ikatan situasi”. Dalam pengajaranpun terjadi suatu
proses interaksi yang diupayakan berdasarkan ikatan tujuan pengajaran yang mana
tujuan tersebut telah ditentukan dan telah disistematisasikan secara terarah.
Pengertian
Pengertian
Interaksi edukatif adalah interaksi yang berlangsung dalam
suatu ikatan untuk tujuan pendidikan dan pengajaran.dalam artian yang lebih
spesifik pada bidang pengajaran dikenal dengan istilah interaksi belajar
mengajar.interaksi belajar mengajar mengandung
suatu arti adanya kegiatan interaksi dari pengajar yang melaksanakan
tugas mengajar di suatu pihak dengan warga belajar ( siswa, anak didik, subjek
belajar ) yang sedang melaksanakan kegiatan belajar dipihak lain.
Dalam setiap bentuk interaksi edukatif
mengandung dua unsur pokok; unsur
teknis dan unsur normatif . Dalam unsur normatif, antara guru ( sebagai
pendidik), dan peserta didik harus berpegang pada norma yang diyakini bersama.
Misalnya dalam pengajaran pmp guru dan peserta didik harus meyakini pancasila
sebagai falsafah hidup bangsa Indonesia.pengajaran sebagai bagian dari
pendidikan, sedangkan pendidikan bersifat normatif. Sedangkan suatu pendidikan
dapat dirumuskan pula secara teknis dan merupakan pristiwa yang memiliki aspek
teknis. Pendidikan sebagai kegiatan praktis yang berlangsung dalam suatu masa,
terikat dalam situasi, terarah pada satu tujun. pristiwa ini adalah suatu
rentetan kegiatan saling mempengaruhi, satu rangkaian perubahan dan pertumbuhan serta perkembangan
fungsi-fungsi psikis dan pisik.dalam rangkaiannya tersebut pristiwa yang menuju
kepada pembentukan itu sendiri merupakan
suatu proses teknis. Setiapaktifitas pengajaran tidak dapat dilepaskan dari
segi teknis semisal bagaimana upaya untuk membentuk manusia yang beriman dan bertakwa terhadap tuhan yang maha esa dan
berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan
dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadianyang mantap
dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Ciri-ciri
Dalam bentuknya interaksi mengandung unsur pokok diantaranya
interaksi edukatif yang bersifat nomatif. Interaksi edukatif mempunyai ciri-
ciri sebagai berikut:
Komponen-komponen
- Interaksi edukatif mempunyai tujuan;
- Interaksi edukatif memilki bahan/pesanyang menjadi isi interaksi atau sebuah materi;
- Ditandai dengan pelajar atau peserta yang aktif;
- Guru berperan sebagai pembimbing
- Memiliki metode tertentu dalam penyampaiannya untuk mencapai tujuan
- Mempunyai situasi yang memungkinkan proses belajar-mengajar berjalan dengan baik
- Evaluasi terhadap hasil interaksi
Interaksi edukatif mempunyai sejumlah komponen sebagai
berikuti:
Dalam keseluruhan proses pendidikan dan pengajaran di sekolah berlanglsung interaksi guru dan siswa dalam proses belajar mengajar yang merupakan kegiatan paling pokok. Jadi proses belajar mengajar merupakan proses kegiatan interaksi antara dua unsur manusiawi yakni siswa sebagai pihak yang belajar dan guru sebagai pihak yang mengajar. Dalam proses interaksi tersebut dibutuhkan komponen pendukung (ciri-ciri interaksi edukatif) yaitu (1) Interaksi belajar mengajar memiliki tujuan : yakni untuk membantu anak dalam suatu perkembangan tertentu. Interaksi belajar mengajar sadar tujuan, dengan menempatkan siswa sebagai pusat perhatian siswa mempunyai tujuan, (2) Ada suatu prosedur (jalannya interaksi) yang direncanakan, didesain untuk mencapai tujuan yang telah dilaksanakan. Dalam melakukan interaksi perlu adanya prosedur, atau langkah-langkah sistematik yang relevan, (3) Interaksi belajar mengajar ditandai dengan satu penggarapan materi yang khusus. Materi didesain sehingga dapat mencapai tujuan dan dipersiapkan sebelum berlangsungnya interaksi belajar mengajar, (4) Ditandai dengan adanya aktivitas siswa. Siswa sebagai pusat pembelajaran, maka aktivitas siswa merupakan syarat mutlak bagi berlangsungnya interaksi belajar mengajar, (5) Dalam interaksi belajar mengajar guru berperan sebagai pembimbing. Guru memberikan motivasi agar terjadi proses interaksi dan sebagai mediator dan proses belajar mengajar, (6) dalam interaksi belajar mengajar membutuhkan disiplin. Langkah-langkah yang dilaksanakan sesuai dengan prosedur yang sudah ditentukan, (7) Ada batas waktu. Setiap tujuan diberi waktu tertentu, kapan tujuan itu harus dicapai, (8) Unsur penilaian. Untuk mengetahui apakah tujuan sudah tercapai melalui interaksi belajar mengajar.( Titin, 2003:10)
Tujuan
Kegiatan interaksi adalah suatu kegiatan yang secara
dilakukan oleh guru, atas dasar kesadaran itulah guru melakukan kegiatan pembuatan
program pengajaran dengan prosedur dan langkah yang sistematik. Tujuan
mempunyai arti penting dalam kegiatan interaksi edukatif tujuan dapat
memberikan arah yang jelas dan pasti kemana pembelajaran akan dibawa oleh guru.
Di dalam tujuan pembelajaran terhimpun sejumlah norma yang akan ditanamkan ke
dalam diri setiap anak didik, tercapai tidaknya tujuan pembelajaran dapat
diketahui dari penguasaan anak didik terhadap bahan yang diberikan selama
kegiatan interaksi edukatif berlangsung.
Bahan pelajaran
Bahan adalah susbtansi yang akan disampaikan dalam proses interaksi
edukatif, tanpa bahan pelajaran proses interaksi edukatif tidak akan berjalan.
Karena itu bahan pelajaran mutlak harus mutlak dikuasai guru dengan baik, baik bahan
pelajaran pokok maupun bahan pelajaran penunjang dan bahan pelajaran adalah
unsur inti dalam kegiatan interaksi edukatif.
Kegiatan belajar mengajar
Kegiatan belajar mengajar adalah inti dari kegiatan dalam pendidikan
segala sesuatu yang telah diprogramkan akan dilaksanakan dalam kegiatan belajar
mengajar, dalam pengelolaan dan pengajaran kelas yang perlu diperhatikan oleh
guru adalah perbedaan anak didik pada aspek biologis intelektual dan
psikologis. Interaksi edukatif yang akan terjadi juga dipengaruhi oleh cara
guru memahami perbedaan individual anak didik ini.
Metode
metode adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan
yang telah ditetapkan. Dalam kegiatan
belajar mengajar metode sangat penting maka dalam hal ini guru harus menggunakan
metode yang bervariasi karena penggunaan metode mengajar dapat mempengaruhi perhatian
dan pemahaman anak didik, maka perlu diperhatikan tujuan berbagai jenis
fungsinya anak didik dengan berbagai tingkat kematangannya, fasilitator serta
pribadi guru dengan kemampuan profesionalnya yang berbeda-beda.
Alat
Alat adalah sesuatu yang dapat digunakan dalam rangka
mencapai tujuan pembelajaran.. Dalam kegiatan interaksi ini edukatif biasanya digunakan
alat non material dan alat material. Alat material berupa suruhan, perintah,
larangan, nasihat dan sebagainya. Sedangkan alat material adalah atau alat
bantu pengajaran berupa papan tulis, gambar, video dan sebagainya.
Sumber pelajaran
Sumber belajar sesungguhnya banyak sekali, ada dimana-mana
di sekolah, di halaman, di pusat kota, di pedesaan dan sebagainya. Pemanfaatan
sumber-sumber pengajaran tergantung pada kreativitas guru, waktu, biaya, serta
kebijakan-kebijakan lainnya. Segala sesuatu dapat di pergunakan sebagai sumber
belajar sesuai kepentingan guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Evaluasi
Evaluasi adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk
mendapatkan data tentang sejauh mana keberhasilan anak didik dalam belajar dan keberhasilan
guru dalam mengajar. Tujuan evaluasi disini adalah untuk mengumpulkan data-data
yang membuktikan taraf kemajuan anak didik dalam mencapai tujuan yang
diharapkan.
Kegiatan yang jelas
Tujuan menempati posisi yang strategis dalam kegiatan dalam kegiatan
interaksi edukatif nilai strategis adalah tujuan sebagai berikut:
1) Dapat memberikan arah kegiatan interaksi edukatif
2) Membantu memudahkan menyeleksi bahan pelajaran yang akandisampai
kan
3) Memudahkan menyeleksi metode yang digunakan
4) Memudahkan menyeleksi media dan lat bantu pengajaran
5) Menolong menyeleksi sikap, tingkah laku dan perbuatan
guru.
6) Memudahkan menyeleksi kemampuan yang di inginkan dari
anak didik
7) Memudahkan menyeleksi memberi penilaian dan memudahkan pengorganisasian
8) Kegiatan-kegiatan untuk mencapai tujuan pengajaran.
Maka dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa komponen merupakan
hal yang penting, jika semua komponen di laksanakan guru dengan baik maka guru
akan dapat mecapai tujuan pembelajaran dan komponen tersebut di jadikan acuan
dan prosedur oleh guru
Interaksi Belajar Mengajar Sebagai Interaksi EdukatifDalam keseluruhan proses pendidikan dan pengajaran di sekolah berlanglsung interaksi guru dan siswa dalam proses belajar mengajar yang merupakan kegiatan paling pokok. Jadi proses belajar mengajar merupakan proses kegiatan interaksi antara dua unsur manusiawi yakni siswa sebagai pihak yang belajar dan guru sebagai pihak yang mengajar. Dalam proses interaksi tersebut dibutuhkan komponen pendukung (ciri-ciri interaksi edukatif) yaitu (1) Interaksi belajar mengajar memiliki tujuan : yakni untuk membantu anak dalam suatu perkembangan tertentu. Interaksi belajar mengajar sadar tujuan, dengan menempatkan siswa sebagai pusat perhatian siswa mempunyai tujuan, (2) Ada suatu prosedur (jalannya interaksi) yang direncanakan, didesain untuk mencapai tujuan yang telah dilaksanakan. Dalam melakukan interaksi perlu adanya prosedur, atau langkah-langkah sistematik yang relevan, (3) Interaksi belajar mengajar ditandai dengan satu penggarapan materi yang khusus. Materi didesain sehingga dapat mencapai tujuan dan dipersiapkan sebelum berlangsungnya interaksi belajar mengajar, (4) Ditandai dengan adanya aktivitas siswa. Siswa sebagai pusat pembelajaran, maka aktivitas siswa merupakan syarat mutlak bagi berlangsungnya interaksi belajar mengajar, (5) Dalam interaksi belajar mengajar guru berperan sebagai pembimbing. Guru memberikan motivasi agar terjadi proses interaksi dan sebagai mediator dan proses belajar mengajar, (6) dalam interaksi belajar mengajar membutuhkan disiplin. Langkah-langkah yang dilaksanakan sesuai dengan prosedur yang sudah ditentukan, (7) Ada batas waktu. Setiap tujuan diberi waktu tertentu, kapan tujuan itu harus dicapai, (8) Unsur penilaian. Untuk mengetahui apakah tujuan sudah tercapai melalui interaksi belajar mengajar.( Titin, 2003:10)
Jadi dapat disimpulkan bahwa dalam mengelola interaksi
belajar mengajar guru harus memiliki kemampuan mendesain program, menguasai
materi pelajaran, mampu menciptakan kondisi kelas yang kondusif, terampil
memanfaatkan media dan memilih sumber, memahami cara atau metode yang
digunakan, memiliki keterampilan mengkomunikasikan program serta memahami
landasan-landasan pendidikan sebagai dasar bertindak.
Ketika sedang mengajar di depan kelas, terjadi dua proses
yang terpadu yaitu proses belajar mengajar. Seorang pengajar dapat mengartikan
belajar sebagai kegiatan pengumpulan fakta atau juga dapat dikatakan bahwa
belajar merupakan suatu proses penerapan prinsip.
Gagne (dalam Abdillah dan Abdul,1988 :17) mengatakan bahwa
belajar merupakan suatu proses yang dapat dilakukan oleh makhluk hidup yang
memungkinkan makhluk hidup ini merubah perilakunya cukup cepat dalam cara
kurang lebih sama, sehingga perubahan yang sama tidak harus pada setiap situasi
baru. Sedangkan Dahar (1988 :11) mendefinisikan belajar sebagai suatu proses
dimana organisme perilakunya sebagai akibat pengalaman. Belajar bukanlah
menghafalkan fakta-fakta yang terlepas-lepas, melainkan mengaitkan konsep yang
baru dengan konsep yang telah ada dalam struktur kognitif, atau mengaitkan
konsep pada umumnya menjadi proposisi yang bermakna.
Merujuk pada kaum kontruktivis bahwa belajar merupakan
proses aktif dalam mengkonstruksi arti teks, dialog, pengalaman fisik, dll.
Lebih lanjut dikemukakan bahwa belajar juga merupakan proses mengasimilasikan
dan menghubungkan pengalaman atau apa yang dipelajari dengan apa yang sudah
dipunyai seseorang. (Suparno P , 1997 :61)
Berdasarkan beberapa pendapat tentang belajar tersebut dapat
disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan individu
secara sadar untuk memperoleh perubahan tingkah laku tertentu baik yang dapat
diamati secara langsung maupun yang tidak dapat diamati secara langsung sebagai
pengalaman (latihan) dalam interaksinya dengan lingkungan. Atau dapat dikatakan
bahwa belajar sebagai suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam
interaksi aktif dengan lingkungan dan menghasilkan perubahan dalam pengetahuan
dan pemahaman, keterampilan serta nilai-nilai dan sikap.
Mengajar bukanlah kegiatan memindahkan pengetahuan dari guru
ke siswa, melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan siswa membangun sendiri
pengetahuannya. Mengajar berarti partisipasi dengan siswa dalam membentuk
pengetahuan, membuat makna, mencari kejelasan, bersikap kritis, dan mengadakan
justifikasi. Jadi mengajar adalah suatu bentuk belajar sendiri (Bettencournt,
1989 dalam Suparno P,1997 :65).
Proses belajar harus tumbuh dan berkembang dari diri anak
sendiri, dengan kata lain anak-anak yang harus aktif belajar sedangkan guru
bertindak sebagai pembimbing. Pandangan ini pada dasarnya mengemukakan bahwa
mengajar adalah membimbing kegiatan belajar anak. ”Teaching is the guidance of
learning activities, teaching is for the purpose of aiding the pupil learn” …….
( Hamalik ,2002:58).
Sehingga dapat disimpulkan bahwa belajar mengajar merupakan
proses kegiatan komunikasi dua arah. Proses belajar mengajar merupakan kegiatan
yang integral (terpadu) antara siswa sebagai pelajar yang sedang belajar dengan
guru sebagai pengajar yang sedang mengajar. Selanjutnya proses belajar mengajar
merupakan aspek dari proses pendidikan.
Berdasarkan orientasi proses belajar mengajar siswa harus
ditempatkan sebagai sujek belajar yang sifatnya aktif dan melibatkan banyak
faktor yang mempengaruhi, maka keseluruhan proses belajar yang harus dialami
siswa dalam kerangka pendidikan di sekolah dapat dipandang sebagai suatu
sistem, yang mana sistem tersebut merupakan kesatuan dari berbagai komponen
(input) yang saling berinteraksi (proses) untuk menghasilkan sesuatu dengan
tujuan yang telah ditetapkan (output).
Analisis Model Interaksi Edukatif
Interaksi edukatif adalah sebuah interaksi belajar mengajar,
yaitusebuah proses interaksi yang menghimpun sejumlah nilai (norma) yang
merupakan substansi sebagai medium antara guru dengan anak didik dalam rangka
mencapai tujuan.
Prinsip – prinsip ini diharapkan mampu menjebatani dan memecahkan masalah yang sedang guru hadapi dalam kegiatan interaksi edukatif.Untuk tiu semua prinsip yang akan diuraikan berikut ini sebaiknya guru kuasai dan pahami betul-betul agar kegiatan interaksi edukatif dapat mencapai tujuannya secara efektif dan efisien. Prinsip – prinsip tersebut adalah :
Dalam interaksi edukatif ada dua buah kegiatan yakni
kegiatan guru di satu pihak dan kegiatan anak didik di lain pihak. Guru
mengajar dengan gayanya sendiri dan anak didik belajar dengan gayanya sendiri.
Guru tidak hanya mengajar , tetapi juga belajar memahami suasana psikologi anak
didik dan kondisi kelas.
Dalam mengajar, guru perlu memahami gaya-gaya belajar anak
didik. Kerelevansian gaya-gaya mengajar guru dengan gaya-gaya belajar anak
didik akan memudahkan guru menciptakan interaksi edukatif yang konsif. N.A
Ametembun, (1985) mengatakan bahwa suatu interaksi yang harmonis terjadi bila
dalam prosesnya tercipta keselarasn, keseimbangan, keserasian antara kedua
komponen itu, yaitu guru dan anak didik.
Banyak kegiatn yang harus guru lakukan dalam interaksi
edukatif, diantaranya memahami prinsip-prinsip interaksi edukatif, menyiapkan
bahan dan sumber belajar, memilih metode, alat, dan alat bantu pelajaran,
memilih pendekatan, dan mengadakan evaluasi setelah akhir kegiatan pelajaran.
Semua kegiatan yang di lakukan guru harus di dekati dengan pendekatan sistem.
Sebab pengajaran adalah suatu sistem yang melibatkan sejumlah komponen
pengajaran. Tidak ada satu pun dari komponen itu dapat guru abaikan dalam
perencanaan pengajaran, karena semuanya saling terkait dan saling menunjang dalam
rangka pencapaian tujuan pengajaran.
Prinsip-prinsipPrinsip – prinsip ini diharapkan mampu menjebatani dan memecahkan masalah yang sedang guru hadapi dalam kegiatan interaksi edukatif.Untuk tiu semua prinsip yang akan diuraikan berikut ini sebaiknya guru kuasai dan pahami betul-betul agar kegiatan interaksi edukatif dapat mencapai tujuannya secara efektif dan efisien. Prinsip – prinsip tersebut adalah :
- Prinsip motivasi
- Prinsip berangkat dari persepsi yang dimiliki
- Prinsip mengarah kepada titik pusat perhatian tertentu atau fokus tertentu
- Prinsip keterpaduan
- Prinsip pemecahan masalah yang dihadapi
- Prinsip mencari, menemukan, dan mengembangkan diri
- Prinsip belajar sambil bekerja
- Prinsip hubungan sosial
- Prinsip perbedaan Individual
Tahap-tahap
R.D. Conners, mengidentifikasi tugas mengajar guru yang bersifat suksesif menjadi tiga tahap:
R.D. Conners, mengidentifikasi tugas mengajar guru yang bersifat suksesif menjadi tiga tahap:
Tahap Sebelum Pengajaran
Dalam tahap ini guru harus menyusun program tahunan
pelaksanaan kurikulum, program semester atau catur wulan (cawu),program satuan
pelajaran (satpel), dan perencanaan program pengajaran. Dalam merencanakan
program-program tersebut di atas perlu dipertimbangkan aspek-aspek yang
berkaitan dengan :
- Bekal bawaan anak didik
- Perumusan tujuan pembelajaran
- Pemilihan metode
- Pemilihan pengalaman – pengalaman belajar
- Pemilihan bahan dan peralatan belajar
- Mempertimbangkan jumlah dan karakteristik anak didik
- Mempertimbangkan jumlah jam pelajaran yang tersedia
- Mempertimbangkan pola pengelompokan
- Mempertimbangkan prinsip – prinsip belajar
Tahap Pengajaran
Dalam tahap ini berlangsung interaksi antara guru dengan
anak didik, anak didik dengan anak didik, anak didik dalam kelompok atau anak
didik secara individual.Tahap ini merupakan tahap pelaksanaan apa yang telah
direncanakan. Ada beberapa aspek yang perlu di pertimbangkan dalam tahap
pengajaran ini, yaitu :
- Pengelolaan dan pengendalian kelas
- Penyampaian informasi
- Penggunaan tingkah laku verbal non verbal
- Merangsang tanggapan balik dari anak didik
- Mempertimbangkan prinsip – prinsip belajar
- Mendiagnosis kesulitan belajar
- Memperimbangkan perbedaan individual
- Mengevaluasi kegiatan interaksi
Tahap ini merupakan kegiatan atau perbuatan setelah
pertemuan tatap muka dengan anak didik. Beberapa perbuatan guru yang tampak
pada tahap sesuadah mengajar, antara lain :
- Menilai Pekerjaan anak didik
- Menilai pengajaran guru
- Membuat perencanaan untuk pertemuan berikutnya
CBSA dalam Interaksi Edukatif
Cara belajar siswa aktif (CBSA) atau student active learning (SAL) bukan disiplin ilmu atau teori, melainkan merupakan cara, teknik atau dengan kata lain disebut teknologi.
Pola Pelaksanaan Keterampilan Proses dan CBSA
Pelaksanaan keterampilan proses
Cara belajar siswa aktif (CBSA) atau student active learning (SAL) bukan disiplin ilmu atau teori, melainkan merupakan cara, teknik atau dengan kata lain disebut teknologi.
Sebagai konsep, CBSA adalah suatu proses kegiatan interaksi
edukatif yang subjeknyaadalah anak didik yang terlibat secara intelektual dan
emosional, sehingga ia betul – betula berperan dan berpartisipasi aktif dala
melakukan kegiatan belajar. Pengertian ini menempatkan anak didik sebagai inti
dalam kegiatan interkasi edukatif.
Jadi, yang dimaksud dengan CBSA adalah salah satu strategi
interaksi edukatif yang menuntut keaktifan dan partisipasi anak didik seoptimal
mungkin, sehingga anak didik mampu mengubah tingkah lakunya secara lebih
efektif dan efisien.
- Penerapan CBSA dalam Interkasi Edukatif
- Derajat aktifitas belajar yang optimal
- Indikator CBSA
- Indikator Keberhasilan belajar
Pelaksanaan keterampilan proses
Keterampilan proses adalah suatu pendekatan dalam proses
interkasi edukatif. Keterampilan proses bertujuan untuk meningkatkan kemampuan
anak didik menyadari, memahami, dan menguasai rangkaian bentuk kegiatan yang
berhubungan dengan hasil belajar yang telah dicapai anak didik.
- Tujuan dan lingkup kegiatan
- Asas pelaksanaan kegiatan
- Bentuk pelaksanaan kegiatan
- Langkah – langkah pelaksanaan keterampilan proses
Pelaksanaan Cara belajar siswa aktif
- Tujuan dan ruang lingkup kegiatan CBSA
- Asas pelaksanaan kegiatan CBSA
- Bentuk pelaksanaan kegiatan CBSA
- Langkah-langkah CBSA
Keberhasilan Interaksi Edukatif
Pengertian
Pengertian
Suatu proses interaksi edukatif tentang suatu bahan
pengajaran dinyatakan berhasil apabila hasilnya memenuhi tujuan pembelajaran
khusus bahan tersebut.
Indikator
Yang menjadi petunjuk, bahan suatu proses belajar itu
dianggap berhasil adalah sebagai berikut :
- Daya serap terhadap bahan pengajaran yang di ajarkan mencapai prestasi tertinggi, baik secara individual maupun kelompok.
- Perilaku yang di gariskan dalam tujuan pembelajaran khusus (TPK) telah di capai oleh anak didik, baik secara indiviadual maupun kelompok.
Penilaian Keberhasilan
Keberhasilan interkasi edukatif biasanya di ukur dengan tes
prestasi (hasil belajar).Berdasarkan tujuan dan ruang lingkupnya, tes prestasi
belajar dapat di manfaatkan untuk penilaian berikut :
- Tes formatif
- Tes Subsumatif
- Tes Sumatif
Tingkat keberhasilan
Setiap interaksi edukatif selalu menghasilkan prestasi
belajar. Masalah yang dihadapi adalah sampai di tingkat mana prestasi belajar
yang telah dicapai.
Program perbaikan
Taraf atau tingkat keberhasilan proses interaksi edukatif
dapat dimanfaatkan untuk berbagai upaya. Salah satunya berhubungan dengan
perbaikan proses interaksi edukatif itu sendiri.
0 comments:
Post a Comment